Postingan

Kemerdekaan: Antara Tragedi dan Komedi

  Oleh: Matroni Muserang*                  Esai ini sudah saya sampaikan pada acara orasi Kemerdekaan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) PPkn STKIP PGRI Sumenep pada tanggal 17 Agustus 2022. Bagi manusia yang memahami sejarah berdirinya Indonesia, sebuah bangsa yang didirikan dari perjuangan darah, tenaga dan moral, kemudian merdeka dengan fondasinya adalah Pancasila ( ambil cepat ), orang akan paham makna Pancasila sebagai dasar Negara, filsafat negara, dan sebagai ideologi bangsa yang sudah final, yang tidak bisa dirubah-rubah atau di otak-atik oleh ideologi baru. Kemerdekaan yang ke-77 tahun ini, selalu sama dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu semarak lomba, gerak jalan, dan sederet keramaian lain yang dianggap meramaikan hari kemerdekaan Republik Indonesia artinya perayaan kemerdekaan di isi oleh pertunjukan dan perlombaan. Semarak kemerdekaan yang diisi pertunjukan dan perlombaan tanpa mempertimbangkan sp...

Merayakan “Kematian Ta’lim Bil Isyarah”

Gambar
  Oleh: Matroni Muserang*   Salah satu tanda bahwa ta’lim bil isyarah itu mati pertama tokoh agama yang tidak mengindahkan nilai-nilai keagamaan, kedua tokoh pendidikan agama islam tapi tidak mengamalkan nilai-nilai keberislaman, ketiga tokoh yang tidak mengindahkan Undang-Undang Negara sebagai rumah bersama. Ke empat tokoh yang mengagung-agungkan keturunan dan identitas sosialnya. Ke lima tokoh yang egois terhadap ilmu dan pengetahuan lain selain kitab klasik. Mari kita diskusi bersama dan tulisan ini tentu jauh dari sempurna karena saya akan refleksikan lima hal ini sependek pengetahuan saya, pertama tokoh agama yang tidak mengindahkan nilai-nilai keagamaan contohnya di dalam ajaran agama tentang jujur, tidak sombong, akan tetapi faktanya banyak di antara kita yang tidak jujur, tidak jujur ini bisa saja terjadi dimana saja, baik dalam laporan keuangan, cara membuat RAP, tidak jujur pada diri sendiri artinya sudah tahu salah masih saja dilakukan, sudah tahu lapar ti...

Darurat Keteladanan = Merayakan Kematian

Gambar
  Oleh: Matroni Musèrang   Masyarakat kini ada dipusaran keterbukaan, sehingga masyarakat pelosok pun dengan muda mengakses informasi tanpa batas. Dengan tanpa batas kita mengakses, tanpa batas pula daya konsumsi informasi menjadi asupan harian. Akhirnya asupan itu sebuah keniscayaan. Akibatnya ada yang lupa makan, lupa mengerjakan Pekerjaan Rumah, bahkan lupa shalat dan keterlupaan-keterlupaan yang lain. Ini benih awal “kematian” itu, kita tidak lagi peduli akan hal-hal yang sifatnya immateri, karena di kepung materi yang menjanjikan dan diagungkan bahkan dituhankan. Oleh karena itu, siapa yang bertanggungjawab atas hal ini, tentu ini masalah bersama, kalau lebih khusus tentu kita membutuhkan sosok yang mampu memberikan uswah (keteladanan) bagi masyarakat, kalau di pondok keteladanan bagi santri, kalau di sekolah keteladanan bagi siswa, kalau perguruan tinggi keteladanan bagi mahasiswa. Kalau kita cek, akhir-akhir justru kita dikagetkan dengan perlakuan dan pelecehan se...

Takut dan Gegabah; Sebuah Tindakan Hina

Gambar
  Oleh: Matroni Musè rang* Di tengah keserbacepatan dalam segala hal, dan di tengah kecamukketakberdayaan dada oleh serbuan teknologi yang disebabkan sains modern, kini justeru ada kitab yang menegur kita untuk tidak boleh takut dan gegabah dalam segala hal, termasuk menjalankan hidup dan kehidupan. Di dalam kitab Idatun Nasi’in yang ditulis oleh Syaikh Mustafa Ghalani sebuah kitab yang cukup menarik dan mengelitik, khususnya pemuda, dan kebetulan kitab ini dijadikan rujukan dalam kegiatan rutin MDS Lijalul Ansor Gapura Timur yang diadakan setiap bulan sekali dengan pindah mushallah ke mushalla lain se desa Gapura Timur, yang diketuai Kiai muda Mundzir Jundullah. Dan kebetulan malam ini (01/Januari/2022) bertepatan di mushallah As-Saleh Kampung Battangan. Seperti biasa, kegiatan di mulai dengan pembacaan shalawat nariyah 41 kali dan dilanjutkan pembacaan kitab. Jika seorang pemimpin takut dalam memperjuangkan rakyatnya, maka masyarakat akan tertipu bahkan masyarakat akan d...

BAHTSUL MASAIL YANG MISKIN PARADIGMA

Gambar
Oleh: Matroni Muserang*    Pada tanggal 13 Maret 2022, Acara bahtsul masail Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama Sumenep yang bertempat di desa Batudingding kecamatan Gapura tepatnya dirumah H. Alwi yang kebetulan membahas rokok illegal, dalam tulisan ini saya bukan mengacu pada hasil keputusan, tapi saya gelisah terhadap nuansa keilmuan yang dibangun ketika para mujawwib menjawab yang terlalu tekstual. Kegelisahan ini lahir ketika saya bertemu dengan maqasid al-syariah yang dibangun oleh Jasser Auda. Begini kata Auda dalam bukunya “ Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Law ” bahwa Pemikiran Maqasid al Syari’ah berawal dari kegelisahan Jasser Auda terhadap Usul al-Fiqh tradisional. Pertama , Usul alFiqh terkesan tekstual dan mengabaikan tujuan teks. Pembacaan literal dan tekstual ini merupakan dampak dari terlalu fokusnya ulama usul alFiqh terhadap aspek bahasa. Bahkan menurut Jamal al-Bana, perhatian ulama usul al-Fiqh terhadap aspek kebahasaan lebih besar ketimbang ahli b...

Dewan Kesenian Sumenep, Apa Kabar

Gambar
Oleh: Matroni Muserang*   Dulu ada acara silaturrahmi Seniman Sumenep, 200 Seniman 8 Februari 2020 di hotel Utami, saya pun di undang tapi tidak hadir dalam pertemuan tersebut disekpati pertama tidak akan membentuk dewan kesenian, karena dinilai banyak madharatnya daripada manfaatnya, kedua khawatir ada kepentingan, subordinasi, intervensi pemerintah dalam berkesenian, ketiga menghindari terjadinya bentukan seniman plat merah, plat kuning dan plat hitam, keempat membiarkan komunitas/sanggar seni berkembang sesuai habitatnya di masing-masing wilayah dimana mereka berada. Akhir-akhir ada wacana dari kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) mau membetuk Dewan Kesenian Sumenep (rri.co.id/sumenep 18 Januari 2022), dan saya membaca berita ini pada tanggal 26 Januari 2022. Sebenarnya secara pribadi saya kurang sepakat jika memang tidak akan dibentuk dewan kesenian, apalagi dibiarkan berkembang sesuai dengan habitatnya. Bagi saya berkesenian merupakan...

Pendidikan yang Tak Mendidik

Gambar
Oleh: Matroni Musèrang*   Kita sudah sampai di ruang pendidikan yang tidak lagi hitam-putih paradigmanya, akan tetapi pendidikan kita sudah sampai di kampung yang membutuhkan sinergitas. Misalnya pendidikan matematika sudah saatnya bersinergi dengan moral atau mental, sebab kalau tidak ada siniergi atau integritas maka pendidikan yang kita miliki hanya akan menjadi biang dan akan menciptakan karakter-karakter pragmatis-materialis-egois. Karakter ini akan mendiami manusia selagi manusia ini belum mendapatkan hidayah. Kalau kita cek data korupsi di Indonesia, baik yang korupsi uang, korupsi waktu, korupsi structural, korupsi kualitas bahkan korupsi program, belum lagi pengusaha yang usahanya illegal. Mereka semua manusia terdidik, pertanyaanya mengapa sikap dan karakter pragmatis-materialis-egois masih mendiami kita? Jawabannya, pendidikan yang mereka punyas tak mampu mendidik dirinya sendiri. Walau pendidikan ada, tapi pendidikan itu akan kalah oleh nafsu egois tadi. Maka penting di...