Seniman Organik: Sebuah Upaya Penyadaran

thumbnail


Oleh: Matroni Musèrang*

“Orang yang tidak mampu menikmati merdunya suara dan indahnya notasi musik, maka adanya sama dengan tidak ada, sekali pun hidup, ia mati adanya”.
Rangkaian kata yang dilantunkan oleh Syaikh Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Hikmah fi Makhuqatillah sebagai pembuka tulisan saya yang ingin menanggapi tulisan Syah A. Lathif di Jawa Pos Radar Madura pada hari Minggu 2 September 2018 “dari ladang jagung; mencari Praktik seni Penyadaran” membuat pikiran gelisah dan risau akan eksistensi seni yang “ada” di tanah Sumenep. Mengingat seni sebuah keahlian membuat karya berkualitas dan keahlian yang luar biasa. Dalam konteks ini tentu kita membutuhkan keseriusan untuk terus dan selalu belajar dan menerjemahkan seni di ranah realitas seperti yang ditulis oleh Syah A. Lathief (selanjutnya Lathief) bukan mudah kita membuat pertunjukan yang mampu menghipnotis banyak orang dan mampu menghidupkan desa yang sepi seperti di desa Nyapar. Seni dan budaya sebagai hak dan kekayaan intelektual bangsa, sangat disayangkan ketika karya kita diambil oleh orang yang tidak memiliki kreativitas dalam menciptakan seni. Ingat seni sebagai basis dasar dalam menentukan kemajuan sebuah desa bahkan bangsa.
Dewasa ini tidak “mungkin” tidak penting mengekspresikan seni dalam bentuk baju compang-camping, celana sobek, rambut panjang, perokok yang kemudian dijustifikasi sebagai seniman atau penyair, bukankah mengkontekstualisasikan paradigma seni itu lebih penting daripada sekadar ekspresi bentuk-bentuk, belum lagi kita tidak benar-benar menekuni apa itu seni. Kacau! Oleh karenanya belajar seni dan menerjemahkan ke ranah sosial merupakan yang sangat urgen saat ini di tengah semaraknya polesan bentuk-bentuk, daripada memoles dikedalaman bentuk itu sendiri. Bukankah immateri dan materi sama-sama penting. Bukankah rasio dan jiwa sama-sama penting? Kesadaran seperti itulah sebenarnya yang saat ini kita butuhkan di tengah-tengah masyarakat. Kesadaran bahwa seni ada dalam rangka menghidupkan warga, menghidupkan ekonomi, menghidupkan kemandirian, menghidupkan kesadaran.
Di sinilah pentingnya keseriusan dalam belajar, sebab keseriusan merupakan modal awal bagi seseorang untuk menjadi ahli. Artinya jangan bilang seniman jika belum mampu menghidupkan desa yang sepi, bagaimana dari ladang jagung mampu menciptakan warga bisa mendapatkan keuntungan ekonomi. Pemikiran seperti inilah sebenarnya yang diinginkan pertunjukan seni di desa-desa di Sumenep. Mencoba mengajak warga untuk berpikir mandiri melalui rangsangan seni. Seni di sini sebagai media penyampai bagi warga sehingga tercipta kesenian yang berbasis warga, kata Lathief.
Seniman yang berpikir keras untuk kepentingan warga inilah yang disebut seniman organik. Seniman yang tidak hanya berpikir seni untuk seni. Artinya seni bagi orang-orang tertentu yang suka seni, tanpa berpikir bagaimana warga yang tidak tahu seni juga menikmati meskipun mereka mengambil moment untuk berjualan di acara pertunjukan seni. Minimal pertunjukan seni merangsang warga untuk menghidupkan jiwa usaha, di samping itu ada semangat kebersamaan di antara warga yang bisa kita pelihara agar di tengah isu-isu kesemrautan yang mudah membunuh akal sehat, kata Lathief bisa diminimalisir.
Seniman organik merupakan seniman yang berupaya bagaimana seni bisa di terima tanpa ada embel-embel oleh warga di kampung-kampung, sebab seni bukan melulu eskpresi estetik akan tetapi ekspresi sebagai tanggungjawab sosial. Sebab, sejak kemunculannya, estetika tidak hanya mempelajari tentang keindahan dan kesan akan rasa indah saja, tetapi estetika juga menyangkut masalah manifestasi dari aspek-aspek yang sangat tragis, menyenangkan, dan memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Oleh karenanya hiburan yang berkualitas selalu dinanti-nantikan oleh warga dan ini tugas seniman Sumenep, agar warga tidak terjebak pada hiburan sesaat yang sarat kepentingan basa-basi sosial-politik yang hampa.
Saya sepakat dengan keinginan Latheif dalam tulisannya, namun akankah hal itu akan eksis di tengah-tengah terpaan gelombang kapitalisme material yang kini merambah ke relung-relung kampung yang ditandai dengan urbanisasi? Belum lagi kita disuguhi event-event sesaat yang hanya bisa dinikmati turis/wisatawan dan kita lupa akan potensi lokal. Potensi lokal sebagai basis seni tentu kita membutuhkan keseriusan untuk mencari dan mendata kemudian kita tampakkan ke warga melalui media seni, dan ini belum dilakukan oleh kita.
Seni merupakan intrumen untuk memberikan penyadaran kepada warga jangan sampai warga menjadi penonton dan buruh di tengah keramaian pasar dan duka sosial yang nyerih. Akan tetapi bagaimana seni hadir memberikan penyadaran bahwa hidup ini sebuah perjalan yang ringkih dan fana, kalau demikian buat apa bernafsu dan berarogansi politik dan seolah-olah seniman? Oleh karenanya seniman justeru harus bersama-sama warga untuk menjaga kebudayaannya sendiri bahkan menciptakan kebudayaanya sendiri.
Ketika pertunjukan diciptakan atas fondasi epistemologi kerakyatan kata Lathief, tanpa kepentingan ngartis dan nyalek, maka kemurnian sebuah perjuangan seniman akan terlihat di sana. Niat tulus seniman juga dipertimbangkan dalam perjuangan, yang namanya perjuangan tentu tidak ada proposal yang terbang ke dinas dan DPR. Seniman organik mampu menggerakkan warga dengan gotong-royong, artinya seniman organik menciptakan seni diterima oleh warga bukan saja ditonton oleh warga. Kalau di terima warga dengan senang hati warga akan terus menjaga dan mewariskan, kalau hanya di tonton warga, setelah di tonton hilang jejak.
Dari ini kita membutuhkan kehadiran seniman organik yang mampu menciptakan seni diterima oleh warga. Itulah cita-cita seniman organik, ia memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, inklusif, namun tidak mengesampingkan warga desa. Seniman organik ia hidup di kampung-kampung dan di desa-desa, tapi ilmu dan pengetahuannya global. Akhirnya seni untuk seni mati. Saya teringat puisi Ramadhan KH; Dan semua pengabdian Diuntukkan bagi keagungan bangsa/ Dan semua kelelahan Diuntukkan bagi kemuliaan manusia. Bahwa kerja seni bukan untuk seni, akan tetapi untuk kemanusiaan. Maka tidak penting kalau ada isu menerbitkan sertifikat seniman. Apalagi menerbitkan sertifikat ulama.

*Radar Madura, Minggu 23 September 2018

Omerta: Soneta Di Antara Kampung Dan Kota

thumbnail

SAYA sedang dalam perjalanan jauh melewati jalan Pajagungan menuju pemakaman Joko Tole di DesaLanjuk, Kecamatan Manding, Sumenep. Di perjalanan berhenti di tengah hutan ada sebuah warung yang cagaknya terbuat dari bambu, dan beratap daun kelapa yang sudah kering. Di sini saya membeli makanan yang diolah dari berbagai macam rempah seperti kacangtanah, kecambah, petis, garam, cabai rawit, cuka, udara, yang dihaluskan kemudian campuran bawang daun goreng, bihun, dan ketupat. 

Kesimpulannya, saya sedang membeli rujak yang menurut saya pasti enak, karena campurannya sudah betul. Tapi ternyata selelah saya makan, tidak seperti apa yang saya pikir kan. Meski saya kenyang.

Nah, saya membaca kitab soneta Selendang Sulaiman itu seperti saya beli rujak tadi. Selendang seba gai penjual rujak, dia paham betul apa saja bahan-bahan yang harus dipersiapkan agar rujak yang dia racik nikmat dan membuat orang ketagihan untuk membeli. Namun Selendang tidak memperhatikan bahwa untuk menjual rujak seseorang tidak hanya harus paham bahan-hahanya, akan tetapi harus memperhatikan pembeli dan tempat di mana warung itu harus didirikan.

Rujak yang nyaman tentu penjual harus memperhatikan takaran rempah-rempahnya. Khusus kacang, cabai, cuka, dan garam. Sebab, tiga rempah-rempah ini wilayahnya rasa. Di dalam soneta Sekarang ada hal yang paling penting. Rasa untuk mengolah diksi. Rasa meja diksi. Rasa menampilkan bentukdiksi. Rasa keserasian diksi satu dengan diksi yang lain. Dalam bahasa ini tampak sepele, namun ada pembeli untuk merasa, di saat yang sama melihat suatu rasa diperjuangkan. Buat apa menjual rujak jika tidak ada pembeli. Sama halnya dengan buat apa menulis jika tidak ada pembacanya.

Kitab Soneta yang berisi 33 judul, ada 3 tema besar yang disampaikan dalam bentuk soneta, yaitu kampung, kota, dan cinta. Meskipun tema ini sudah biasa dari banyak dunia, namun soneta ini masih mencari yang berbeda, masih ada kepe-leset. tapi hal itu tidak apa-apa. 

Contoh Marwani dan Maksan "namun hanya menjadi" tiga diksi ini apa artinya? Darah; dan, dan hanya, Di dalam bahasa, hanya, dan menjadi kata sambung. Tidak lebih. Namun ada tiga soneta yang saya suka dari 33 soneta di dalam kitab Soneta ini.
Kata demi nama soneta ini Berbicara kampung Selendang sendiri, Kota di mara S ^ endang berdiam Jogjakarta dan Jakarta, dan cinta yang ada di logjakarta dan jarak dari Jogjakarta ke Jakarta. Inilah yang kemudian menjadi dimensi "diri" yang mengisi ruang terdalam soneta ini. 

Akar historisitas Soneta ini jika mungkin saya awali yaitu dari kampung di mana soneta itu lahir Sungai Bui lu wan, "gunung kecil danau kecil, tempat kami mandi; anak-anak kecir, Sumur Sadri yang bercerita tentang burung Coccorong dan sapi, soneta Marwani dan Maksan yang berisi tukang landak, dan Joko Tole yang lahir dari ibunda Potre Koneng. 
Empat soneta ini adalah akar sejarah perjalanan soneta. Ini adalah hal yang lurnrah seorang penulis selalu dari akar historis kampungnya.

Sebuah kampung yang dilukiskan tanpa cinta, hanya deskripsi kampung di mana Soneta ini memulai perjalanan, tanpa ada upaya untuk masuk lebih dalam di belakang kampung yang bernama Joko Tole misalnya, yakni ketidakberhasilan dari Soneta yang membawa saya ke relung terdalam yang bernama kampung sejarah. Artinya, jika soneta ditanyakan akar filosofis Sebuah kampung soneta belum bisa menggunakan jawaban rasa haus sebagai pembaca.

Kalau keluarga yang pertama adalah kampung, orang-orang kota ini adalah anak yang hidup di kota, tempat jiwa-jiwa bergelora antara diri dan cinta, seolah-olah diri dan cinta itu berbeda dan transisi. Antara dan satu kesatuan yang tidak terpisah, ia selalu bergandeng tangan bermesraan. Adanya satu kesatuan inilah yang belum sepenuhnya dimengerti oleh Selendang. Sebab, diri ber jalan sendiri dan cinta berjalan sendiri, itu benar-benar terlihat. Misal Darah "Aku memfjertanyakan diriku pada diriku, mencari nama dan bentukpenyakitku pada sakitku, karena aku membencinya".

Pertanyaannya mengapa kenyerian jiwa itu memang muncul kompilasi Selendang ada di kota? Kalau bisa saya jawab karena kutipan akar sejarah kampung sebagai fondasi awal dalam "diri", arti nya soneta ini lupa bahwa sebuah kampung merupakan cikal-bakal kc-berlanjutan hidup dan keberlanjutan sejarah. Idealnya harus ada penyusun sejarah antara kampung dan kota, sebab antara kampung dan kota sama-sama memiliki cinta.

Kesadaran ada cinta di kampung yang tidak dapat disadari oleh Soneta ini, Penciptaan kota yang tidak memiliki tujuan, harus kepada siapa saja yang mencintai saya isbatkan. la terakhir sebuah sebutir pasir diembuskan Inulai, ke wajahmu perih asin menyengat kelopak, ber tetlgkar saling cakar dan memaki saling caci. Orang kampung hidup di kota tanpa memiliki akar kota kampung yang kuat, maka ia akan menjadi tanpa makna bahkan manusia tanpa apa-apa. 

Dengan begitu, maka seorang penulis harus hati-hati membumbui dan meracik. Dia harus mengeluarkan secara rinci bahan-bahan yang diperlukan, agar pembaca tidak bosan.
Kita menggunakan paradigma terbalik jika haruskah kampung biasa hijau? Hari ini di kampung menjadi incaran orang-orang beruang untuk mendirikan usaha, gas, perumahan misalnya. Haruskah cinta selalu muncul dalam diri? Tidak ada rnenjadi penulis, kami butuh ilmu dan pengetahuan yang luas dan panjang seperti air mata di kelopakmu. (*) 

 *Radar Madura tanggal 19 Agustus 2018

Puasa Moment Memperkuat Pendidikan Pancasila

thumbnail


Oleh: Matroni Musèrang*

Menurut K.H Hasyim Asy’ari Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan. Menurut K.H As’ad Syamsul Arifin Pancasila sebagai dasar dan falsafat Negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan, dan harus dijaga kelestariannya. Menurut K.H Ahmad Siddiq Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan. Menurut Gus Dur Pancasila bukan agama, tidak bertengan dengan agama, dan tidak digunakan untuk menggantikan kedudukan agama. 
Bulan puasa merupakan bulan dimana Sang Proklamator bangsa dan Pancasila serta NU meninggalkan kita yaitu K.H Hasyim Asy’ari pada tanggal 7 Ramadhan 1366 atau 25 Juli 1947. Sebagai santri tentu paradigma kita merujuk pada peran ulama dalam memperjuangkan NKRI dan Pancasila, salah satunya adalah K.H Hasyim Asy’ari, K.H Wahab Hasbullah, K.H Bisri Syamsuri K.H As’ad Syamsul Arifin, K.H Abd Wahid Hasyim, K.H Munawwir, K.H Abdurrahman Wahid, K. Ridwan Abdullah.
Mengapa saya menyebut ulama karena dengan beliaulah kita bisa menikmati NKRI, Pancasila bahkan sampai sekarang NKRI harga mati bagi ulama. Artinya Negara Indonesia sudah Final tidak penting lagi menciptakan negara lagi selain hanya Indonesia. Puasa dalam konteks ke Indoesiaan sebenarnya menjernihkan pemahaman kita terhadap sejarah berdirinya Indonesia yang kemudian Pancasila menjadi fondasi filosofis-epistemologis sehingga wajar jika para ulama tidak setengah-tengah untuk terus menjaga dan memperjuangkan NKRI sampai titik darah penghabisan.   
Peran ulama ini tidak setengah-tengah dalam memperjuangkan NKRI dan Pancasila. Oleh karenanya, penting kita menggunakan paradigma santri (kiai/ulama) di bulan puasa untuk betul-betul jernih dan jujur melihat bahwa NKRI ada bahkan wajib mempertahankannya. Paradigma rasional dan spiritual penting untuk diintegrasikan seperti puasa, secara dhahir kita menahan lapar dan haus, tapi sebenarnya ada nilai spiritual yang tidak kalah pentingnya untuk kita perhatikan.
Kita atau manusia mana pun selalu merindukan ketenangan dengan Tuhannya yang menandai segala dimensi eksistensialnya. Yaitu hubungan yang harmonis antara Tuhan, manusia dan semesta. Namun kini, dengan gemerlap teknologi dan sains yang betul-betul menanjakan dan memberhalakan kebutuhan material manusia, justeru semakin banyak manusia yang “gagal” menggapai puncak keseimbangannya (proporsionalitas). Ini secara keilmuan dipicu oleh hilangnya makna filosofis dan religious dari diri manusia dalam menjaga keseimbangan dialektis antara dirinya, Tuhannya, dan alamnya. Akibatnya kita kehilangan arah (oreintasi), tersesat di dunianya sendiri dan betul-betul hampa dalam menjalani kehidupan. Begitulah manusia yang tidak dapat rahmat spiritualitas.    
Pendiri NKRI dan Pancasila tidak hanya melulu menjalankan rasio, tapi juga spiritual, istikharah, puasa, maka puasa sebagai moment spiritual, penting untuk merefleksikan Pancasila dan NKRI sebagai fondasi filosofis-epistemologis kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga wilayah program dan kerja pemerintah tidak hanya ngebahas gaji, dan partai. Artinya Pancasila dan NKRI merupakan ilmu yang jika dipahami tidak akan membuat kita kehilangan oreintasi hidup dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indoneia (NKRI). Sebagai abdi negara bertanggungjawab secara sungguh-sungguh untuk menjaga martabat negara dan keadaan rakyatnya.
Puasa sebagai moment penting dalam memperkuat pendidikan Pancasila, kita tentu tahu Pancasila sudah final menjadi fondasi bangsa Indonesia, tugas kita bagaimana menjaga dan terus membaca nilai-nilai universal dari Pancasila, namun untuk membaca nilai-nilai Pancasila dibutuhkan kejujuran dan kejernihan hati dan pikiran serta keilmuan cukup. Puasa  merupakan cara manusia untuk membersihkan ”virus-virus pemikiran dan hati”, namun tidak serta-merta kita mudah menghilangkan virus tersebut, akan tetapi membutuhkan pendidikan yang cukup mampuni, tidak cukup kita menjadi pejabat negara, bupati, gebernur, BPIP dan lainnya.
Pancasila mengandung semangat untuk menumbuhkan kecerdasan kolektif, artinya sangat cocok (bahkan wajib) Pancasila dipertahankan di Negara yang majemuk seperti Indonesia. Progresifitas kecerdasan kolektif ini harus dipicu dan diupayakan dimiliki masyarakat, mahasiswa dan pemuda agar semangat keadilan sosial (moral/etika) dalam hidup di tengah-tengah keberagaman bernegara tidak mementingkan kelompoknya sendiri, ideologinya sendiri. Artinya tidak ada lagi “aku yang paling benar” “kamu yang berbeda dengan aku, harus di bunuh atau dimusuhi bahkan di cap kafir”.
Paradigma semacam ini menandakan tidak adanya pemahaman akan Pancasila, sudah jelas-jelas kita beragam dan majemuk mau menggantikan Pancasila. Oleh karenanya keberagaman paradigmatik-dielektik pelan dipelajari untuk mendamaikan hati dan pikiran ketika ada yang berbeda paradigma di antara kita.   
Kecerdasan kolektifitas ini harus didukung oleh semangat keilmuan kita, artinya menjadi santri, menjadi mahasiswa, menjadi guru, menjadi kiai, menjadi dosen, menjadi pejabat bangsa dituntut oleh Pancasila itu sendiri agar terus membaca dan belajar untuk mencerdaskan bangsa, menjaga kemakmuran sosial-kemansyarakatan, menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila. Dalam hal ini pendidikan (prodi PKN, misalnya) memiliki posisi trategis dalam menyebarkan dan menyuburkan ideologi dan nilai-nilai Pancasila di Indonesia bahkan dunia.


*santri Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, alumni pesantren An,In’Am Banjar Timur dan alumni pesantren Hasyim Asy’ari Yogyakarta, sekarang menjadi dosen di prodi PPKN STKIP PGRI Sumenep.
  


Puasa: Sebuah Momen Kebersamaan

thumbnail
puasa bulan penuh berkah
aku sambut dengan harakah
aku lantunkan huruf-huruf semesta
cakrawala malam berhias gemintang
jiwa-jiwa gemetar
lantaran bulan ini hadir
untuk menyapa jiwa yang gersang
semoga kita mampu berenang
di bulan samudera senang
bersama benang yang dikenang
PUISI selalu mampu menyampaikan apa yang dikatakan imajinasi. Kata-katanya lembut dan santun. Seperti puasa yang sedang kita jalani. Ia hadir membawa kebaikan-kebaikan dan pengampunan sehingga jiwa-jiwa hamba terenyuh lantaran kesejukan puasa yang hadir di bulan kita. Bulan yang diperuntukkan bagi semua umat Islam. Namun, puasa tahun ini dibuka dengan kejadian memalukan di Surabaya.
Puasa kali ini berbeda dengan puasa tahun-tahun kemarin. Puasa kali ini disuguhkan dengan bom bunuh diri di Surabaya. Bagi umat Islam, bom tidak menjadikan puasa hilang ditelan propaganda dan cacian. Sebab, ia akan mengotori kertas puasa yang putih.
Karena itu, puasa merupakan momen kebersamaan. Kebersamaan dengan keluarga dan tetangga. Bahkan kebersamaan dengan Allah. Setiap selesai salat lima waktu selalu dihiasi lantunan bacaan Alquran. Setiap malam dan siang cakrawala ramai dengan huruf-huruf semesta.
Kita akan berpikir ketika hendak bepergian ke suatu tempat. Setelah aku sampai di sana, aku akan mudah mendapatkan kebaikan dan kemaslahatan. Begitu pun dengan puasa. Puasa sebenarnya sebuah tempat kita bertempat tinggal bersama di perkampungan Tuhan. Maka, wajar jika setan dipenjara.
Siapa yang mampu memenjarakan setan? Tentu nilai-nilai dan makna puasa kita. Nilai-nilai puasa, salah satunya, kita menyadari betul bahwa tubuh ini tidak ada apa-apanya. Tubuh hanya sebuah bungkus. Sejatinya adalah nilai-nilai.
Bungkus bisa saja diperindah dan dipercantik dengan usapan bedak dan kostum yang kini beredar di pasar, grup WA, dan FB yang menawarkan berbagai macam bungkus. Hakikatnya, puasa bukanlah bungkus yang bisa dibeli di pasar, mal, dan swalayan. Tetapi, apa yang ada di balik bungkus (immateri/metafisika) yaitu moral/etika.
Nilai puasa di balik kerepotan ibu-ibu di dapur dan ramainya pembicaraan tentang baju di teras rumah membutuhkan refleksivitas kritis dari seorang hamba yang berpuasa. Pernak-pernik puasa di tepian jalan dan media sosial seolah-olah kita tidak sempat berpikir tentang makna puasa. Sebab, yang menjadi pembicaraan ”nanti buka apa”, ”buka di mana”, pasar, pantai, dan kafe menjadi pelarian. Padahal ”ingin ini”, ”ingin itu”, pada hakikatnya lapar.
Apakah puasa hanya lapar, haus, capek, dan lelah? Tidak. Puasa merupakan sebuah refleksivitas sosial. Sebab, pada bulan puasa dibuka lebar pintu kebaikan. Akankah kita melewatkan pintu kebaikan ditutup dengan tirai penyesalan?
Puasa untuk meningkatkan kualitas sosial. Meskipun kita dikatakan Allah bahwa ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S Al-Isra’;70). Apakah dengan serta merta kita sebagai anak Adam mulia di hadapan manusia dan Tuhan? Tidak semudah itu. Tuhan menciptakan syariat-syariat yang harus dilakukan hambanya. Salah satunya adalah puasa.
Artinya, membutuhkan perjuangan (jihad) untuk menjadi manusia yang dimuliakan Tuhan. Perjuangan di sini harus melewati jembatan syariat. Bukan lantas ngebom dianggap jihad. Itu salah besar, bahkan dosa besar.
Puasa sebagai bagian syariat tentu tidak mudah menjalankan. Dibutuhkan pemahaman mendalam. Bahwa puasa benar-benar diwajibkan agar tidak sekadar formalitas tahunan. Momen kebersamaan ini harus dimaknai spiritual. Bagaimanapun puasa pada dasarnya spiritual. Kita puasa untuk memenuhi perintah Tuhan. Momen seperti inilah yang harus selalu menjadi keseharian dalam berpuasa.
Keseharian selalu dipenuhi zikir dan pikir agar kita tidak masuk dalam sabda Nabi Muhammad, bahwa banyak orang yang berpuasa, tapi hanya mendapatkan haus dan lapar. Sabda ini mengandung makna yang dalam. Buat apa puasa, jika hati dan pikiran kita belum puasa? Hati dan pikiran juga harus berpuasa. Kalau puasa mulut dan perut tentu haus dan lapar.
Puasa pikir dan spiritual merupakan puasa yang memberikan gizi teo-ontologis. Pikiran tidak lepas berpikir tentang makna puasa. Sementara hati selalu dihiasi dengan bacaan-bacaan Ilahi (Alquran). Sehingga ketika puasa selesai, jiwa dan pikiran kita benar-benar meraih kemenangan hakiki.
Kita mengemban tugas Tuhan. Puasa yang ditugaskan kepada kita tentu harus dijaga dan dilestarikan agar tugas itu tidak mati ditelan zaman dan waktu yang pelan-pelan hilang lantaran ulah kita. Kebersamaan ini menjadi penting untuk menjaga moral sosial-religius.
Kita bisa terbang dengan sayap derajat sosial-religius. Sementara burung akan terbang dengan sayapnya. Maka, sayap sosial-religius yang akan mengantarkan kita pada kedalaman puasa yang kita jalani.
Momen puasa kali ini merupakan ruang bagi kita untuk membangun hubungan baik dengan manusia. Di bulan ini pula Alquran diturunkan. Betapa mulia bulan ini. Jangan-jangan lebih mulia bulan puasa daripada manusianya?
Untuk berdamai dengan alam, tentu kita harus berdamai dengan manusia. Untuk berdamai dengan manusia, tentu kita harus berdamai dengan Tuhan. Untuk berdamai dengan Tuhan, tentu kita harus berdamai dengan manusia dan alam. 
Sumber: https://radar.jawapos.com/radarmadura/read/2018/05/22/75318/puasa-sebuah-momen-kebersamaan 

Politik Genosida

thumbnail
aku lupa siapa sebenarnya aku
diri lupa siapa sebenarnya diri

kita lupa siapa sebenarnya kita
engkau lupa siapa sebenarnya engkau

kami lupa siapa sebenarnya kami

***
aku lupa siapa sebenarnya yang lupa
diri lupa siapa sebenarnya yang lupa


kita lupa siapa sebenarnya yang lupa
engkau lupa siapa sebenarnya yang lupa

kami lupa siapa sebenarnya yang lupa

***

aku beragama, tapi lupa makna agama
aku beriman, tapi lupa cara mengucapkan

aku berbangsa, tapi lupa cara menyapa
aku bernegara, tapi lupa cara bergaya

aku hanya bisa melupa,
aku hanya bisa berkata,
aku hanya bisa berbisa
tapi lupa sejarah

14 Maret 2018

Syiir Untuk Guru Budi

thumbnail

Puisi Matroni Musèrang*



ingin kulukis wajah siswa
dari tinta puisi yang megah.

tapi,
di tepi lain waktu
dinantikan namanya
dengan hasrat yang sepi.

di tepi lain waktu
sesuatu menangis di cakrawala
suara-suara membangun sejarah.
ia mengabdikan diri
untuk keabadian

Sumenep, 9 Februari 2018


*Kelahiran Sumenep, tinggal di Sumenep,


Seni: Sebuah Inklusivitas Paradigmatik

thumbnail

Oleh: Matroni Muserang*

TANGGAL 4 Januari 2018 di ruang dosen STKIP PGRI Sumenep saya dikejutkan dengan ramai-ramainya dengan penghargaan kepada Fendi Kachonk (penerima Sumenep Awards 2017 kategori tokoh sastra, Red). Di ruangan itu ada Moh. Ridwan, Tika Suhartatik, dan dosen lain bilang, ”Matroni, kenapa kamu kalah?”
”Kalah sama siapa?”
”Sama yang mendapat penghargaan.”
”O, itu,” jawab saya.
”Yang pantas itu kamu, Matroni. Bahkan terjadi perdebatan di Facebook,” katanya. Saya tidak tahu apa yang menjadi perdebatan itu. Sebab saya sudah lama tidak aktif di dunia maya.
Dari sini kemudian saya terus berpikir sambil menjaga UAS di ruang 7. Di ruang 7 inilah sambil membaca novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Apa hubungan saya dengan penghargaan itu? Apakah karena saya memang sejak kecil suka seni dan menulis sastra? Apakah karena saya menjadi bagian dari Sanggar Kencana, Sanggar ASAP, Sanggar Relaxa, SEMENJAK, dan Lesbumi di Gapura? Apakah karena selama 15 tahun saya menjadi pembelajar sastra dan seni? Apakah karena selama 10 tahun di Jogjakarta saya hidup bersama sastra?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak saya hiraukan. Sebab, berdebat tentang satu orang karena mendapat penghargaan itu akan membuang-buang energi. Kalau misalnya ada yang lebih pantas, mana lebih pantas dengan takdir dan keberuntungan? Tentu lebih pantas takdir dan keberuntungan.
Fandi Kachonk sudah ditakdirkan Tuhan untuk mendapatkan penghargaan. Lantas apa penting kita perdebatkan? Tidak ada. Kecuali saya sendiri bersyukur bahwa adanya penghargaan merupakan manifestasi dari eksistensi seni dan sastra Sumenep hidup dan dilestarikan.
Tentu semua pelaku seni dan sastra Sumenep bersyukur. Namun penghargaan tidak lantas membuat daya paradigma kita melempem, sehingga daya kritis kita tertutup. Tidak ada prestasi apa pun di dunia yang penting dibanggakan. Setiap proses kreatif seseorang memiliki jalan tersendiri. Capaian-capaiannya pun pasti berbeda.
Seni dan sastra salah satu jalan bagi kita untuk meneruskan peradaban dan kebudayaan dunia. Sastra didalami untuk memperhalus daya pikir. Kita benar-benar berpikir secara filosofis, berpikir yang tidak hanya dipermukaan, akan tetapi di kedalaman-di kedalaman kata-kata. Saya sepakat apa yang pernah diteliti Nicholas G. Carr bahwa kita tidak boleh berhenti di permukaan atau bahasanya Carr, the shallows (kedangkalan). Pelaku seni dan sastra harus menghindari kedangkalan. Di sinilah pentingnya keseriusan dalam berproses dan membaca.
Pelaku seni dan sastra bukan hanya mengendarai perahu. Kita memiliki tugas untuk menyelam di lautan kata-kata agar perdebatan yang membuang-buang energi tidak terjadi. Saya yakin perdebatan terjadi karena ”dia” tidak mendapatkan penghargaan. Padahal kalau kita menyadari bahwa proses kreatif, membaca buku, itu lebih penting dari sekadar perdebatan.
Penghargaan yang baru ada pada 2017 merupakan salah satu usaha pemerintah untuk berkomunikasi dengan seniman dan sastrawan Sumenep. Kita menyambutnya dengan baik. Akan tetapi, penghargaan itu akan menjadi ”jebakan” yang melenakan seniman dan sastrawan jika penghargaan merupakan hasil akhir dari proses kreatif. Ini akan berbahaya. Di satu sisi ini baik jika pemerintah sudah mulai melirik seniman dan sastrawan Sumenep. Sebab, visit tanpa kehadiran sastrawan dan seniman seperti rujak tanpa garam. Seperti rumah tanpa atap.
Di sisi lain, akan ”buruk” jika paradigma seniman dan sastrawan tidak inklusif. Tidak dibangun untuk lebih kritis dalam membaca perjalanan perkembangan sastra dan seni di Sumenep. Di sinilah pentingnya historisitas keilmuan sastra dan seni di Sumenep. Kalau kita menutup mata dan telinga terhadap sejarah, moral paradigmatik dan moral sastra, serta seni di Sumenep akan terkotak-kotak (pragmatis), berjalan sendiri-sendiri, tidak menemukan harmoni yang mampu menyatukan dan menjaga Sumenep sebagai sebuah kota yang berperadaban.
Padahal, sastra dan seni mengandung nilai-nilai moral dan etika yang substansial. Nilai-nilai inilah yang termanifestasi dalam keseharian sastrawan dan seniman. Sumenep memiliki potensi luar biasa di dalam sastra dan seni, maka penting ini untuk ditransformasikan dan dikembangkan dari komunitas dan sanggar di sekolah dan pesantren. Inilah rumah-rumah yang sampai hari ini menjaga eksistensi sastra dan seni di Sumenep.
Untuk itulah, paradigma kesusastraan dan kesenian juga harus di-update. Sebab, bukan hanya Facebook, BBM, WA, dan Twitter yang harus di-update. Akan tetapi, paradigma kita juga harus di-update agar tidak jauh dari ”derita rakyat” kata W.S Rendra. Agar tidak kedaluwarsa pengetahuan kita. Saya sendiri tidak mempersoalkan perdebatan itu. Sebab, itu bagian dari proses kreatif. Hanya, yang dikhawatirkan, kita larut dalam perdebatan yang pada akhirnya melahirkan kebencian-kebencian sesama seniman dan sastrawan.
Saya yakin seniman dan sastrawan Sumenep paham bahwa di dalam sastra dan seni tidak ada pelajaran untuk membenci, memusuhi, dan mengidolakan satu orang. Apalagi merasa paling seniman dan sastrawan di antara seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan yang lain. Tidak banget!.
Sekali lagi, paradigma historisitas sastra dan seni penting bagi seniman dan sastrawan, khususnya di Sumenep. Agar, benih-benih sastra dan seni di Sumenep memiliki inklusivitas dalam menjalani proses kreatif. Dengan begitu, tumbuh generasi yang lemah lembut, moralnya baik, ritualnya baik, etikanya baik. Bukan yang tidak baik. Sudah baik.
Saya hanya mengingatkan supaya saya nanti juga diingatkan. Kita sama-sama mengingatkan dalam belajar seni dan sastra. Semoga sastra dan seni Sumenep lebih baik.
*Seniman, dosen STKIP PGRI Sumenep. Pengelola Sanggar Kencana, ASAP, RELAXA NASA, dan SEMENJAK Gapura.

Memcoba Memahami Mentalitas Budaya

thumbnail

Oleh: Matroni Musèrang*

Pada dasarnya apa yang disebut mentalitas budaya adalah keberagaman paradigma yang tidak hanya satu-dua disiplin ilmu pengetahuan untuk merumuskan. Namun, jika kita perpegang teguh pada budaya sendiri bahwa  jika ingin memperbaiki bangsa, maka perbaikilah kebudayaannya, dalam hal ini tentu ada bahasa, etika, dan sastra maka “mentalitas budaya” memiliki kaitan erat dengan bahasa. Bahkan mentalitas budaya kerap kali ditentukan oleh bagaimana menghidupi, perhatian, pengelolaan, dan dikembangkan.
Menurut Manneka Budiman apa yang terjadi pada tahun 1998 yang menjadi momentul perubahan, yang ditandai tidak hanya runtuhnya kekuasaan tidak puluh tahun lebih orde Baru tetapi hura-hara sosial yang menorehkan satu luka sejarah dalam perjalanan Indonesia menuju mada depan? Ada banyak euforia perubahan dan diyakini sejak 1998 terjadi perubahan sosial, kultural dan politis di Indonesia.
Di sisi lain betul ada perubahan, namun tidak ke arah yang lebih memungkinkan Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Demokratisasi semakin hari semakin membuka ruang terhadap radikalisme agama yang berwujud pada bermunculnya peraturan daerah yang bernuansa cenderung memarjinalkan perempuan, kata Noerdin 2002. Artinya capaian-capaian yang Indonesia lakukan masih mengandung tanda tanya besar.
Ilmu dan pengetahuan seharusnya membuat manusia Indonesia semakin makmur sentosa dan adil dalam membangun fondasi mentalitas budaya. Mental budaya penting untuk dikembangkan dalam pikiran dan nurani manusia. Mengingat banyaknya siswa dan mahasiswa semakin hari justeru semakin jauh dari proses belajar yang baik, sudah tidak lagi suka membaca, kemandirian dalam mencari buku dan referensi pun jarang, untuk mengatakan tidak ada. Google justeru dijadikan bank penyelamat tugas-tugas siswa dan mahasiswa tanpa dibarengi analisis-kritis, sehingga hasilnya mentah dan gersang.
Mental seseorang jika tidak pernah di siram dengan nilai-nilai kebudayaan, ia akan menjadi pohon yang layu, daunnya gugur satu persatu, kemudian pohonnya kering dan mati. Kalau bangsa tidak pernah di siram dengan mental yang penuh kepedulian sosial-kemasyarakat yang tinggi, kita hanya menunggu waktu kehancuran moral, dan  mental manusia Indonesia.
Mental manusia seperti pohon yang ingin kita tanam, kalau kita menanan ke tanah yang gersang, tanpa pupuk dan air, dapat dipastikan pohon yang ditanam tersebut tidak akan berbuah dengan baik. Untuk penting kemudian memperbaiki tanah air Indonesia agar mental kebudayaan masyarakat itu menjadi subur dan menyejukkan.
Kesejukan mental budaya budaya dikarena rerimbung daun-daun yang hijau. Rerimbun itu bernama mentalitas budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan para pemimpin bangsa Indonesia. Kita tahu bahwa Indonesia bukanlah negara miskin, akan tetapi Negara yang luar biasa kaya, alam yang subur. Sumenep bagian terkecil Indonesia kita tahu bahwa ada banyak titik gas, dan oksigen itu baru sebagian kecil. Bagaimana kalau sebagian besar, seperti Papua, Kalimantan dan Jawa misalnya.
Kalau banyak di antara manusia yang mudah terpengaruh dan dipengaruhi itu diakibatkan karena mentalnya keropos dan melempem. Maka wajar jika Indonesia kaya, akan tetapi kemiskinan semakin meningkat, korupsi meraja banyak. Apakah koruptor tidak memiliki ilmu dan pengetahuan? Mereka di pilih rakyat karena menjadi calon, dan menjadi calon harus memiliki ijasah (tidak tahu kalau ijasanya beli), yang jelas koruptor itu berilmu, akan tetapi tidak memiliki mental budaya.
Revolusi mental yang ditelorkan Joko Widodo benar adanya, karena di saat revolusi mental digaungkan pemimpin kita berada di tengah padang sahara yang gersang, maka revolusi mental penting bagi para pemimpin, agar pemimpin kita tidak hanya memiliki kekuasaan, akan tetapi kekuasaan digunakan untuk memperbaiki keadaan manusia. Kekuasaan adalah tanggungjawab kemanusiaan.
Tanggungjawab kemanusiaan hari ini sangat mahal harganya bahkan tidak dapat di nilai dengan angka. Dikatakan mahal karena sampai hari ini masih banyak pemimpin kita yang haus kekuasaan, namun gersang tanggungjawab kemanusiaan. Mereka lebih memilih mementingkan kelompoknya sendiri, sehingga wajar kalau dilarang agar tidak memiliki mental materialis-pragmatis.
Mentalitas merupakan cara dan kampung tujuan kemanusiaan. Di sana cita-cita Pancasila ada, menggelantung di pohon-pohon budaya, hanya orang-orang yang bisa mengambil dan naik ke pohon mental itu. Koruptor tidak mungkin bisa, pemimpin yang tidak tanggungjawab juga tidak bisa. Sebab pohon mental budaya hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang bijak dalam memimpin dan tanggungjawab terhadap kekuasaannya. Apalagi memohon kenaikan gaji yang terus di tuntut sementara tanggungjawab belum sepenuhnya dilakukan. Aneh.
Orang yang mentalnya keropos dan melempem biasa loginya tidak jalan. Sudah bersalah, tertawa, sudah tahu mencuri masih tertawa. Rumus kepemimpinan itu pertama mental, artinya sebelum mendaftar menjadi calon pemimpin, mendidik mental itu penting, agar tidak melulu materi yang menjadi tujuan, kedua kekuasaan, ketika menduduki suatu kekuasaan, tujuannya adalah untuk mengabdi kepada rakyat dan Tuhan Yang Maha Esa, ketiga tanggungjawab kemanusiaan, pemimpin memiliki tanggungjawab yang besar terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keempat pemimpin itu adalah pembantu kemanusiaan, mengapa pemimpin di pilih rakyat agar semua kebutuhan rakyat dipenuhi, bukan justeru pemimpin itu menuntut rakyat dan menutut gaji.
Merekontruksi paradgima mentalitas budaya menjadi sangat urgen untuk Indonesia sekarang dan di masa akan datang. Semoga generasi pemimpin kita lebih baik dalam menata niat, menata mental, menata sejarah dan menata kepemimpinan.



Madura, 4 November 2017, jam 21;03 

Proses Kreatif dan Gerakan Sastra Kampung

thumbnail

Oleh: Matroni Musèrang*

Bagi saya sastra, khususnya puisi sebuah perjalanan mistik. Mistik di sini harus dimaknai secara luas yaitu mistik yang membuka diri (inklusivitas) terhadap penyingkapan dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari. Artinya sastra mistik di sini bukan sastrawan yang harus menyendiri, tertutup diri (ekslusif), akan tetapi membuka diri terhadap berbagai fenomena kehidupan (kemanusiaan), dan keilmuan filsafat, budaya, seni, politik, dan agama, lebih-lebih sastra agar kita tidak “iri” terhadap seseorang dan institusi apa pun. 
Belajar sastra juga belajar isi semesta. Sejak tahun 2004 saya belajar sastra di Madrasah Aliyah, masa dimana saya tidak tahu bahwa sastra selalu berkaitan dengan keseharian semesta. Kesadaran bahwa sastra berbanding lurus dengan keseharian semesta, pada tahun 2005 saya masuk pondok pesantren Hasyim Asy’arie, jalan Minggiran MJ II, Krapyak, Yogyakarta.
Di sana saya diajari membaca diri, membaca realitas. Diajari cara mandiri, dijari cara mendidik mental yang kuat. Sebab prinsipnya “Gengsi itu tahi kucing” kata Gus Zainal, pengasuh dan guru saya di sana. Dari tesis guru inilah saya memiliki semangat untuk terus membaca dan menulis. Karena bagi Gus Zainal orang yang sukses adalah orang yang mampu mensukseskan orang lain (khairunnas anfa uhum linnas). Artinya proses kreatif tidak akan bermakna apa-apa jika hanya untuk pribadi, akan tetapi proses kreatif itu berbagi ilmu pengetahuan, dan pengalaman bagi generasi bangsa.
Selama sepuluh tahun saya belajar di Yogyakarta, membaca puisi di UGM, di Taman Budaya Yogyakarta, di Tembi Rumah Budaya, di UNY, di UIN SUKA tempat saya kuliah, di Teater Eska, di Nol Kilomiter, di pendopo Lkis, menulis di koran lokal dan nasional dan diskusi-diskusi sastra, budaya, pendidikan, filsafat pun saya nimbrung sekedar untuk mengisi rohani kepenyairan saya. Sebuah karya besar tidak serta-merta lahir tanpa proses rohani, jadi benar apa yang dikatakan oleh penyair berkewarganegaraan Inggeris kelahiran Amerika T.S Eliot yang dikutip oleh Muchtar Lubis dan dikutip lagi oleh W.S Rendra: “Kesusastraan diukur dengan kriteria estetis, sedang kebesaran karya sastra diukur dengan kriteria di luar estetika”.
Tahun 2005 Yogyakarta masih kuat dengan wacana sosial, gerakan dan aktivis kemanusiaan, diskusi bagitu massif, sehingga di tahun 2006 saya resmi menjalani masa-masa menjadi mahasiswa. Manusia mahasiswa adalah manusia yang murni logika dan wacana, namun logika tanpa rasa bahaya, rasa pun bahaya tanpa logika. Filsafat yang saya pelajari sejak 2005 sampai tahun 2014 bukanlah proses yang mudah saya lalui, proses mengisi rohani dan pikiran itu bukanlah jalan mulus dan lurus, akan tetapi dibutuhkan ketekunan dan kesungguhan untuk menata jalinan filsafat dan sastra. Sebab sastra merupakan integrasi antar pikir dan zikir (rohani/mistik). Untuk itulah “kengerian jiwa yang kau mengerti apa, adalah tanda keberhentian waktu”
Sepuluh tahun sebuah perjalanan, kadang naik dan kadang juga turun. Lapar, malas, dan seolah-olah putus asa. Semua saya jalani dengan penuh keseriusan. Saya yakin likuan perjalanan itu pasti memiliki makna yang diberikan kepada saya. Hanya menunggu waktu saja. Mendapatkan penghargaan terhormat dari MASTERA merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, di samping ini juga bagian dari proses kreatif saya ke depan.
Setelah melewati sepuluh tahun di Yogyakarta, pada tahun 2015 sampai sekarang saya memutuskan untuk pulang dan menetap di Sumenep, tempat dimana saya dilahirkan. Di pulau Garam inilah saya meneruskan rohani kesusastraan yang dimulai dengan gerakan kesusastraan dari komunitas kecil seperti ASAP yang beranggotakan siswa putra MA, Sanggar Kencana yang khusus siswa putri di sana saya ikut belajar bersama, sharing pengalaman proses kreatif.
Dari komunitas-komunitas kecil inilah kemudian, lahir gagasan untuk mendirikan komunitas SEMENJAK yang memiliki tujuan jalan-jalan ke sekolah-sekolah se-timur daya yang ada komunitas menulisnya, kalau tidak ada, kami dari SEMENJAK berusaha untuk mendirikan dan kami siap datang untuk terus memantau perjalanan komunitas yang ada di sekolah. Komunitas SEMENJAK memang memiliki agenda untuk jalan-jalan ke daerah se-timur daya, saya juga ikut sharing bersama di Ngopi Sastra dan Alhamdulillah sudah berlajan.
Agenda untuk menumbuhkan “rasa rohani” melalui jembatan sastra merupakan hal paling mendasar dari manusia. Dikatakan paling mendasar karena itu menyangkut masa depan manusia baik yang aktual maupun yang spekulatif, yang rohani maupun yang jasmani, yang filosofis maupun sosial-budaya-ekonomi-politik, yang mistik maupun yang logis, artinya yang menyangkut kebutuhan dasar manusia sebagai totalitas. Totalitas ini penting, agar berjalan bersama sastra itu tidak jenuh (main-main), banyak di antara teman-teman saya yang lebih memilih ekonomi-politik daripada sosial-filosofis, sehingga mereka berhenti di tengah jalan menjadi penyair. Alasanya karena dunia rasa adalah dunia tanpa tepi. Inilah yang mengantarkan Imam Al-Ghazali menyerang para filosof itu tersesat.
Agenda dari jalan-jalan ini salah satunya menciptakan cinta baca bagi anak-anak SMP/Mts atau MA/SMA. Saya yakin dengan membaca siswa-siswi akan mampu mengusai pelajaran dengan baik dan akan menjadi manusia yang terdidik di masa depan. Membaca kebutuhan mendasar manusia. Membaca juga melatih kepekaan. Kepekaan inilah yang akan mengantarkan kita keperkampungan sastra. Maka setiap karya yang lahir pada akhirnya lahir dengan baik, karena berangkat dari proses pembacaan kreatif-realis.
Karya yang besar dan gagasan yang besar selalu berkaitan dengan kebutuhan dasar itu. Apakah ada maknanya sastrawan menggarap hal-hal kecil yang ada dikampungnya? Tentu tidak semua gagasan besar memiliki wadah yang besar. Orhan Pamok justeru sengaja mengambil hal-hal kecil di Istambul untuk mengutarakan gagasannya mengenai kemanusiaan Istambul, ada juga Anton Chekov sebagaimana dikutip WS Rendra yang sengaja memakai peristiwa kecil dan datar untuk mengutarakan gagasannya mengenai hubungan jalan hidup manusia yang konyol dan macet dengan keterbatasan kebudayaan kota kecil di daerah yang jauh dari ibu kota.
Kampung halaman dewasa ini menjadi momok yang eksotik, banyak orang-orang borjuis berlomba-lomba ke kampung mencari tempat sejuk, indah dan damai, sementara yang di kampung pergi ke kota. Orang kampung mencari gagasan besar di kota sehingga sastrawan yang “sok penyair” tertipu dengan gagasan besar yang katanya lahir di kota, padahal “daya kesusastraan/rohani kesusastraan” berada di kampung-kampung, di desa-desa.  
Oleh karenanya puisi yang lahir adalah puisi yang tidak anti realitas, akan tetapi lahir dari realitas. Maka lahirlah gagasan untuk mendirikan Komunitas Sastra Melawan. Yang memiliki tujuan berbeda dengan komunitas ASAP, SEMENJAK, ngopi sastra dan sanggar Kencana. Komunitas Sastra Melawan merekam kegelisahan-kegelisahan fenomena ketidakadilan, “pemaksaan” pembelian tanah, maraknya pendirian tambak udang di tepian laut dan maraknya pembelian tanah oleh investor asing.  
Kegelisahan Komunitas Sastra Melawan lahir dari bahasa peristiwa dan “rasa peristiwa”, bukan “rasa pemaksaan” diksi. Sajak yang dituliskan seperti sajak “Tanah Jimat” yang dikenal orang Madura dengan “Tanah Sangkol” salah satu contoh penyair harus bersuara. Dasar keterlibatan sajak itu adalah moral (tèngka kata Madura) dan akal sehat, sehingga lahir sifat untuk tidak menjual tanah. Sarana diluar estetika yang saya pakai adalah filsafat kemanusiaan, dan filosofi orang tua Madura yang penuh nilai dan etika. Di situ bagi saya untuk memberikan sokongan bahasa peristiwa kepada pembaca yang masih “tidur” dari kesadaran akan pentingnya makna tanah bagi kelangsungan anak cucuk kita (kemanusiaan).  
Akan tetapi, untuk menulis sajak-sajak yang terlibat dalam persoalan sosial-kemasyarakatan, saya tidak bisa hanya menggunakan filsafat an sich. Saya harus memakai ilmu tentang tanah, termasuk riset akan data dan fakta serta disiplin ilmu pengetahuan yang lain, seperti sosiologi, antropologi, filsafat, sejarah, hermeutik dan lainnya. Bukan hanya sekadar duduk manis di kamar, berspekulatif, tapi sarana yang kongret dan logis. Sebab itulah “isi” dalam sebuah karya. Dari dulu saya memang tidak pernah mencari ilmu bagaimana cara menjadi penyair, meskipun saya gemar bersyair. Wawancara dan observasi memang lebih utama bagi saya.
Semakin lama berjalan di ruang sastra itu, saya semakin mantap. Rohani dan filsafat harus saya ganti dengan mistik-filosofis. Tanpa itu, sajak sosial-kemasyarakatan tidak memiliki relevansi kontekstual. Dan inilah yang saya ingin dan mengapa saya menulis sajak sosial-eksistensial: relevansi dalam membangun kesadaran dari dalam (diri).
Saya bersyukur bisa masuk dalam 10 penyair muda MASTERA, artinya impian saya dikabulkan. Sajak yang saya tulis sudah bersayap dan menerbangkan saya untuk bertemu dan belajar dari penyair-penyair dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Tailand.
Saya akhiri tulisan ini di sini. Sementara selesailah tugas saya untuk menulis proses kreatif saya sebagai penyair. Perjalanan proses kreatif itu tidak mutlak batasnya. Saya sepakat dengan WS Rendra bahwa batas bukan dalam gambaran tahun atau masa, walau pun di situ ada unsur masa, tetapi dia ada dalam moment tertentu sehingga dia bergairah dan semangat kembali.  
Oh, iya lupa, dewasa ini di tanah Madura lagi mengalami cultural shock. Dasar kebudayaan Madura mulai “ditinggalkan” dan diguncang-guncan oleh gempa kebudayaan “gaya hidup mewah” dan saya merasa miris dan gelisah. Saya merasa sajak yang saya tulis selama ini, ah, saya belum siap bicara mengenai proses yang sekarang lagi mengguncang Madura dan diri saya.



Madura, Juli 2017  

Sumber: http://www.kawaca.com/2017/10/proses-kreatif-dan-gerakan-sastra.html

Cara Membangun Kebahagiaan

thumbnail

Oleh: Matroni Musèrang*

Setelah saya membaca antologi puisi “Pengantar Kebahagiaan” Faidi Rizal Alief ini, ada gaya baru dalam menulis, dari pertama saya kenal dan berkencan dengan Faidi di Yogyakarta tahun 2006 tidak seperti ini puisinya. Dalam catatan ini saya akan fokus pada latar belakang judul ini muncul dan bagaimana relasi makna antara judul dengan sub judul puisi. Sebab tulisan hanya sebagai pintu awal untuk kita diskusi. Sebab memahami adalah proses menangkap maksud atau makna dari puisi-puisi yang diucapkan atau dituliskan.  
Saya membaca antologi puisi yang berisi 45 lima judul puisi dalam perspektif filosofis secara garis besar ada dua gerbong pertama dalam antologi puisi ini menawarkan “kesejukan, kedamaian keindahan, kasih sayang atau kegembiraan”, kedua menawarkan cara bagaimana kesejukan, kedamaian, keindahan, kasih sayang dan kegembiraan itu dibangun.  
Perspektif filosofis bukan kemudian saya ingin membahas satu persatu dalam puisi ini, tidak, akan tetapi saya ingin mencari gagasan besar yang terkandung dalam antologi puisi ini tentu dengan paradigma saya. Paradigma untuk melihat konteks dewasa ini yang boming dengan wacana kekerasan antar pelajar, kekerasan atas nama agama atau keyakinan, perang ideologi, perang karena persoalan identitas struktural dan kultural dan bagaimana antologi puisi ini memberikan jawaban atas persoalan masyarakat.
Antologi puisi ini ada cara (metodologi) untuk berbagi kebahagiaan, bukan kebahagiaan dalam arti dahir (materi), akan tetapi kebahagiaan dalam arti kebahagiaan seseorang yang mampu menggapai ketenangan dalam menjalani kehidupan, mengapa? Di tengah gempuran ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dan kompleks orang-orang semakin sulit untuk menemukan kegembiraan, semakin sulit menemukan kebahagiaan dan semakin sulit menemukan kedamaian. Tentu kebahagiaan yang mengembirakan dan membahagiakan. Antologi puisi ini hadir untuk memberi metode baru (angin segar) bagi pembaca bahwa kegembiraan, kebahagiaan dan kedamaian masih ada, maka dibutuhkan cara atau metode untuk menguaknya agar muncul kepermukaan sebagai relasi dialektika bagi kita.  
Ada 17 judul puisi yang menjadi jembatan untuk menuju rumah kegembiraan, kebahagiaan dan kedamaian. Salah satunya puisi “Pohon Kenangan”;

Telah basah tubuhku mencari jalan. Lorong kosong menuju kebun kenangan
Berkali-kali aku padamkan lampu. Kulirik rembulan dari balik pintu

Mendesak masuk sajak yang berhimpitan. Dari luka ke luka kubertahan
Aku menyusuri pasir dan batu. Bergilir kumengalir rindu ke rindu

Tidak ada keputusasaan dalam puisi ini, ia terus berjalan mencari, belajar, hingga menemukan kebun-kebun kenangan yang berserakan, ia terus masuk walau berhimpitan dengan kesumat kompleksitas kemanusiaan, ia terus bergerak maju walau luka, mengapa? Karena diperjalanan selalu ada rindu. Kerinduan itulah yang ternyata membuat kita semakin kuat untuk menuju rumah kebahagiaan, kedamaian dan kebahagiaan. Kerinduan seperti apa yang membuat seseorang semakin kuat untuk terus berjalan dan membangun rumah kedamaian? Ketika seseorang di mabuk rindu, ia tidak akan mau untuk sembuh. Apalagi dimabuk cinta.
Adalah kerinduan yang hijau (Kuberteduh di bawah pohon rindu), sebab kehijauan tempat yang teduh, dan di dalam keteduhan itulah hati damai, dan di dalam kedamaian itulah (Aku menyandarkan hati pada rindu), jadilah manusia yang selalu rindu (dengan cinta baru). Dengan kerinduan seseorang akan menemukan kegembiraan baru (fresh love), artinya pengetahuan kita harus selalu di update agar hujan rindu dalam pikiran dan hati kita tak henti-henti mengalir.
Ketika pikiran dan hati kita hujan rindu, maka kedamaian, kegembiraan dan kedamaian akan tercipta. Bagaimana caranya untuk membangun perkampungan puisi yang penuh kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan? Adalah dengan membangun rumah;
Rumahku

Akhirnya selesai juga rumah tenang. Rumah yang kubangun untuk berlindung
Tinggal aku buat halaman belakang. Tempat menanam rindu dengan senang

Halaman depan aku bikin persegi. Bunga-bunga bermekaran tiap hari
Pagar tegak, rapi, kubuat sendiri. Hati terasa nyaman menyimpan mimpi

Di sini aku hidup berkecukupan. Aku menata hidup tak berlebihan
Tiap hari aku bersenyuman. Tiap malam mimpi indah berdenyaran

Ini rumahku, rumah yang sederhana. Tempatku berlindung dari banyak dosa
Selalu aku buka pintu, jendela. Doa-doa datang menyalakan mata

Sebab kita akan berakhir pada satu titik. Titik itu adalah sebuah perkampungan. Dan perkampungan itu boleh apa saja, terserah anda mau di isi apa. Tapi yang jelas antologi puisi ini mengajak kita untuk selalu memberi kegembiraan kepada siapa pun dan kapan pun (rahmatan lil alamin) dengan cara kita harus menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain. Kegembiraan bagi puisi Rizal sederhana yaitu cukup kita membangun rumah, hiasilah rumah itu dengan kesejukan, untuk menjadi sejuk sebuah rumah, tanamilah ia bunga-bunga, pohon, tumbuhan atau kehijauan dan siramlah ia dengan rindu.
Seorang petani akan selalu rindu bertani, rindu mata cangkul, rindu buah, karena rindu si petani terus berjuang agar apa yang dia tanam menjadi lebat, rimbun dan subur. Maka ketika kerinduan untuk membangun kedamaian, kegembiraan dan kedamaian kita akan sampai
Pada Akhirnya

Pada akhirnya aku cukup diam. Menyaksikan petani tak pernah diam
Gagal panen tahun lalu dibuang. Hujan sehari tak mampu dibendung

Pada akhirnya aku menutup pintu. Dalam sunyi aku mengirim doaku
Semoga akar masih akan menjalar. Hingga mereka memetik buah segar

Pengantar Kebahagiaan” kumpulan puisi ini lebih banyak membahas persoalan tani, dari 45 puisi yang ada 20 membahas tani, pohon, atau sesuatu yang hidup dan hijau. Semoga antologi puisi ini menjadi pintu awal dalam menapaki keberlanjutan. Amin


Sumber: https://www.jawapos.com/radarmadura/read/2017/10/15/19857/cara-bahagia-di-pengantar-kebahagiaan