Postingan

Ketika Kebersihan Tidak Menjadi Identitas: Sebuah Renungan Kritis atas Bencana Tanah Air

  Oleh: Matroni Muserang*   Mari kita renungkan sejenak mencoba merenung tentang kebersihan itu sendiri. Kebersihan sering dipahami sebagai tindakan sederhana atau sepele, membuang sampah pada tempatnya, menjaga lingkungan tetap rapi, atau memastikan sungai tidak dipenuhi limbah dan tidak menebang pohon di tepi sungai. Namun, dalam bingkai filosofis, kebersihan bukan hanya tindakan, ia (seharusnya) adalah identitas kolektif. Ketika sebuah masyarakat menjadikan kebersihan sebagai identitas, maka setiap individu merasakan dorongan batin untuk menjaga lingkungan, bukan karena ancaman sanksi, melainkan karena merasa itu bagian dari dirinya. Masalah muncul ketika kebersihan gagal menjadi identitas. Tindakan menjaga lingkungan kemudian dilakukan secara sporadis, formalistis, atau seremonial, bahkan politis tanpa mengakar pada kesadaran mendalam. Inilah titik di mana berbagai bencana ekologis menemukan ruang untuk tumbuh, termasuk banjir berulang yang melanda wilayah-wilayah Indo...

Bencana Ontologis: Ketika Realitas Kehilangan Makna

  Oleh: Matroni Muserang*   Kemendikti akan tutup prodi yang tak relevan dengan industri (tempo, 25/04/2026).   Kalimat di atas bagi saya sangat lucu, mari kita refleksikan bersama. Dalam keseharian, manusia sering kali memahami bencana sebagai peristiwa yang bersifat fisik, seperti gempa bumi, banjir, longsor, pandemi, atau perang. Namun, di balik segala bentuk kerusakan yang kasat mata itu, terdapat jenis bencana lain yang jauh lebih halus dan sublim tetapi berdampak mendalam—yakni bencana ontologis. Bencana ini tidak menghancurkan bangunan atau infrastruktur lain, melainkan mengguncang fondasi keberadaan manusia itu sendiri yaitu dengan cara kita memahami realitas, identitas, dan makna hidup. Secara sederhana, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang “apa yang ada” atau hakikat keberadaan. Maka, bencana ontologis dapat dipahami sebagai kondisi di mana kerangka dasar yang selama ini kita gunakan untuk memahami dunia tiba-tiba runtuh atau tidak lag...

NU dan Tambang

  Oleh: Matroni Muserang*   Saya hidup dari lingkungan Nahlatul Ulama (NU) yang sejak kecil di didik orang tua untuk selalu dekat dengan tanah. Sejak Mts saya sudah biasa membawa letong ke ladang, orang tua saya petani dan petuak sampai saya lulus S2, karena setelah tahun 2019 orang tua tidak mampu lagi bekerja karena covid. Saat bapak bertani, saya selalu dibawa ke sawah dan ladang sekadar membajak dan menanam padi, jagung dan kacang tanah. Hidup di kampung, yang jauh dari ambisi kekuasaan dan politik itulah yang membawa saya harus belajar lebih serius bahwa ilmu itu untuk membawa manusia pada puncak cahaya, sementara kekuasaan atau jabatan membawa manusia pada puncak kepuasan. Dari sini penting untuk membedakan paradigma kita dalam melihat posisi manusia. Sebagai contoh, viralnya seorang K.H Ahmad Fahrur Rozi (Gus Rozi) sebagai anggota dewan Komisaris PT. Gag Nikel, perusahaan tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Secara pribadi saya tentu hormat kepada id...

Tugu Yang Keras Ta’ Akerres

Gambar
  Oleh: Matroni Musèrang*   Falsafah hidup orang Madura mencakup konsep penghormatan kepada orang tua, guru, dan pemerintah, serta nilai-nilai kerja keras dan saling tolong-menolong, inilah nilai substansi dari falsafah hidup orang Madura. Makna penghormatan untuk saat ini bukan hormat hanya bermakna fisik, karena memiliki jabatan struktural, akan tetapi penghormatan itu ada lantaran kita memiliki nilai falsafah keseharian yang lahir dari kebudayaan masyarakat Madura, misalnya karakter keras.   Pembawaan keras dalam peribahasa ini tidak semata-mata mengacu pada sifat kekerasan fisik, apalagi dengan menggunakan senjata tajam (celurit dan keris). Keris disini penting dipahami sebagai representasi dari prinsip kebenaran dalam konteks keilmuan. Keris yang secara fisik berupa besi berlekuk panjang dan lancip merupakan penggambaran sebuah kebenaran yang hakiki (substansial) yang didalamnya mengandung nilai-nilai kebudayaan. Kebenaran hakiki dan tidak terbantahkan d...

BIOGRAFI MATRONI MUSERANG

Gambar
  Matroni nama Pena dari Matroni Muserang lahir dan besar di Sumenep, pengajar Universitas PGRI Sumenep, buku antologi puisi “Aku dan Pintu, 2020”. Tahun 2017 di undang temu sastrawan Asia Tenggara (MASTERA) puisi. dan penulis puisi antologi bersama.   BUKU 1.      Aku dan Pintu (antologi puisi, 2020) 2.      Falsafah dan Ziarah Kebudayaan (kumpulan esai, 2023)   BUKU ANTOLOGI PUISI 1.      Madzhab Kutub (2010) 2.      Suluk Mataram (50 penyair Membaca Yogya, 2012) 3.      Sauk Seloko (bunga rampai pertemuan penyair nusantara VI, 2012) 4.      Satu Kata Istimewa (2012) 5.      Di Pangkuan Yogya, (2013) 6.      Sebab Cinta (2013) 7.      Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya (2014) 8.      Negeri Langit (negeri poci 5, 2014) 9.    ...

Siapakah Pahlawan Hari Ini?

  Oleh: Matroni Muserang*   Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari kegiatan yang diadakan pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura tengan tajuk “Ngaji Kebangsaan” yang menjadi penyaji Dr. K.H Maimon Syamsuddin, M,Ag dari pesantren Annuqayah daerah selatan. Kegelisahannya begini, apa hubungan antara lomba agustusan dengan kemerdekaan? Ternyata sama, saya menulis refleksi kemerdekaan yang ke-77 tahun 2022 (Matroni Muserang, Kemerdekaan: Antara Tragedi dan Komedi, 2022) isinya semarak lomba, gerak jalan, dan sederet keramaian lain yang jauh dari spirit perjuangan dan substansi kemerdekaan. Entah sampai kapan kemerdekaan ini dihiasi dengan baju game. “mati”nya substansi kemerdekaan ini sebenarnya kita yang membunuh, mengapa? Karena kita kurang belajar atau kurang ajar kalau istilahnya Kiai Maimon. Karena kurang ajar inilah kita menjadi “bodoh”. Orang bodoh itu beban negara, repot sendiri dan merepotkan orang lain, kata Kiai Maimon. Lalu bagaimana agar tidak kurang ajar? ...