Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Maulid Nabi, MBG Sebuah Refleksi Filosofis

Gambar
  Oleh: Matroni Musèrang*             Maulid Nabi Muhammad saw. bukan sekadar peringatan historis atas kelahiran seorang tokoh dunia. Di dalamnya terdapat refleksi mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang dapat terus dihidupkan dalam kehidupan sosial. Salah satu nilai yang penting adalah kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap mereka yang berada dalam kondisi benar-benar membutuhkan. Dalam konteks kehidupan Indonesia saat ini, nilai tersebut dapat dibaca secara filosofis melalui keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun Maulid Nabi dan MBG berasal dari konteks yang berbeda, keduanya mampu dipertemukan dalam satu pertanyaan paling mendasar bagaimana manusia seharusnya memperlakukan manusia lain? Secara filosofis, pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial-keagamaan. Manusia tidak hidup sendirian. Kehidupannya selalu berada dalam hubungan dengan orang lain dan lingkungan sosialnya. Karenanya, kesejah...

Pentingnya Transformasi Paradigma

Gambar
 

Ketika Kebersihan Tidak Menjadi Identitas: Sebuah Renungan Kritis atas Bencana Tanah Air

  Oleh: Matroni Muserang*   Mari kita renungkan sejenak mencoba merenung tentang kebersihan itu sendiri. Kebersihan sering dipahami sebagai tindakan sederhana atau sepele, membuang sampah pada tempatnya, menjaga lingkungan tetap rapi, atau memastikan sungai tidak dipenuhi limbah dan tidak menebang pohon di tepi sungai. Namun, dalam bingkai filosofis, kebersihan bukan hanya tindakan, ia (seharusnya) adalah identitas kolektif. Ketika sebuah masyarakat menjadikan kebersihan sebagai identitas, maka setiap individu merasakan dorongan batin untuk menjaga lingkungan, bukan karena ancaman sanksi, melainkan karena merasa itu bagian dari dirinya. Masalah muncul ketika kebersihan gagal menjadi identitas. Tindakan menjaga lingkungan kemudian dilakukan secara sporadis, formalistis, atau seremonial, bahkan politis tanpa mengakar pada kesadaran mendalam. Inilah titik di mana berbagai bencana ekologis menemukan ruang untuk tumbuh, termasuk banjir berulang yang melanda wilayah-wilayah Indo...

Bencana Ontologis: Ketika Realitas Kehilangan Makna

  Oleh: Matroni Muserang*   Kemendikti akan tutup prodi yang tak relevan dengan industri (tempo, 25/04/2026).   Kalimat di atas bagi saya sangat lucu, mari kita refleksikan bersama. Dalam keseharian, manusia sering kali memahami bencana sebagai peristiwa yang bersifat fisik, seperti gempa bumi, banjir, longsor, pandemi, atau perang. Namun, di balik segala bentuk kerusakan yang kasat mata itu, terdapat jenis bencana lain yang jauh lebih halus dan sublim tetapi berdampak mendalam—yakni bencana ontologis. Bencana ini tidak menghancurkan bangunan atau infrastruktur lain, melainkan mengguncang fondasi keberadaan manusia itu sendiri yaitu dengan cara kita memahami realitas, identitas, dan makna hidup. Secara sederhana, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang “apa yang ada” atau hakikat keberadaan. Maka, bencana ontologis dapat dipahami sebagai kondisi di mana kerangka dasar yang selama ini kita gunakan untuk memahami dunia tiba-tiba runtuh atau tidak lag...