Postingan

Pendidikan yang Tak Mendidik

Gambar
Oleh: Matroni Musèrang*   Kita sudah sampai di ruang pendidikan yang tidak lagi hitam-putih paradigmanya, akan tetapi pendidikan kita sudah sampai di kampung yang membutuhkan sinergitas. Misalnya pendidikan matematika sudah saatnya bersinergi dengan moral atau mental, sebab kalau tidak ada siniergi atau integritas maka pendidikan yang kita miliki hanya akan menjadi biang dan akan menciptakan karakter-karakter pragmatis-materialis-egois. Karakter ini akan mendiami manusia selagi manusia ini belum mendapatkan hidayah. Kalau kita cek data korupsi di Indonesia, baik yang korupsi uang, korupsi waktu, korupsi structural, korupsi kualitas bahkan korupsi program, belum lagi pengusaha yang usahanya illegal. Mereka semua manusia terdidik, pertanyaanya mengapa sikap dan karakter pragmatis-materialis-egois masih mendiami kita? Jawabannya, pendidikan yang mereka punyas tak mampu mendidik dirinya sendiri. Walau pendidikan ada, tapi pendidikan itu akan kalah oleh nafsu egois tadi. Maka penting di...

Bendera Merah Putih

  Tadi sore saya naik motor menuju desa Banjar Barat Kecamatan Gapura kabupaten Sumenep Jawa Timur, sambil lalu saya berpikir bahwa sekarang bulan Agustus, bulan sejarah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan dengan bendera warna merah dan putih. Saya iseng menghitung jumlah bendera yang berkibar di rumah tepi jalan. Dari desa Gapura Timur sampai Banjar Barat ada 15 rumah yang mengibarkan bendera merah putih. 7 desa hanya 15 rumah yang mengibarkan bendera, ini yang membuat saya berpikir, pertama mungkin mereka tidak membeli bendera, kedua tidak ada hubungan emosional dengan bendera, ketiga karena memang tidak paham sejarah bendera, ke empat bendera bukan jaminan cinta tanah air. Tapi dalam hati saya berharap semoga semarah bendera yang berjumlah 15 itu menjadi pemicu, bagi saya penting mengibarkan bendera, minimal bagi anak kecil dibawa umur untuk memperkenalkan warna, sebelum anak kecil itu tahu warna lain selain warna merah dan putih. Saya di rumah pun mengibarkan itu untu...

Menjadi Guru Edukatif

Gambar
  Oleh: Matroni Muserang*   Jadi guru itu jangan gampang marah (baper), kasian muridnya yang jadi korban   Pendapat ini saya ambil dari pesan WhatsApp teman dari KH Fuad Noer Hasan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur. Sudah saatnya dan sewajarnya guru menjadi pembimbing dan pendamping siswa, sebab siswa kata Ki Hajar Dewantara adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya   sendiri. Oleh karenanya pendidikan bagi siswa menurut Ki Hajar Dewantara pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam, zaman, dan masyarakat. Sedangkan menurut Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab A dabul ‘Alim wal Muta’llim ada empat belas etika guru kepada siswa, namun saya tidak akan menulis semuanya, tapi saya akan mengutip bahwa guru edukatif itu tidak punya niat untuk memarahi apalagi dihukum, akan tetapi menjadi edukatif selalu bersikap...

Kiai Sanhaji

Kiai Sanhaji   Kiai yang dikenal sederhana, biasa dipanggil Kiai Haji, malam Sabtu tanggal 6 Agustus 2021 malam saya dan Wifi sowan dalam rangka pamit Majelis Dzikir dan Shalawat ditaruk di mushallah miliknya. Awal pembicaraan saya memulai sebagai pengantar dan beliau langsung mengiyakan acara MDS ini di taruh di mushallah beliau. Namun saya ingin bercerita bahwa ternyata beliau sebagai sosok aktivis di masa mudanya, tahun sekitar 1987an beliau sudah menjadi motor halal bihalal yang diselenggarakan di pendopo kecamatan di saat acara-acara waktu itu jarang diberi ijin, bahkan beliau mengadakatan acara di batuputih didatangi 9 polisi untuk membubarkan acara tersebut, tapi dengan kecerdasan beliau acara tersebut berjalan dengan lancar. Saya dan wifi pun ngobrol akhirnya beliau bercerita saat dipondok yang sering dipanggil Kiai Tsabit untuk mendengarkan tentang ke NU an. Dari sinilah kemudian ngobrol dengan beliau memanjang sampai satu jam-an. Saya akan bercerita apa yang menar...

Acuh Tak Acuh Kepada Pemimpin

Acuh Tak Acuh Kepada Pemimpin   Orang NU sebenarnya sudah seharusnya memiliki paradigma kemaslahatan yang dibutuhkan untuk menjawab masalah riil keragaman umat dan bangsa Indonesia yang tidak bisa hidup dengan cara dan pemikiran ekslusif, dan konfliktual, akan tetapi yang dibutuhkan adalah tata kehidupan umat yang inklusif dan pluralistik. Menurut Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan kita sebagai sebagai pengurus NU, umat Islam Indonesia harus memiliki paradigma keilmuan dan wawasan keagamaan yang inklusif, bahkan plural karena realitas bangsa dan negara Indonesia adalah majemuk dalam segala sisinya, sehingga memerlukan paradigma keilmuan dan wawasan keagamaan yang inklusif-pluralis. Sementara itu, adanya asumsi bahwa negara itu harus berdasarkan agama tertentu dan hanya ada satu pimpinan negara bagi umat Islam tidak bisa dibenarkan baik secara normatif maupun rasional, bahkan Ibnu Taimiyah mengakui adanya pimpinan umat lebih dari satu dan tidak ada keharusan untuk mendirikan ne...

Covid 19 dan Gapura

  Oleh: Matroni Muserang*   Di bulan Juli 2021 memang banyak orang kembali pada Tuhan, saya akan bercerita apa yang temukan selama saya ta’ziyah dan tahlil di Kecamatan Gapura, saya akan mengecek fakta seberapa tingkat kepercayaan masyarakat Gapura terhadap covid19 dan cara penanganannya. Ada 12 orang yang saya hadiri di 5 desa, baik ketika kifayah atau pun tahlil malam dan siang hari. Tak satu pun dari mereka menggunakan masker, kata mereka kalau ada yang memakai masker mereka “ dhika atongkos ”. Tongkos ini semacam tutup yang dipakai sapi waktu mau bajak, kalau dulu sapi atongkos sekarang manusia atongkos , kata mereka di sela-sela melayat. Ada lagi yang mengatakan kalau dulu jangkrik yang di “ user-user” hidupnya sekarang manusia. Masyarakat Gapura sebenarnya bukan tidak percaya adanya covid19 (penyakit), mereka percaya bahwa penyakit itu memang ada dan mereka tahu juga bahwa covid19 dari Cina. Namun karena masyarakat di ombang-ambingkan dengan berbagai cara yang di...

Sanggar Kencana dan D. Zawawi Imron

  Oleh: Matroni Musĕrang*   Hari ini Sanggar Kencama MA Putri Nasy’atul Muta’allimin Gapura ulang tahun sekaligus pergantian ketua. Ulang tahun yang ke-6 ini ketua Elmira Damayanti meminta saya untuk mengundang D. Zawawi Imron sebagai pengisi acara. Saya pun mengiyakan karena ini atas nama Nasy’atul Muta’allimin Gapura. Saya pun berangkat pagi jam 9 bersama santri pengabdian bernama Muhlis, sesampainya di sana Pak D.Zawawi memakai sarung yang berliputan cat, ternyata sedang melukis, saya pun langsung menyampaikan maksud kedatangan saya dan Alhamdulillah bisa.   Tepat jam 8 hari Jumat tanggal 19 Februari 2021 saya berangkat mapak (menjemput) dengan menyewa mobil alumni Nasy’atul Muta’allimin Gapura yaitu Mas’odi lalu saya dan bapak Fathor Rahman salah satu guru MA. Sesampainya di sana beliau pun masih sibuk menyelesaikan lukisan. Lalu kami duduk sebelum berangkat karena masih disuguhi kopi, sambil bercerita para leluhur beliau. Di tengah jalan menuju acara kami pun...