Postingan

Sastra Pesantren, Katanya

Oleh: Matroni Musèrang* Awal saya mengenal istilah “sastra pesantren” ketika menjadi santri di pondok pesantren Hasyim Asy’ari Yogyakarta dari majalah Fadilah yang kebetulan pendirinya pengasuh sendiri. Namun perkenalan saya dengan sastra pesantren hanya sebatas istilah an sich , di samping saya tidak meneliti lebih jauh. Sepuluh tahun di Yogyakarta, sastra pesantren pun tidak ada pernah saya dengar lagi. Akhir-akhir ini muktamar sastra pesantren di Sukorejo yang menghasilkan rekomendasi, meskipun rekomendasi hanya bagian dari proses perjalanan acara muktamar, belum saya temukan hasil muktamar sastra pesantren di Sukorejo yang secara detil membahas apa sastra pesantren? Bagaimana bentuk sastra pesantren? Karena saya tidak memiliki kapasitas untuk membahas sastra pesantren, saya hanya ingin bermain kata-kata dalam puisi, seperti dibawa ini. Sapa rowa andhi’ tarnya’/ Arum manes e badhdhana /Sapa rowa andhi’ ana’ /Ma’ manes bibir babana. Membaca syair di atas betapa ketat Metr...

Puisi-Puisi Matroni Musèrang; Aku yang di Luar dan Aku yang di Dalam

Aku yang  d i  L uar dan Aku yang  d i  D alam aku yang di luar adalah tubuh aku yang di dalam adalah jiwa aku yang enggan berpikir tentangmu aku yang suka memikirkanmu aku yang masih mencarimu aku yang selalu merindumu aku yang terus melirikmu aku yang kadang memburu aku yang duduk di atas kata aku yang melukis dalam dada aku yang luka karena tubuh aku yang dahaga karena hawa aku yang setia pada janji aku yang lupa pada pagi aku yang tak lupa mencatat tanggal aku yang sesekali tertinggal aku yang di luar adalah tubuh aku yang di dalam adalah jiwa aku yang keakuan aku yang kebadian Madura, 2019 Melihat Kampung dari Kampung aku mencoba untuk jujur padamu kampung yang bergumam tentang waktu hilir pejalan kaki, dan penjual rujak menampung segantang sajak angin segar susup sudah, di matamu sedesir dadamu kerikil perawan yang basah keringat kaki dan bulu betismu aku tiba di pangku...

Ziarah Lingkungan: Sebuah Ziarah Kebangsaan

Oleh: Matroni Musèrang* Bangsa yang besar adalah yang bangsa yang mampu menghidupkan tanah dan jiwanya. Untuk menghidupkan itulah kita membutuhkan perangkat penghidup. Perangkat itulah bernama ilmu dan pengetahuan. Untuk mendapatkan Ilmu manusia harus belajar dan membaca. Untuk mendapatkan pengetahuan manusia harus hijrah dan ziarah. Namun untuk menghidupkan tanah Indonesia yang sangat subur itu tidak mudah, membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran yang tinggi. Manusia yang hanya memiliki kepentingan kemanusiaan dan ke-alam-an. Acara Lesbumi Sumenep bersama Kompolan Tera’ Bulan   dengan Paddhang Bulan Pemekasan Sabtu malam 23 Maret 2019, meskipun acara ini tidak menarik masyarakat untuk belajar, sebab tidak memberikan bukti fisik apa-apa, misalnya sertifikat, atau uang saku, namun acara seperti ini memang harus dilakukan untuk memberikan titik kesadaran kemanusiaan agar kita hidup tidak selalu menghidupkan uang kertas, akan tetapi memiliki tanggungjawab menghidupkan ke...

Puasa dan Puisi

Oleh Matroni Musèrang* Kita berpuisi tujuannya untuk apa? Apakah kita mau menjadi orang yang ahli puisi atau orang yang paham tentang puisi?. Kalau kita mau menjadi pengarang puisi berarti kita harus mampu menciptakan ide sendiri, pemahaman sendiri, memikirkan sendiri, refleksi sendiri, berkreasi sendiri, bernalar sendiri, memproduksi ide sendiri itu ahli puisi. tapi kalau kita mau menjadi ahli puisi, berarti kita harus belajar apa itu puisi, siapa tokohya, tokoh A pikirannya apa, tokoh B pikirannnya bagaimana, ini penyair islam atai penyair barat? Kalau barat pikirannya gimana dan seterusnya. Yang paling bagus adalah gabungan dari dua-duannya. Kita ahli puisi juga penyair, itu dahsyat. Kalau tidak bisa minimal menjadi penulis puisi. mengapa banyak orang mengatakan setiap kita adalah penyair. Tapi kita tidak harus ahli puisi. Oleh karenanya itu kita harus mampu membedakan puisi sebagai medogologi berpikir, dengan puisi sebagai produk imajinasi atau produk pemikiran. Sama ha...

Puasa dan Kedamaian Sosial

Oleh: Matroni Musèrang* Puasa dasar utamanya adalah “keimanan” (baca;al-Qur’an), bukan “kemampuan” artinya kalau pun ada warung buka, menjual bakso, menjual nasi bukan alasan kita untuk “mengutuk” si penjual, apalagi sampai membongkar dan membakar. Ketika keimanan yang menjadi fondasi seseorang berpuasa, maka untuk menghormati bulan puasa semua manusia diperintah menghormati sesama manusia (yang berpuasa atau yang tidak puasa). Dengan tidak mengganggu sesama manusia sebagaimana Nabi Muhammad SAW juga sangat menghormati semua manusia baik yang beragama Islam maupun non-Islam, maka puasa kita benar-benar berjalan di atas fondasi keimaman. Bagaimana mungkin yang berpuasa bisa menganggu sesama, sebab dengan berpuasa kita menghormati puasa itu sendiri. Dengan menghormati bulan puasa, apakah pantas atau etis kita menganggu orang lain? Tentu tidak, sebab bulan puasa merupakan bulan bagi orang-orang yang beriman untuk benar-benar membersihkan kotoran-kotoran yang melekat di pikiran...

Cara Menulis Puisi Yang Buruk

Oleh: Matroni Musèrang* Pertama/             Tulislah puisi-puisi yang didalamnya mengandung fatwa-fatwa religius, sehingga anda dikatakan sebagai penyair yang mampu memberikan fatwa kepada manusia untuk menjadi pribadi yang benar menurut agama. Sebab fatwa merupakan sarana untuk mendoktrin manusia agar merasa dirinya paling agamis dalam kehidupan sehari-hari.             Oleh karena itu, puisi yang bagus menurutmu adalah puisi yang didalamnya ada istilah-istialah agama, biar dikatakan puisi religius. Benarkah puisi religius adalah puisi yang didalamnya tercamtum diksi-disksi agama? Jawabannya tentu berada iya, bagi penyair mengartikan bahwa puisi yang baik ketika didalamnya ada fatwa agama. Lalu apa bedanya penyair yang begitu dengan penceramah?             Padahal kita tahu bahwa penyair dan penceramah itu ...

Puisi dan Doa

Oleh: Matroni Muserang* Puisi dan doa dua hal yang berbeda. Puisi merupakan sublimasi substansial kemanusiaan. Ketika puisi itu menjadi keseharian hidup kita menjadi puitis. Puitis artinya keseharian kita sudah selalu dilandasi moral, etika, dan akhlak. Atas dasar inilah tulisan ini akan berpijak, untuk memberikan refleksi atau belajar bersama di tengah tungganglanggangnya sosial politik kemasyarakatan. Puisi akan berbeda ketika ia menjadi doa, seperti yang dibacakan oleh Neno Warisman, kalau kita baca lengkap puisi Neno yang dijadikan doa itu sebenarnya isinya bagus, hanya ada satu bait yang yang kurang pas ketika kita menggunakan paradigma agama (baca Neno). Ketika ada bahasa “saya kwatir tidak ada lagi yang menyembahmu”, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah manusia Indonesia tidak memiliki Tuhan? Kalau kita mau menjawab pertanyaan ini tentu manusia Indonesia semua memiliki Tuhan, maka secara otomatis Tuhan pasti di sembah.   Lantas dalam konteks apa Neno menga...