Postingan

Refleksi Akhir Tahun Sastra, Anti Liberalisme VS Liberalisme

Oleh: Matroni Muserang* Menyikapi polemik yang terjadi tahun 2009, antara Taufik Ismail yang anti liberalisme vs Hudan Hidayat yang liberalisme, itulah realitas sastra Indonesia selama satu terakhir. Begitulah perjalanan para sastrawan tua yang masih berdebat masalah etika sastra. Tapi ada yang lebih menarik yaitu perkembangan sastrawan muda saat ini dalam melemparkan karya-karyanya untuk publik tanpa mempertimbangkan kuliatas. Ini sangat naïf sekali. Kalau Taufik Ismail dan Hudan masih berkutat untuk menentang masalah ideologi tapi mereka berdua masih mampu untuk menyingkap kuliatas karya mereka sendiri, artinya mereka menulis sebuah karya sastra bukanlah untuk menjelek-jelekkan sastra kita ke depan, tapi mereka berdebat untuk memperkenalkan diri bahwa sastra tua masih eksis sampai saat ini. Kalau pun Taufik menjustifikasi ada gerakan syahwat itu hal biasa, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa syahwat Negara Indonesia memang demikian, Indonesia lebih mementingkan syahw...

Mungkinkah “Guru Kreatif” Ada

                                                                Oleh: Matroni Muserang* “Guru Kreatif” di gembor-gemborkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam pidatonya di hari Peringatan Hari Guru dan HUT ke-68 Persatuan Guru Republik Indonesia di Jakarta. Pernyataan ini memang baik bagi perkembangan guru dan pendidikan itu sendiri, akan tetapi pernyataan ini masih menyimpan tanda tanya besar, karena belum jelas epistemologinya, mengapa saya katakan demikian, lihat saja siswa dan mahasiswa sekarang. Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka kerjakan di kelas maupun di kampus? Apa keinginan siswa dan mahasiswa di kelas maupun di kampus? “Guru Kreati...

Wanita yang Kalah

Oleh: Matroni Muserang* Di dunia wanita selalu menjadi perbincangan yang hangat, entah karena wanita memang hangat atau ada faktor lain. Saya tidak tahu, tapi dalam tulisan ini saya ingin mendeskripsikan wanita yang sering kali kalah, wanita yang kalah dengan rayuan dan kata-kata, wanita yang kalah dengan gombalisasi. Karena apa wanita menjadi kalah? Apakah wanita lembut atau karena wanita lebih mementingkan fisik daripada metafisik? Lebih mementingkan materi daripada immateri? Saya tidak tahu, tapi dalam tulisan ini saya ingin mencoba menulis apa yang ada dalam pikiran saya, selama saya membaca tafsir tentang wanita, gender dan wacana femenisme. Jadi tulisan ini hanya refleksi saya ketika gelisah dengan wanita yang seringkali kalah. Ketika saya membaca wanita, pikiran saya langsung tercorong pada dua aspek, wanita sebagai insan al-karomah , dan wanita yang rohman dan rohim . Sebagai insan karomah , wanita diciptakan untuk menjadi pemimpin, pemikir, pendidik, pemersatu...

Wanita: Sebagai Makhluk dan Sumber Kreativitas

Oleh: Matroni Muserang* Menyebut wanita tentu yang terbayang dalam otak kita adalah sosok yang lembut, halus, penyayang, pemberi, penyantun, sopan, dan sikap lembuat lainnya. Di balik itu semua sebenarnya ada apa? Apakah Tuhan menyiptakan wanita tanpa ada pikiran? Langsung jadi wanita yang kita sekarang ini? Atau ada faktor lain yang membuat wanita harus dilahirkan dan diciptakan Tuhah. Banyak profesi gagal karena wanita. Banyak pemimpin bangsa hancur karena wanita. Dan juga ada banyak pemimpin besar sukses karena wanita. Ada laki-laki sukses karena wanita. Bangsa makmur karena wanita. Lagi-lagi wanita menjadi tanda tanya besar dalam wacana pengetahuan dan agama. Wanita sebagai makhluk sama dengan laki-laki, yang memiliki mata, hidung, bibir, pipi, gigi, tangan, rambut, alat kelamin, perut, dan lain sebagainya, tapi kepunyaan wanita tidak sama dengan laki-laki misalnya pipi wanita dan pipi laki-laki berbeda. Wanita sebagai makhluk inilah yang kadang berbahaya. Ia akan tampil s...

9 Kubah: Sebuah Universalitas Nilai

Oleh: Matroni Muserang* Langit adalah lubuk bagi doaku. Aku mengambil bintang-bintang dan menjadikannya bunga dihalaman rumah. Kalau engkau tak suka aku mengajaknya berdikir dan bernafas bersama, yakinlah bukan tempatmu berada di sampingku . (Kubah: 6) Puisi di atas merupakan penggalan dari puisi “ Tuhan Tahu, Aku Mencintaimu Di Dalam Doa dan Cahaya ”, yang terkumpul dalam antologi puisi Evi Idawati ( 9 Kubah: Juni, 2013 ), akan tetapi saya tidak ingin membahas antologi puisi 9 Kubah ini satu persatu, saya akan fokus pada tema sentral dalam antologi puisi yaitu 9 kubah dalam perspektif yang berbeda. Karena dalam pengantarnya Yasraf A Piliang sudah mengulas begitu panjang lebar dengan perspektif filsafat eksistenalis-sufims. Dan saya juga ingin mencoba melihat antologi puisi ini dari perspektif filsafat, tentu juga dengan pisau analisis yang berbeda, agar tercipta keberagaman perpektif, bukankah itu indah? Seperti judul esai ini “ 9 Kubah: Sebuah Universalitas Nilai ” s...

28 Sajak Pintu

 Pintu 01 Alif Dia melihat aku masuklah lewat diriku, bisiknya Di antara kepingan pintu yang sunyi aku dibenturkan pada kelelahan hari-hari Di pintu aku ditinggalkan sendiri kau berada di pintu lain yang berbeda atau kita ajak kepingan itu menguras sendang berdiri di pelupuk peradaban Pintu-pintu tertutup dan terbuka sendiri ketika luka-luka mengepung aku berkaki matahari bertongkat rembulan Pintu 02 Ba Dari pintu aku melewati lingkaran sejarah yang kerap masuk di lumuri kegersangan Waktu yang berbaju pintu aku masuki perlahan dan tarikan kata yang tak sempat aku bawa berceceran di jalanan memunguti baju agama Pintu ke dua berjalan di atas gelombang seperti perahu aku tunggangi mengayun pelan sepelan kata berhembus di kupingku di atasnya aku bawa kebijaksanaan dan kolam kehijauan Pintu 03 Ta Dua titik matamu menghisap segala di tepi-tepi hijau dan ...

Menguak Calak Edu Pendidikan di Indonesia

Gambar
Judul Buku       : Calak Edu 1, Esai-Esai Pendidikan 2008-2012 Penulis              : Ahmad Baedowi Penerbit            : Pustaka Alvabet, Jakarta Cetakan           : Pertama, Mei, 20 1 2 Tebal                : 260 Halaman Peresensi        : Matroni Muserang* Tidak asing lagi bagi kita, ketika membaca pendidikan di Indonesia, akan selalu terdengar “bermasalah” dan penuh persoalan yang tidak menemukan ujungnya. Persoalan-persoalan ini sudah saatnya untuk menemukan penyelesaian secara mendasar, dan perenungan panjang, agar persoalan-persoalan ini tidak larut dalam kelenaan dan tidur panjang yang berlebihan. Dalam buku ini Ahmad Baedowi memulai tulisannya dengan...