Keabadian Bibirmu
Keabadian bibir dalam zdikir seperti semak yang membaja senantiasa basah menghisap segala petualang jiwa dikejauhan matahari Hijau rapuh dijejak masa tumbang hingga malam aku mengira, telapak kakiku tak lagi ada kata yang harum meredup pada bibirmu Kala siang hari memberontak sepi hutan menguncup, bunga bermekaran melebur pada semak di bibirmu yang tak hanya tajam, tapi berdarah yang menjadi senyum sementara daun bibirmu terkejut menguyahkan sesemi A, Ba, Ta yang berulang-ulang jadi waktu dan kamu jadi bahasa, habis dan sebatas zdikir Yogyakarta, 2008 Makan Malam Sesepi malam di rahim telinga membias rasa singgah yang tak kumengerti dalam sepi Gubahan itu terus terjaga hingga tak terbaca menjadi kata kaca yang terus terlihat agar sadari kau ada Yogyakarta, 2008 Sesuatu Sesuatu ada Dalam warna Suara Sinar Lalu diam Sebagaimana huruf Hingga di rasa Yogyakarta 2008 Jembatan Bambu kedatangan di atur air dibawa jadi mundur menjulur Dari bawa beralun sendu bayi dan lelaki tahunan Kini tingga...