Sejarah Waktu 11
Sungguh kota yang lebat
mengguyur halaman, sawah, dan hutan
menghitung beribu sejarah, menjadi kata
menjadi garis, melukis gadis
bermata sayu, tiada tepi
mengalir bagai air
dan menangis di gumpal awan
bergantung pada mata, mendung biasa
di sana kubangun istana
dengan gedung air, tiang hujan
dan alat yang keras
hingga waktu terdiam bisu
Kami hidup dalam jamid
karena rumah tiada lagi tanah
karena jagung tiada lagi tegal
kami hidup di jauh
lantaran jiwa tak berbatu
dan hati tak lagi lentur
semua saudara
biar sumenep jadi samudera
biar semua berlayar
hingga kalianget sauhkan jangkar
Itu lepaskan hati
dari angkasa
biar hujan tak lelap jatuh
pada masa depan
yang lekas kita tinggal tetap
Di ujung madura, ia menunggu
dengan nasib memasak waktu
semangkuk jagung dan secawan duwet
juga hati, yang tiada sedih
selalu menunggu
Yogyakarta, Januari 2008
mengguyur halaman, sawah, dan hutan
menghitung beribu sejarah, menjadi kata
menjadi garis, melukis gadis
bermata sayu, tiada tepi
mengalir bagai air
dan menangis di gumpal awan
bergantung pada mata, mendung biasa
di sana kubangun istana
dengan gedung air, tiang hujan
dan alat yang keras
hingga waktu terdiam bisu
Kami hidup dalam jamid
karena rumah tiada lagi tanah
karena jagung tiada lagi tegal
kami hidup di jauh
lantaran jiwa tak berbatu
dan hati tak lagi lentur
semua saudara
biar sumenep jadi samudera
biar semua berlayar
hingga kalianget sauhkan jangkar
Itu lepaskan hati
dari angkasa
biar hujan tak lelap jatuh
pada masa depan
yang lekas kita tinggal tetap
Di ujung madura, ia menunggu
dengan nasib memasak waktu
semangkuk jagung dan secawan duwet
juga hati, yang tiada sedih
selalu menunggu
Yogyakarta, Januari 2008
Komentar