Tangis Bernama Cinta

Istana yang aku bangun ini
Sesuntuk waktu malam di hujani
Lalu musik pagi memecah lagi
Hingga semesta memberinya ruang
Menjadikan waktu
Bumi yang kuhidupi ini, menjalani
Sejarah yang tak berjejak
Tiada awal dan akhir
Sampai kematian menafasinya
Kemudian rasa sunkan
Menumbuhkan manusia
Manusia yang sempurna ini
Tak pernah meminta apa pun kata
Namun yang terhitung tetaplah airmata
Menetesi pecahan mimpi
Mengairi kegersangan
Memberinya kesejukan
Satu kata yang selalu Satu
: cinta

Yogyakarta, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu