Luka Licin Cinta Cincin
Dia yang meluka
menjadi waktu yang jauh
di tumpukan data
yang tak berbunyi di rumpun suara
kesengsaraan selalu merah
di hantam ambisi yang berbusa politisi
Bukan kematian yang menggetarkan hatiku
tapi hidup yang tak beradab ini
bintang-bintang membuat diri tidak ada
kadang aku merasa bahwa aku ada
aku berbicara tapi mereka tidak mendengar
betapa sangat merobek hatiku
mulut berbusa hanya sekedar makan
syair bermula dari kata
gerimis menampar mukaku
dimana kau
aku bernyanyi
apakah kau mengerti kesepianku
Yogyakarta, 2008
Laut Berkata dengan Kedalaman
Sesekali kau diam
laut berkata dengan kedalaman
bintang bersuara tiada rasa
lalu kata siang dan malam tak mau berganti
aku pergi sendiri
tak menyangka puisiku mati
tak mengira hari ini tiada lagi
dan mataku tetap terbang
menghitung jari waktu yang hilang
kubiarkan ruang tak beralas
tak beratap, hujan tumpah
pelan-pelan kota berdesah
desa bersusah
pada sudut singgah kelayuan malam
Yogyakarta, 2008
Satu Kata di Sudut Malam
Ribuan kata membanjiri tahun
di puncak desis terakhir
menjadi tumpukan batu
satukata serikata dan satuprosa
menjadi saksi untuk mati tanpa saksi
Di balik pohon yang bersenda tanpa kata
yang satu melayang terbuang
sebagai pengganti masa lalu
melihat segala asing
bagi kedamaian yang getir
Susunan katakatamu gugur
dalam belahan hari sunyi
apalagi kujumpa selain takut
dan arca satu kata
inikah kau? hari suci
Saat kutelusuri sekali lagi
jalan batu yang kujumpai
mata menjadi redup
cuma satu kata di sudut malam
datar harufnya
aku terharu
Yogyakarta, 2008
Singgasana
Jurang zaman telah jatuh pada waktu
terkulai dikerajaan singa
zaman itu sebuah ruang
terisi warna dan waktu
melekat pada singgasana
Kiranya malam tak ada di sana
pada sinar jiwa yang gelap
mungkinkah surau akan jadi hari?
tanya itu sebuah mimpi
menjadi bunga
dikedalaman mata
Waktu terus berlaju
seperti kapal berlayar bersama samudera
bayu hilir kian larut di sumbu cinta
munginkah dikedalaman itu
kau sadar sebuah kata yang belum selesai
terakit menjadi puisi?
Akhirnya kau sadar
Tenyata kau adalah “Aku”
Yogyakarta 2008
13+28=4
Di ruang ragam ini
dunia menjadi semesta ketakterbatasan
pada lembar kanvas putih
tergenang seperti tinta
tertanam seperti bunga
kadang menjadi cinta
kadang menjadi hampa
dan akhirnya menjadi rasa
Yogyakarta 2008
Matahari Aku Mau Pergi
Matahari aku mau pergi
aku ingin sinarmu menjadi baju baru
tapi tak punyak uang, ibuku masih jauh di sana
sedang ayah hanya bisa kubayangkan
bolehkah, matahari, kutitipkan baju ini sehari?
Matahari tertegun, masihkah ada yang butuh
baju yang kusam di antara rerumpun warna-warni
baju lipstikkan
matahari telanjang, mengenakan pada peminta
yang sering muram durja di trotoar malam
matahari sendiri, rela telanjang,
bagi tanpa ruang dan tak punya pulang
Yogyakarta, 2008
Dari Kata Tercipta Tuhan
kataku melesat diapit dua samudera
cakrawala mati di jiwamu
sementara laut beku di pikiranmu
air dan tanah bertemu, di ujung mataku
bulan tenggelam, waktu berhenti, kauaku
tak bisa berpuisi, kecuali lepas
aku pergi kau tak datang juga
tuhan diam
dosa terbayar
manusia
fana
Yogyakarta, 2008
menjadi waktu yang jauh
di tumpukan data
yang tak berbunyi di rumpun suara
kesengsaraan selalu merah
di hantam ambisi yang berbusa politisi
Bukan kematian yang menggetarkan hatiku
tapi hidup yang tak beradab ini
bintang-bintang membuat diri tidak ada
kadang aku merasa bahwa aku ada
aku berbicara tapi mereka tidak mendengar
betapa sangat merobek hatiku
mulut berbusa hanya sekedar makan
syair bermula dari kata
gerimis menampar mukaku
dimana kau
aku bernyanyi
apakah kau mengerti kesepianku
Yogyakarta, 2008
Laut Berkata dengan Kedalaman
Sesekali kau diam
laut berkata dengan kedalaman
bintang bersuara tiada rasa
lalu kata siang dan malam tak mau berganti
aku pergi sendiri
tak menyangka puisiku mati
tak mengira hari ini tiada lagi
dan mataku tetap terbang
menghitung jari waktu yang hilang
kubiarkan ruang tak beralas
tak beratap, hujan tumpah
pelan-pelan kota berdesah
desa bersusah
pada sudut singgah kelayuan malam
Yogyakarta, 2008
Satu Kata di Sudut Malam
Ribuan kata membanjiri tahun
di puncak desis terakhir
menjadi tumpukan batu
satukata serikata dan satuprosa
menjadi saksi untuk mati tanpa saksi
Di balik pohon yang bersenda tanpa kata
yang satu melayang terbuang
sebagai pengganti masa lalu
melihat segala asing
bagi kedamaian yang getir
Susunan katakatamu gugur
dalam belahan hari sunyi
apalagi kujumpa selain takut
dan arca satu kata
inikah kau? hari suci
Saat kutelusuri sekali lagi
jalan batu yang kujumpai
mata menjadi redup
cuma satu kata di sudut malam
datar harufnya
aku terharu
Yogyakarta, 2008
Singgasana
Jurang zaman telah jatuh pada waktu
terkulai dikerajaan singa
zaman itu sebuah ruang
terisi warna dan waktu
melekat pada singgasana
Kiranya malam tak ada di sana
pada sinar jiwa yang gelap
mungkinkah surau akan jadi hari?
tanya itu sebuah mimpi
menjadi bunga
dikedalaman mata
Waktu terus berlaju
seperti kapal berlayar bersama samudera
bayu hilir kian larut di sumbu cinta
munginkah dikedalaman itu
kau sadar sebuah kata yang belum selesai
terakit menjadi puisi?
Akhirnya kau sadar
Tenyata kau adalah “Aku”
Yogyakarta 2008
13+28=4
Di ruang ragam ini
dunia menjadi semesta ketakterbatasan
pada lembar kanvas putih
tergenang seperti tinta
tertanam seperti bunga
kadang menjadi cinta
kadang menjadi hampa
dan akhirnya menjadi rasa
Yogyakarta 2008
Matahari Aku Mau Pergi
Matahari aku mau pergi
aku ingin sinarmu menjadi baju baru
tapi tak punyak uang, ibuku masih jauh di sana
sedang ayah hanya bisa kubayangkan
bolehkah, matahari, kutitipkan baju ini sehari?
Matahari tertegun, masihkah ada yang butuh
baju yang kusam di antara rerumpun warna-warni
baju lipstikkan
matahari telanjang, mengenakan pada peminta
yang sering muram durja di trotoar malam
matahari sendiri, rela telanjang,
bagi tanpa ruang dan tak punya pulang
Yogyakarta, 2008
Dari Kata Tercipta Tuhan
kataku melesat diapit dua samudera
cakrawala mati di jiwamu
sementara laut beku di pikiranmu
air dan tanah bertemu, di ujung mataku
bulan tenggelam, waktu berhenti, kauaku
tak bisa berpuisi, kecuali lepas
aku pergi kau tak datang juga
tuhan diam
dosa terbayar
manusia
fana
Yogyakarta, 2008
Komentar