Keabadian Bibirmu

Keabadian bibir dalam zdikir
seperti semak yang membaja
senantiasa basah
menghisap segala petualang jiwa
dikejauhan matahari

Hijau rapuh dijejak masa
tumbang hingga malam
aku mengira, telapak kakiku
tak lagi ada kata
yang harum meredup
pada bibirmu

Kala siang hari memberontak sepi
hutan menguncup, bunga bermekaran
melebur pada semak di bibirmu
yang tak hanya tajam, tapi berdarah
yang menjadi senyum
sementara daun bibirmu
terkejut menguyahkan sesemi A, Ba, Ta
yang berulang-ulang
jadi waktu dan kamu
jadi bahasa, habis
dan sebatas zdikir

Yogyakarta, 2008

Makan Malam

Sesepi malam di rahim telinga
membias rasa singgah
yang tak kumengerti dalam sepi

Gubahan itu terus terjaga
hingga tak terbaca
menjadi kata kaca
yang terus terlihat
agar sadari kau ada

Yogyakarta, 2008

Sesuatu

Sesuatu ada
Dalam warna
Suara
Sinar
Lalu diam
Sebagaimana huruf
Hingga di rasa

Yogyakarta 2008


Jembatan Bambu

kedatangan di atur
air dibawa jadi mundur
menjulur

Dari bawa beralun sendu
bayi dan lelaki tahunan

Kini tinggal sampah
dan kuburan tersisa
sampai tiada lagi tarian
air tak mengalir
kali mengendap pergi
tak satu mengerti
hanya satu
bukan waktu
bukan jembatan bambu
………………….?

Yogyakarta, 2008

Dalam Puisi Malam

Malam kutemukan rasa
pada detak retak waktu
disibakan kata-kata

Malam dihidangkan pada nyamuk
ciumi darah di ruang kelana
di musim yang tak kukenal
dan semesta orangorang

Pada malam jiwa
kutemukan biji waktu
yang tak bergerak
hingga beku menjadi batu
yang tanpa lagu dan lugu
tanpa puisi dan dasi
yang ada sepi tak berwaktu

Yogyakarta, 2008

Kertas Malam

Sesekali waktu berlembar
disamping kanankiri
tertuliskan nada kejauhan
yang tak kudengar

Kedalaman telinga
terasuki hembusan angin
yang tak mampu berdiri
dalam kesendirin kertas malam

Seakan kegelapan
memanjang didepanku
hingga tiada arah
yang berhaluan
mencari waktu
yang tak terdapat
di dalam kata

Sudah saatnya
melewati jembatan
merayu ribuan nyawa
untuk merambah dunia maya
kaki retak gara-gara waktu
tak lagi merana menangis
dalam dekapan silau
di tengah rumpun lampulampu

Yogyakarta, 2008

Kata Seribu Masalah

Waktu laksana sinar
yang membanjiri hatiku
semua kegelapan
dan keraguan mati

Kau lebih suka matahari
daripada bulan
karena matahari lebih terang? Dan
bulan samar berkabut, tapi
kau harus berjalan
bersama bulan tiap hari
hingga kata menjadi daging
daging kuburan
yang terlepas dari kematian

Yogyakarta, 2008


Insomnia

Aku ingin tidur malam
mengapa kau dekap aku
dengan sibakan luas semesta
apakah matamu tidak melihat
bahwa aku tak sendiri
melawan sepi

Yogyakarta, 2008

Bunga Waktu

Lihatlah
burung hinggap
di ujung langit
di hidung-hidung berasap
dan mulut menganga
bersandal kata-kata
bermata kotakota

Rasakan
bungabunga waktu
di kursi bergoyang
terbang
tv, felm bergincu
di butirbutir keringat
yang tak kusapu

Kejarlah
kucingkucing hitam di depanmu
matanya tajam
ditikam tak mati
burung tak jadi pergi
langitku tidur bumiku menana
waktu hanya kau tinggal
pada sekampung kematian
menyisakan asap tanpa api

Yogyakarta, 2008

Ladang Kata-Kata

Katakata bukit mengkerikil
gunung mengigil
jari kaki menari
jiwajiwa mencari
batubatu bermacam
tenggelam dalam rumah
kau berkata dia berpuisi di balik suara
katakata yang tiada dan sirna
lupa
Yogyakarta, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu