Bernafas Sunyi
Tak ada butir yang tersisa
pada ruang sunyi di dapur itu
ibu menangis
nasi tersuap dan uang keringat
yang menjadi janji baru
waktu adalah sunyi yang diajarkan
dan kau biarkan mati
pelanpelan daun gugur
rumah yang rapuk piring jatuh
dan pisau di matanya
kau diam mengeraskan bibir
lalu berjalan demikian
rantai yang mengikat bukan kata
tapi mata
Hingga satu rasa yang belum selesai
lewat mata diam terlambat
karena tidak ada yang tahu
kecepatan hati di wajahmu
kecepatan ini tiba
menjadi cinta, melodi dan jadi satu
semua bermalan di kesunyian
untuk menetap. lalu abadi
kau yang menulis di angkasa
antara tanah dan langit
do’a dan sesal
kau penyair, rupanya
Yogyakarta, 2008
pada ruang sunyi di dapur itu
ibu menangis
nasi tersuap dan uang keringat
yang menjadi janji baru
waktu adalah sunyi yang diajarkan
dan kau biarkan mati
pelanpelan daun gugur
rumah yang rapuk piring jatuh
dan pisau di matanya
kau diam mengeraskan bibir
lalu berjalan demikian
rantai yang mengikat bukan kata
tapi mata
Hingga satu rasa yang belum selesai
lewat mata diam terlambat
karena tidak ada yang tahu
kecepatan hati di wajahmu
kecepatan ini tiba
menjadi cinta, melodi dan jadi satu
semua bermalan di kesunyian
untuk menetap. lalu abadi
kau yang menulis di angkasa
antara tanah dan langit
do’a dan sesal
kau penyair, rupanya
Yogyakarta, 2008
Komentar