Ketika Tak bertemu

Kau benar memberi kata pada langit
hingga mulutnya terbuka
memuntahkan air hitam
di bulan pertama kau ledakan matahari
aku serahkan seluruh waktu
yang pernah kau simpan
di harian buku dan ayunan puisi

Kata…kata…yang berlutut
di ujung lisan malam
merapat di yogya, memanen buah gudek
dan menabur gelisah di kajauhan sungai
dia bermalam dengan gelombang
katika kereta silau itu menyambar
bayangmu, aku lukis jejak
tanpa nama, tanpa sapa
tanpa gerak begitu
cakap kejalani lewat kata-kata

Lalu debu-debu melintang di angkasa
memeluk jiwaku
memetik kesadaranku
yang begitu jauh
oke, bila kau benar semua cahaya
bila kau dekap semesta
tak ada apa, tiada siapa-siapa di sana
kecuali satu: kau tak bertemu

Yogyakarta, Januari, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu