Postingan

Kabar Buruk yang Tak Buruk

Oleh: Matroni Musèrang* Membaca antologi puisi “Menunggu Kabar Buruk” karya penyair senior Sumenep ini menimbulkan pertanyaan yang benar-benar menggelisahkan, kenapa? ketika saya disuguhkan beragam kegelisahan penyair dalam buku ini kepala saya seolah-olah pecah menjadi banyak karena puisi-puisi yang ada banyak ide yang digelisahkan dan ingin di sampaikan. Namun sebagai pembaca saya akan mencoba masuk pelan-pelan sambil mencari sesuatu yang dapat saya temukan di sana. Semoga apa yang saya temukan tidak menyimpang dari yang saya lihat. Namun saya senang dan bahagia membaca antologi puisi ini, judulnya menunggu kabar buruk, setelah saya telusuri “tidak” saya temukan keburukan itu, hanya saja keburukan dipengantar yang K. Faizi tuliskan. Saya akan masuk dari pintu yang berbeda untuk membaca Menunggu Kabar Buruk ini, ini dimaksudkan agar keberagaman paradigma itu ada. Memilih diksi puisi bukanlah perkara gampang dalam puisi. Diksi membutuhkan renungan-renungan yang intens, sehingg...

Talken Koneng: Mantra Pengusir Kematian

Oleh: Matroni Musèrang* Telah aku menggambar tubuhmu Dengan lebam daun pisang Dengan pintalan kain kafan Lalu aku ikatkan tiga tali pemenggal Kematian Di atas ubun-ubunmu Juga aku pasangkan Dua puluh tujuh pisau penyayat urat Urat Tujuh belas jarum penusuk sukma Tujuh paku-paku Pemaku jantungmu Puisi seringkali masih hidup di ruang-ruang sempit. Di ruang para pemain teater, di ruang para penyair, di ruang para seniman, di ruang budayawan dan di ruang para filsuf. Puisi belum mampu menembus ruang para petani dan ruang para tuan tanah. Namun antologi puisi “Talken Koneng” karya alfaizin sanasren ternyata berbeda, Talken Koneng bisa dirasakan oleh siapa pun bahkan setelah bedah buku di Giligenting, ke esokan harinya tiba-tiba ada orang datang ke rumah alfaizin untuk meminta air karena tetangganya ada yang sakit.    Penggalan puisi di atas diambil dari judul “ talken koneng ” sebagai pintu awal untuk memasuki ruang talken selanjutnya. Talken yang ...

Ngopi Sastra dan Semangat Kesusastraan

Oleh: Matroni Musèrang* Sastra selalu menarik untuk di baca dan di raba. Sastra seperti ayat-ayat Tuhan yang tidak habis untuk di baca dan di tulis. Sastra adalah sabda yang tidak akan pernah selesai ditafsirkan. Oleh karenanya sampai deti ini dan detik kapan pun ia terus dicari dan dicintai, itulah mengapa ngopi sastra tiba-tiba lahir.   Munculnya Ngopi sastra berangkat dari obrolan saya dengan Sofyan RH Zaid vie WA, yang inti obrolan itu hanya satu yaitu bertemu. Saya yang sudah lama di balut rindu sama Sofyan RH Zaid karena dia tinggal di Bekasi, maka malam itu saya lupa malam apa dan tanggal berapa? Sehingga Sofyan RH Zaid memutuskan untuk bertemu di Taman Bunga Sumenep, namun biar pertemuan ini berkesan akhirnya muncul ngopi sastra di obrolan itu dan disepakati untuk bertemu di tanggal 18 jam 18 tahun 2017 dengan tema “sastra dan Sekitarnya”. Maka dibuatkanlah pamflet ngopi sastra yang di moderatori saya dan Sofyan RH Zaid sebagai pemantiknya. Sofyan memulainya dengan...

Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurullah

Oleh: Matroni Musèrang* Judul di atas merupakan tema istigshasah kubro yang diselenggarakan PWNU Jatim di GOR Delta Sidoarjo pada tanggal 9 April 2017 kemaren dalam rangka harlah NU ke-94. Alhamdulillah saya menjadi bagian dari sejarah itu, bisa berkumpul dengan para ulama. Peserta pun memenuhi GOR Delta Sidoarjo bahkan diluar GOR peserta datang dengan tidak mengurasi rasa khidmat, ada mengatakan berjumlah 3500 peserta yang berkumpul di dalam GOR dan di luar GOR. Saya berangkat dari MWC NU Gapura jam 20,30 dengan mini bus ber-AC rute Kiai Mohammad Khalil Bangkalan, shalat Subuh di Masjid Agung Sidoarjo, terus dilanjutkan ke GOR Sidoarjo. Ada sambutan dari Rois Suriah dan wakil PW NU Jatim, rois Am PBNU KH. Ma’ruf Amin.   Dalam istighasah kubro ada ada enam maklumat Syuriah PWNU Jatim, 1. Menjaga agama dari hal-hal yang merusa (hifzud din amma yusfid) adalah wajib, sebagaimana sebelumnya dilakukan oleh para ulama. 2. Menjaga Negara dari hal-hal yang merusak tatanan (hifzud ...

Memuisikan Madura di Tengah Gejolak Agraria

Oleh: Matroni Musèrang* Bermula dari Jakarta pesan via WatsApp dari teman sekaligus guru saya untuk bincang-bincang sastra tentang antologi puisi pribadinya Tanah Air Puisi, Air Tanah Puisi (2016). Saya pun mengiyakan, di samping Gapura masih haus akan pengetahuan sastra, juga beliau sosok yang kurindukan, sebab selama 10 tahun saya di Yogyakarta rumah beliau merupakan tempat saya belajar, berkumpul dengan penyair-penyair Yogyakarta, termasuk tidur dan makan di rumah beliau. Beliau sebelum pindah ke Jakarta, rumah yang berdempetan dengan cerpenis Indonesia Joni Ariadinata di pinggir kali Bedok tempat saya kenal dengan Satmoko Budhi Sentosa, Iqbal Saputra, Sule Subaweh, Anes Prabu, Dian Hartati, Komang Pak Darus. Di tepian kali itulah awal mula berumah di Yogjakarta. Kenangan-kenangan itu lahir kembali, untuk itulah agenda Tanah Air Puisi, Air Tanah Puisi karya Mahwi Air Tawar akhirnya harus dipadukan antara Air, Tanah dan Puisi yang bertempat di aula Majelis Wakil Cabang (MW...

Memperebutkan Agama di Tengah Orang Beragama

Oleh: Matroni Musèrang* Aksi bela Islam, aksi bela agama, dan sederet aksi-aksi keagamaan bermunculan di Negara yang mayoritas sudah jelas-jelas beragama. Apa yang salah dari keberagamaan masyarakat Indonesia? Sehingga harus diagamakan kembali? Penting kemudian saya ingin memiliki sikap, sikap ini saya kira patut untuk semua orang yang beragama yaitu memperkuat masing-masing mental keagamaannya, saya pribadi Islam ASWAJA tentu harus kuat dengan ke-Aswaja-an saya, sehingga jika ada teman diluar Aswaja untuk berdiskusi dan bertukar wacana kita tetap tidak keluar dari garis ke-Aswajaan. Artinya jika ada orang yang dari sesepuh NU sementara anak dan cucunya beralih ke yang lain, maka dapat dipastikan bahwa mental ke NU annya kering dan keropos. Sama halnya jika orang Muhammadiyah beralih ke NU, berarti orang Muhammad tersebut keropos dalam wacana ke-Muhammadiyahannya. Yang penting dalam beragama adalah memperkuat mental, baik wacana global maupun nasional dan tentu ini harus dib...

Bahasa Peristiwa Sebagai Sastra Perlawanan

Oleh: Matroni Musèrang* Sastra melawan pernah digayang Wiji Tukul dengan hanya ada satu kata Lawan! Chairil Anwar, Rendra dengan puisi Famlet dalam puisi. Putu Wijaya dengan Novel dan dramanya, dan sekarang dimotori oleh Soseawan Leak dengan Sastra Menolak Korupsi. Namun ada waktu senggang yang menjadikan sastra mengalami kelesuan, salah satu alasan mengapa kelesuan itu terjadi yaitu karena tidak ada gerakan progresivitas, salah satu lainnya adalah tidak adanya keinginan untuk mencoba mencari ide-ide segar, ide-ide baru untuk dituliskan, sehingga yang terjadi “daur ulang” dari puisi-puisi yang terbit di koran dan buku. Sastra melawan merupakan metode untuk digunakan sebagai bentuk perlawanan sastrawan “Sumenep” terhadap kapital, hal-hal yang mangancam, dan merugikan masyarakat yang kini menjangkiti masyarakat Sumenep, seperti maraknya penjualan tanah mulai dari pesisir desa Andulang, Lapa, Lombang, Badur, bahkan Toang yang baru-baru ini menggelar rokad desa dan istigasah dala...