Postingan

Band Indonesia Miskin Kritis

Oleh: Matroni el-Moezany* Akhir-akhir ini banyak bermunculan band-band baru di Indonesia, bahkan acara TV pun memberi ruang gerak bagi mereka untuk memperkenalkan karyanya. Tapi bukan lantas tidak memiliki dampak apa-apa terhadap masyarakat Indonesia. Bahkan saking parahnya band-band itu sudah mendarah daging di jiwa anak-anak SD, apalagi SMP dan SMA, bahkan Mahasiswa. Kita mengakui betapa sangat sepinya bangsa kita tanpa musik. Tapi musik yang bukan tamba memberi semangat moralitas untuk anak didik bangsa, melainkan hanya sebatas main-main dan romantisme kosong. Mengapa? Band-band yang ada hanya berkutat di ranah cinta, cinta dan cinta. Memang bagus kalau kita memang benar-benar hakikat cinta itu sendiri. Tapi band Indonesia berkarya cinta hanya memuaskan pasar-pasar tanpa makna apa di dalamnya. Bahkan hampa. Band Indonesia yang banyak mengeluarkan tema cinta hanya sebatas hiburan, setelah pulang, hilang sudah. Artinya tema yang diusung oleh band-band Indonesia cinta untuk anak-a...

Puisi Sederhana

Kata yang sederhana akan paling bermakna Ketika setiap sesuatu tersampai dengan lembut Puisi ini berasal dari orang-orang sederhana Selalu setia pada kesederhanaan Menuju cakrawala sederhanaan tak terbatas Luapan rasa yang tak bisa di bendung siapa pun Menjadi huruf di ruang yang sangat sederhana Di rak-rak yang belum terisi puisi-puisi dunia Itulah luapan yang lahir dari kesederhanaan panjang Di tengah kekayaan bunga-bunga tak bertepi Siapa pun boleh “menjadi”, tapi Kemenjadian selalu berada di lubuk terdalam Berkelindan bersama orang-orang di luar diri Menjadi rumusan kata-kata sebelum puisi Kiranya cukup untuk membuktikan Kemenjadian rasa yang tak terulang sejarah Kini rasa benar-benar menjadi penguasa dunia Di tangan para penyair Rasa sesuatu yang sangat berharga Dan inilah yang harus diperdebatkan dan diperjuangkan Bukan politik, bukan demokrasi, bukan kapitalisme, bukan hedonisme, dan bukan globalisasi Ketika rasa bermain di ruang kesederhanaan Keseh...

Kemajuan di Ujung Pisau

Tidak cukup hanya suara Tidak cukup hanya ide Tapi, kata-kata dan kegelisahan Hasutan-hasutan yang tak mampu mengubahnya Karena cahaya belum terjadi Ia berada di kejauhan jarak Yang tak dapat aku tembus Engkau tak menghasilkan apa-apa Dengan kegelisahan yang terpendam Mendengarkan puisi dari para penyair Menaruh perhatian cerdas akan kata-kata Kepatuhan dalam kata Aku ingin tahu Pengulahan huruf demi huruf Sangat sedikit yang aku inginkan Nyaris tanpa keinginan Tapi, aku pasti akan kembali Membiarkan diri ini di tangan kata Tanpa membuang waktu dalam keangkuhan Pada kemauan kata yang diinginkan kita Kudorong semua kehampaan Dari sebuah benda yang tak dapat kusentuh Kulihat dari asal akar yang menjadi nasib Untuk melatih diri dalam keseharian Yogyakarta, 2010

Patung di Tengah Hujan

Hujan rintik tak menghadang Bagiku menyentuh patung-patung di pinggir jalan Engkau sampaikan pesan Lewat sepi malam itu yang dilekatkan Semua orang menyukainya Mendukumentasi, menyimpan Dalam indera-indera keabadian Patung-patung kuning keemasan Membasahi mata-mata tajam di surau-surau tepi Semakin mewaktu malam itu Semakin deras hujan mengundang patung-patung Semakin bersih wajahnya, entah dengan mata-mata Disiratkan wajah-wajah pahlawan Menyuarakan rekaman masa lalu Di benak waktu, tak terjawab seperti yang tertulis sejarah Kata-kata masih kasihan terhadap kita Karena ia masih menyimpan rasa Untuk kebersamaan dalam meraih masa-masa Di kemudian hari kini hanya sebatas hampa yang mengurung wajah-wajah mereka menyimpan untuk di jual kenapa aku harus bertanya seperti itu aku tak mampu untuk menjawab karena ketika aku harus menjawab semua sudah terjual rapi masihkah aku mempertahankan untuk kemenjawaban kata-kata yang sudah tertata dengan diri sendiri ...

Rekan Jejak

:Untuk seseorang yang melukai waktu Untuk sekian lama aku rawat waktu Dari haluan demi haluan masa Hanya kepada kekekalan diri di semesta Enkau tak memikirkan Betapa luka yang ke dua ini menjadi petanda yang di tandai Mungkin engkau tak mengerti kengerian itu, tapi Akankah engkau: bertanya salah apa aku padamu? Tiap hari tak terlihat wajah pemaaf Entah mengapa engkau begitu-begitu Apakah engkau iri atau karena engkau miskin Hingga tak memikirkan kata-kata Yang melukai sungai-sungai dalam diri Waktu demi waktu engkau semakin tak terpikirkan Senyummu melukai, kata-katamu mengeringkan lautan Hingga kegersangan tak ada dalam dirimu yang terjamah bunga-bunga Engkau sungguh luka di atas luka Kejam, di atas kekejaman, Aku tak memiliki kesan apa-apa, tapi Untuk melupakan itu sungguh sangat berat Apalagi engkau rekan jejak Aku tak mengerti mengapa engkau rela Mengatakan luka untuk rekan jejakmu sendiri? Ketakmengertian sungguh tak mengerti Januari, Yogyakarta,...

Tengah Malam Sehabis Mimpi Membunuh Ular

Benda-benda dalam waktu Kata-kata dari tuhan Telah tersembunyikan waktu Aku di panggil untuk menghadapmu Sebagai salam keberlanjutan Yang duduk dalam sunyi Merekahkan bunga-bunga yang masih beku Yang tertetesi keringat malam Walau pada akhirnya semua menjadi nyaman Bersama gelap ombak dan hujan di kamar Akupun rebah bersama waktu Meluangkan rasa sebagai wadak hamba yang lemah Dalam mimpi semua terlihat bahagia bersama kerumunan Ketika sunyi datang membangukan, aku berada pada sebuah waktu yang tak kumengerti semua menjadi sepi merayap tubuh detik waktu terdengar di dinding memecah kesunyian malam tak ada yang belum kumengerti untuk kesekian kali menyapa malam itu tubuh menggigil tak mampu kulelapkan walau padanya aku biarkan kata-kata terlukis bersama malam-malam tak ada yang mampu menjawab walau terjawab sebagai jawaban Yogyakarta, 2010

Tak Ada Fatwa Haram di Dunia

Oleh: Matroni el-Moezany* Kata sejak dulu hanya diperuntukkan pada orang yang melakukan sesuatu yang di larang Allah. Seperti meninggalkan shalat, tidak zakat, berzinah, tidak puasa, tidak shalat jum’at. Kalau ada ulama atau kiai yang menfatwakan rebonding itu haram, itu hukum dari mana yang mengharamkan? Apakah pernah Allah mengharamkan rebonding? Uang untuk rebonding pun tak mencuri. Prakteknya pun juga halal, jadi jelas bahwa di dunia tak fatwa haram kecuali yang di larang Allah tadi. Kenyataannya, ada penguasa kita yang mencuri uang, itu tidak ada fatwa Haram, tak ada uang haram bagi penguasa. Lantas mengapa ulama itu mengharamkan. Rebonding di haramkan, tapi mencuri uang rakyat tidak haram, lantas hukum agama yang mana ketika di lontarkan kemudian tidak adil. Haramnya hanya untuk rakyat, tapi kalau untuk penguasa tidak haram. Hukum apa itu? Sepertinya ulama sudah tak memiliki apa-apa di mata umat. Dia hanya manusia yang belum mampu melihat realitas seutuhnya. Jadi jelas hukumn...