Postingan

Mengapa Selalu “Tidak Beres“

Oleh: Matroni el-Moezany* Setelah pelantikan para penguasa, ada banyak kasus yang terjadi pada penguasa kita. Mulai dari mentri, KPK, DPR dan MPR semua penuh dengan kasus. Entah mengap? Apakah ini ada unsur politik sehingga rakyat dibingungkan dengan kasus yang tidak jelas. Atau karena mereka ingin dikenal oleh masyarakat bahwa “akulah penerus pencuri negerap ke depan”. Aku juga tidak mengerti. Negara kita tidak pernah kekuarangan. Tapi mengapa penguasa selalu tidak beres dalam mengurus semua kewajiban dan tanggungjawabnya masing-masing? Misalnya kasus sedikit isi laporan audit BPK atas kasus Bank Century, kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Kasus Soeharto, pemberian amplop kepada Panitia Khusus Rancanagan Undang-Undang Pemerintahan Aceh, kasus SBY, Neoliberalisme, dan semua penguasa berkalung kasus yang ujung-ujungnya adalah uang, dan rupiah. Inilah salah satu sekian banyak kasus yang membuat Indonesia menjadi termiskin di dunia. Anehnya para penguasa bukan berupaya untuk ...

Menyadari, tapi Terbelenggu

Ibu, anakmu kini Duduk merenung sepanjang masa Menyesali dosa harian yang belum terhapus waktu Ibu, anakmu kini Terbalut awan tebal berbalut hujan Tak berdaya merangkai syair Ibu, anakmu kini Sudah tak sekuat kata-kata Sekali berucap sungai-sungai mengalir di bibirmu Tak ada bendungan menahanku Tak ada jeda waktu untuk istirahat Kecuali terhanyut oleh pesona awan hitam itu Sampai sedalam-dalamnya Apakah engkau ada ingin untuk mencari angin surga? Tentunya begitulah inginku ketika waktu mengingatkan Kini, hanya hati kecil yang mampu menembus rasa dalam kata Sebagai bukti kalau aku benar-benar menyadari dalam diri Tapi tidak dalam tindak, Aku tak mengerti! Mengapa mesti begitu? Jogja, 2009

Lebah

Aku bermimpi hujan lebat sekali Mendekati pandanganku Semua orang ketakutan, lari Aku dan adikku Wil Duduk melihat hujan itu Ternyata hujan datang beriring lebah Lalu menghampiri aku dan adikku Dengan kening keemasan Lebah itu berbicara padaku dan adikku “Jangan engkau makan madu Karena ia adalah tempat menghilangkan harusku” Mulai detik mimpi itu Madu yang kubeli 70 ribu Kusimpan di atas rak buku Tanpa kuminum dan kusentuh Entah mengapa mimpi itu Membuatku khawatir? padahal aku tak percaya Jogja, 2009

Embu’ *

Embu’ anakmu kini tak berdaya Oleh balutan darah kental yang melingkupi jiwa Seperti mendung ingin hujan membanjiri luka-luka Kisah waktu selama bertahun-tahun aku kosongi Hanya hegemoni kata yang tersaring rapi oleh bibir-bibir Hingga di bawa semesta ini orang-orang dengan sendiri Percaya kalau kata-kata adalah intelektualitasmu Dari teks yang memberi kabar lewat satu bibir Menjadi sejarah panjang dalam kesadaran jalanku Semacam menentang aturan Tuhan Hidupku itu Embu’ Anakmu kini tak berdaya Sudah banyak kata yang rusak Maafkanlah peradabanku ini Yang mentidakmanusiakanmu Karena sudah terlanjur hujan maka, mandilah Tiada waktu tanpa mandi dengan awan tebal di jiwa tanpa dosa-dosa jejak di kaki semua itu karena ulahku sendiri roni, hidanganmu terlalu lugu untuk menjadi penyair besar karena hanya sekecil kata engkau luangkan menerima rasa yang terkalung di leher malam Embu’ anakmu kemaren dilukai harta yang tak lama akan mati dengan anakmu sakit sekali, karena anakmu belum memiliki kat...

Penyair, Petanda yang Ditandai

Ron, engkau memilih sengsara, katanya Karena engkau jadi penyair Sungguh kau tak menghargai detik waktu berjejak Kau belum merasakan bagaimana berjejak Hingga kau tak peduli angkuhmu melukai matahari Hidupmu yang serba ada, tak sadari Ia akan mati dengan jejak waktuku Kini, aku hanya menjejakkan kata Untuk merobohkan angkuhmu Boleh kau angkuh seperti itu karena hartamu Tapi, kau tak akan merasakan kebahagiaan Kau akan mengemis padaku Apa arti hidup yang mengalir dalam darahku Pengok, Jogja, 2009

Permintaan

Semenjak kurengkuh hati lembutmu Kau sandungkan rasa untuk menempelkan kata ke langit Seperti peperangan besar yang belum terjadi pada orang lain Kini kami sudah menang, dan kemenangan itu Takkan ada batu yang mampu menyandungkan kaki Untuk kembali pada ruang ketidakpastian Karena kami saat ini sudah duduk rapat dalam jalinan huruf-huruf Tuhan Pengok, Jogja, 2009

Tanpa peta

Engkau jejakkan tanpa peta Mengejar semesta agar memelukku Dimana engkau Apakah cinta yang akan memberi jalan menemukan arah Aku persembahkan diri pada orang lain Karena itu adalah diriku yang lain Biarkanlah aku rajang waktu Walau diri tak terjalin cinta dari kamu Aku kirimkan diriku yang sebagai pelengkap rasa Yang terbuang dari jiwa Jogja, 2009