Pragmatisme Sastra, Adakah?
Di muat di koran Minggu Pagi Minggu V Oktober 2010 Oleh: Matroni el-Moezany* Ada yang menggelitik pikiran saya, ketika membaca pengantar Antologi cerpen “Tiga Peluru” pilihan Minggu Pagi yang ditulis Joni Ariadinata di paragraf ke enam dari terakhir bahwa seni selalu menghamba pada materi, kualitas seni, selalu berkaitan dengan harga, semakin mahal sebuah karya seni, maka semakin akan dianggap berkualitas karya itu. kalau pertanyaanya adakah? Mestinya ada unsur materi, karena selama ini yang terjadi ketika sebuah karya itu memiliki kualitas tentu harganya sangat mahal, buktinya banyak penyair, sastrawan, dan budayawan Yogyakarta naik daun yang diperantarai kualitas karya itu sendiri, apakah harus menyebutkan siapa mereka? Tentunya tidak usah, sebagai masyarakat sastra kita mengetahui siapa mereka, bagaimana mereka, dan mengapa mereka di Yogyakarta. Walau pun pragamatisme bukan tujuan dari segalanya, namun tetap tidak bisa dipungkiri bahwa nilai uang di situ pasti ada. Pragmatisme m...