Postingan

Budaya dan Pencerahan

Oleh: Matroni A el-Moezany* Sekitar 220 tahun yang lalu, Immanuel Kant menulis sebuah risalah kecil yang berjudul "Apa Itu Pencerahan?". Atau dalam bahasa Jerman, aufklarung. Risalah ini merupakan sebuah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang kerap dilontarkan banyak intelektual pada masa itu. Menurut Kant, pencerahan adalah bangkitnya manusia dari rasa ketidakmatangan. Sedangkan ketidakmatangan sendiri adalah "ketidakmampuan kita menggunakan penalaran pribadi" dan keinginan untuk selalu merujuk dan menggunakan pendapat orang lain. Manusia menjadi tidak matang bukan karena dia tidak mau berpikir, tapi karena dia takut menggunakan pemahamannya sendiri. Inti dari zaman pencerahan di Eropa di mana Kant sebagai salah satu pionirnya adalah anjuran untuk menggunakan pemahaman sendiri, dan membuang jauh-jauh pemahaman orang lain yang tidak relevan. Selama kita masih bergantung kepada pemahaman orang lain, selama itu pula kita tak akan pernah matang bahkan kita akan ma...

Gejolak Valentine dalam Islam

Catatan Hari Valintine 14 Februari Oleh: Matroni A el-Moezany* "Valentine" inilah yang menjadi istilah akrab dan begitu populer disebutkan untuk momentum 14 Februari. Momentum ini menyimpan nilai (value) tersendiri bagi mereka. Sehingga 14 Februari tidak sepi untuk diaktualisasikan sebagai perayaan khusus setiap tahun. Dimulai dari mengemas kado istimewa, melayangkan ucapan "happy Valentine", hingga mengadakan perayaan besar bagaikan perayaan pernikahan. Hal ini dinilai wajar untuk sebuah momentum yang "diistimewakan" itu. Namun, kewajaran tersebut menjadi polemik, bahkan mengundang perbincangan hangat, saat Islam turut ambil bagian untuk mengistimewakan perayaan ini. Valentine yang diyakini sebagai budaya yang lahir dari agama Kristen telah melibatkan sebahagian besar remaja Islam untuk ikut merayakan. Hal ini dinilai salah, sehingga melahirkan justifikasi "haram" bagi umat Islam yang merayakan. Ironisnya, kata-kata "haram" yang difatw...

Sapi Madura sebagai Wujud Kesalehan Sosial

Oleh: Atroni* Makna sapi bagi masyarakat Madura sangat tinggi dalam menentukan kesalehan sosial. Konon sapi asli Madura berasal dari pulau sepudi. Pada mulanya kehidupan ekonomi, para petani memelihara sapi berarti tabungan yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Misalanya kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, membangun dan memperbaiki rumah. Itulah sebabnya setiap saat dapat menghasilkan keturunan. Sebagai modal utama bertani, setiap 3-4 bulan, para petani melaksanakan “Delmos” yaitu pindah kandang sapi dan memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk sawah. Bagi kalangan orang yang tidak mampu biasa dengan jalan “Ngowan” yaitu memelihara sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil apabila sudah berkembang biak. Ini merupakan salah satu wujud kegotong-royongan yang masih melekat pada masyarakat Madura sampai sekarang. Pasar sapi di Madura pun tidak pernah sepi. Sapi yang diperjual-belikan umumnya untuk kepentingan pertanian. Untuk kepentingan sapi potong tidak begitu banyak. Biasanya jen...

Tentang Perempuan Bermata Sayu yang Ingin Menikah

Oleh: Matroni A el-Moezany* Baiklah. Aku akan menikahimu. Meski alasan yang kita dapatkan hanya makin membikin engkau ragu. Dalam rumah yang sangat sederhana, kita segera mengambil keputusan dalam janji menikahimu. Berkata bersama yang selayaknya dibicarakan dalam perayaan. Di tengah-tengah pembicaraan, perempuan berbahagia. Ia memandang laki-laki itu dan berkata pada dirinya sendiri: itulah yang kauinginkan. Laki-laki itu berkata tegas tanpa kehilangan sedikit pun garis puas di wajahnya. Perempuan itu merasakan bahagia yang berlebihan meski tahu dirinya itu saedang-sedang saja. Itulah yang kauinginkan. Mengapa rasa takut itu jadi milikmu sekarang? Berhari-hari sebelum hari kemarin engkau masih bisa berkata tidak pada siapa pun. Engkau menulis apa pun yang kauinginkan. Semua yang kauanggap benar adalah sungguh benar. Orang-orang memanjakanmu dengan larangannya dan engkau senang. Engkau bantah semua perkataan yang tak baik bagi kegelisahanmu. Engkau pun sendiri. Tinggal di sebuah kamar ...

Budaya, Bencana, dan Kita

Oleh: Matroni A el-Moezany* Budaya modern masa kini kita membutuhkan sebuah gambaran yang jelas atau katakanlah sebuah "peta" paling tidak "tipe ideal" dalam istilah Max Weber, peta yang kita butuhkan adalah peta yang menggambarkan mengenai kebudayaan kita sendiri yang lokal, dihadapan kebudayaan manusia secara holistik-uneversal. Dimana budaya hadir dengan wajah yang muram dan suram di tengah gejolak globalisasi yang merasuki bangsa tercinta ini. Lantas bagaimana agar budaya kita tidak lagi sakit "cultural shock". Dalam peta kehidupan masyarakat modern yang menjunjung tinggi budaya pragmatis, nilai-nilai tradisional yang menjunjung tinggi harmoni, keluhuran, dan lainnya, cenderung tersingkir, tergusur. Sebab nilai-nilai tradisi itu di pandang relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Demikian pula dengan hujatan yang lahir dari kebudayaan Barat. Banyak filsuf atau sosiolog yang telah mencoba menggambarkan "peta" tersebut, misalnya filsuf posit...

Susahku Pernah

Sajak-Sajak: Matroni A el-Moezany* Susahku Pernah lebih sakit daripada satu kali pada sampah dan teriakan dalam botol hatimu yang pecah kini air dan lahar tumpah mengenangi semesta hingga kota tak bersawah cinta tiada rindu dan kini suram beradu mata lalu riak tak lagi ada tapi wajahku darah saat dagu bibirmu menengada mulutmu uang, racun ditelan membanjiri semesta konon kota salebritis Di sini, kota, sekali terlontar segala sampah tak jadi apa terjadi sumpah terjadi sarang Lalu sekejap, terdiam saat menyusun waktu tanpa akal, kau pergi, pada hati purna tanpa kata, tanpa jejak, tak kuasa tertinggal aku tersisa satu Kosong. Paris, Desember duasembilan 2007 Semesta Satu, Menangis Satu, Menjadi Aku Ketika aku menuju bulan pertama langit menjerit dan muntah hitam dan kau menjanjikan untuk singgah Bis datang terisi beribu dendam pada bangsa yang diam langit suram, tiada lagi gadis merayu kudengarkan satu puisi, untukmu untuk seluruh hidupmu ada air mengalir, darah yang anyir akhirnya air…ai...

Ketika Bencana Menjadi Budaya

Oleh: Matroni A el-Moezany* Bencana, sebuah kata yang menakutkan di dunia. Dan negara manapun Amerika, Eropa, Jepang, dan negara lain yang merasa bisa sok tidak ada apa-apa dengan datangnya bencana (tidak menakutkan). Sekarang kita sudah merasakan apa itu bencana baik itu berupa banjir, lonsor, gempa, kegersangan jiwa dan spiritual, itu karena budaya positivistik yang sudah menjadi makanan setiap hari atau dengan kata lain sudah membumi di ranah kebudayaan kita, yang antimetafisik bahkan dunia metafisik itu tidak ada. Lalu bagaimana sikap kita ketika bencana membudaya?. Apakah kita tetap diam dan tidur dalam mimpi-mimpi kosong? Alan Watts pernah mengatakan bahwa berapa banyak orang menyadari bahwa langit adalah suatu yang sama dengan pikiran dan kesadaran bahwa kalau engkau melihat dirimu sendiri bahwa batinmu ada bersama seluruh jasmanimu seperti halnya mukamu ada dibelakangmu bahwa galaksi ini dan juga galaksi lain sama jauhnya seperti engkau dan hatimu atau pikiranmu bahwa datangmu ...