Bencana Ontologis: Ketika Realitas Kehilangan Makna

 

Oleh: Matroni Muserang*

 

Kemendikti akan tutup prodi yang tak relevan dengan industri (tempo, 25/04/2026).

 

Kalimat di atas bagi saya sangat lucu, mari kita refleksikan bersama. Dalam keseharian, manusia sering kali memahami bencana sebagai peristiwa yang bersifat fisik, seperti gempa bumi, banjir, longsor, pandemi, atau perang. Namun, di balik segala bentuk kerusakan yang kasat mata itu, terdapat jenis bencana lain yang jauh lebih halus dan sublim tetapi berdampak mendalam—yakni bencana ontologis. Bencana ini tidak menghancurkan bangunan atau infrastruktur lain, melainkan mengguncang fondasi keberadaan manusia itu sendiri yaitu dengan cara kita memahami realitas, identitas, dan makna hidup.

Secara sederhana, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang “apa yang ada” atau hakikat keberadaan. Maka, bencana ontologis dapat dipahami sebagai kondisi di mana kerangka dasar yang selama ini kita gunakan untuk memahami dunia tiba-tiba runtuh atau tidak lagi relevan. Ini bukan sekadar krisis pengetahuan, melainkan krisis keberadaan. Individu maupun masyarakat mengalami kebingungan mendalam karena realitas yang mereka yakini sebelumnya tidak lagi dapat dipercaya.

Fenomena ini sering muncul dalam momen-momen perubahan besar dalam sejarah. Misalnya, revolusi ilmiah yang menggantikan pandangan geosentris dengan heliosentris dan teosentris ke antroposentris tidak hanya mengubah ilmu pengetahuan, tetapi juga mengguncang cara manusia memandang dirinya di alam semesta. Manusia tidak lagi menjadi pusat kosmos, melainkan bagian kecil dari sistem yang jauh lebih luas. Perubahan ini, bagi banyak orang pada masanya, merupakan bentuk bencana ontologis karena menghapus kepastian yang telah lama dipegang.

Di era modern, bencana ontologis dapat ditemukan dalam perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Kehadiran realitas virtual, deepfake, dan algoritma yang mampu memanipulasi informasi membuat batas antara kenyataan dan ilusi semakin kabur. Ketika seseorang tidak lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang rekayasa, maka kepercayaan terhadap realitas itu sendiri mulai runtuh dan hancur lebur. Ini menciptakan kondisi di mana individu merasa terasing (teralienasi), tidak yakin pada persepsi mereka sendiri, dan kehilangan pijakan eksistensial.

Selain itu, media sosial turut memperparah kondisi ini dengan menciptakan “realitas alternatif” yang sangat terkurasi. Identitas manusia menjadi cair dan sering kali dibentuk oleh validasi eksternal, seperti jumlah “like” atau pengikut. Dalam situasi ini, pertanyaan mendasar seperti “siapa saya?” menjadi semakin sulit dijawab. Ketika identitas tidak lagi berakar pada pengalaman autentik, melainkan pada konstruksi digital, maka manusia berisiko mengalami kehampaan ontologis.

Bencana ontologis juga dapat muncul dalam konteks krisis global seperti pandemi dan krisis ekologi. Ketika rutinitas sehari-hari terganggu secara drastis, banyak orang mulai mempertanyakan makna pekerjaan, hubungan sosial, dan bahkan tujuan hidup mereka. Hal-hal yang sebelumnya dianggap pasti—seperti stabilitas ekonomi atau keamanan kesehatan—tiba-tiba menjadi rapuh. Dalam kondisi ini, manusia dipaksa untuk menghadapi ketidakpastian eksistensial yang mendalam.

Dampak dari bencana ontologis tidak selalu langsung terlihat, tetapi sangat signifikan. Secara psikologis, individu dapat mengalami kecemasan, depresi, atau perasaan hampa yang berkepanjangan. Secara sosial, masyarakat dapat menjadi terfragmentasi karena tidak adanya kesepakatan bersama tentang apa yang dianggap benar atau nyata. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengarah pada krisis kepercayaan terhadap institusi, ilmu pengetahuan, Tuhan, kiai, ulama, habib bahkan terhadap sesama manusia.

Namun, penting untuk disadari bahwa bencana ontologis tidak selalu bersifat destruktif. Dalam beberapa kasus, krisis ini justru membuka peluang untuk pembaruan dan refleksi. Ketika kerangka lama runtuh, manusia memiliki kesempatan untuk membangun pemahaman baru yang lebih inklusif dan adaptif. Misalnya, kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menghadapi alam dapat mendorong munculnya pendekatan yang lebih berkelanjutan terhadap lingkungan.

Selain itu, bencana ontologis dapat menjadi momen penting untuk memperdalam kesadaran diri. Ketika seseorang kehilangan kepastian eksternal, ia terdorong untuk mencari makna dari dalam dirinya sendiri. Proses ini, meskipun sulit, dapat menghasilkan pemahaman yang lebih autentik tentang identitas dan tujuan hidup. Dalam konteks ini, bencana ontologis bukan hanya kehancuran, tetapi juga transformasi kritis.

Untuk menghadapi bencana ontologis, diperlukan pendekatan yang tidak hanya rasional, tetapi juga reflektif, filosofis dan kritis. Pendidikan memainkan peran penting dalam membekali individu dengan kemampuan berpikir kritis, sehingga mereka tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan realitas. Selain itu, dialog antarindividu dan kelompok juga penting untuk membangun kembali kesepahaman tentang dunia yang terus berubah.

Di tingkat individu, penting untuk mengembangkan ketahanan eksistensial—kemampuan untuk tetap menemukan makna meskipun dalam kondisi ketidakpastian. Ini dapat dilakukan melalui refleksi diri, praktik spiritual, atau keterlibatan dalam aktivitas yang memberikan rasa tujuan. Dengan demikian, individu tidak sepenuhnya bergantung pada struktur eksternal yang dapat sewaktu-waktu runtuh.

Akhirnya, bencana ontologis merupakan fenomena yang kompleks dan mendalam, yang menyentuh inti keberadaan manusia. Ia tidak menghancurkan dunia fisik, tetapi mengguncang cara kita memahami dunia itu sendiri. Meskipun membawa tantangan besar, bencana ini juga membuka peluang untuk pertumbuhan dan transformasi. Dalam menghadapi dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan untuk beradaptasi secara ontologis menjadi kunci bagi keberlangsungan individu dan masyarakat.

 

 

*Dosen Universitas PGRI Sumenep

 

Sumber: Radar Madura, 3 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugu Yang Keras Ta’ Akerres

NU dan Tambang

Mencari “Tempat” untuk Puisi