Astaghfirullah, Aku Gagal Lagi



Di tahun dua ribu enam, saya terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Islam di Yogyakarta. Waktu itu, saya masih menjadi mahasiswa yang polos, ngomong sama perempuan saja, gemeteran, dari saking tak biasanya berkata sama perempuan, saya ketemu teman satu kelas, saya tak menyapa, kecuali dia yang menyapa duluan sama saya. Entah karena saya di didik di sekolah pesantren sejak kecil atau memang karakter pribadi saya tak Percaya Diri (PD) sama perempuan atau ada hal lain. Saya juga tidak mengerti.
Hal itu terjadi sampai saya menginjak semester tiga. Awal semester empat, ada seorang perempuan yang selalu mendekati saya. Dewi namanya. Tiap hari Dewi pasti ingin bersama saya. Pulang kuliah, yang biasanya Dewi langsung di jemput kakaknya pulang, mulai sejak kenal sama saya, Dewi tidak biasanya. Dewi harus keliling kampus. Katanya pingin jalan-jalan sama saya.
Begitulah yang terjadi selama enam semester, saya di belikan makan, di bawain martabak dan susu coklat ke kampus. Padahal saya tidak mengerti apa maksud dari Dewi itu. Yang saya tahu, Dewi adalah teman kelas yang akrab dengan saya. Lambat laun, pelan tapi pasti, akhirnya saya paham, bahwa Dewi memang suka sama saya, jadi saya jalani saja, tiap hari saya selalu bertemu, karena teman kelas.
Setelah saya paham, bahwa Dewi suka sama saya, akhirnya Dewi mengajak saya ke rumahnya. Hari selama sore jam tiga saya di ajak pulang. Kami pun pulang bersama, sesampainya di terminal jam dua dini hari. Kami berdua di terminal, mau ikut angkot tidak ada, yang ada hanya tukang becak dan ojek. Akhirnya kami ikut becak, berapa becak dari sini ke rumah, 35 ribu katanya. Dan kami pun mau, karena waktunya sudah jam dua dini hari. Sebelum naik becak, Dewi memaksa saya ikut ke rumahnya, saya takut, karena tidak etis laki-laki ikut ke rumah perempuan yang bukan muhrim. Tukang becak berkata, tidak apa-apa mas, malah bagus mengantarkan sampai rumah, apalagi teman mas ini perempuan. Dengan terpaksa, saya ikut sampai rumah, sesampainya di rumah, orang tua sudah tentunya, Dewi membangungkan, beliau pun bangun. Kami masuk bersalaman kepada kedua orang tua Dewi. Kami langsung tidur, karena lelah, Dewi tidur di kamar selatan, saya di kamar sebelah timur. Paginya saya di kenalkan sama orang tuanya. Biasa seperti orang kenalan. Siapa saya? dari mana asal saya? sekarang kerja atau kuliah?  
Selama dua hari di sana, saya tak kerasan, karena saya bukan siapa-siapa, juga tidak enak sama tetangga di sana, akhirnya di hari ketiga kami sepakat untuk balik lagi ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, kami turun di Janti, ikut becak sampai kost. Dan kembali kuliah seperti biasanya.   
Di samping itu, Dewi adalah perempuan yang cerdas, memiliki jiwa usaha, bahkan di kostnya, Dewi menjual nasi, teman-teman kampus datang ke kostnya untuk membeli nasi. Lambat laun, Dewi berfikir ingin nasi catering, Dewi pun berhasil mencari teman yang ingin catering sama Dewi. Sehari dua kali, pagi dan sore, saya dan Dewi mengantar nasi, ke tempat langganan nasi. Kadang hujan saya berangkat sendiri, nganter nasi. Naik sepeda onthel. Begitulah saya dan Dewi selama enam bulan. Bisnis nasi catering.
Saya dan Dewi, memang pasangan yang cocok, ke kampus tiap hari selalu berdua, bahkan teman-teman kampus, menganggapnya kami sudah menikah, dari saking akrab dan selalu berdua, dimana ada Dewi di situ ada saya. Empat kami bersama. Dewi kuliah tiga setengah tahun kuliah, sudah wisuda. Sementara saya empat tahun pas baru wisuda.
Di saat Dewi wisuda saya dan keluarganya Dewi datang, menemani Dewi wisuda, kami foto bersama, pergi ke Pantai Parang tritis bersama. Akhirnya kuliah selesai dan wisuda pun sudah selesai. Dewi pulang, semua barangnya dan bukunya di bawa pulang. Saya tinggal sendiri di Yogyakarta. Selama dua bulan Dewi tak memberi kabar apa pun tentang dirinya. Saya pun sibuk dengan skripsi dan ujian tofl, tuafel dan ICT, sampai kakek saya di rumah meninggal, Dewi tak memberi kabar apa pun, saya yang mau memberi kabar, tak sempat di samping tak punya pulsa.
Tiba-tiba di hari ke dua meninggalnya kakek saya, Dewi mengirim pesan lewat HP (sms); maaf ya kak, saya sekarang sudah punya lelaki yang lebih tajir daripada kamu, namanya Shodiq. Saya kaget luar biasa, di campur marah. Saya di landa bila sungkawa karena kakek saya meninggal, juga kecewa di campur marah karena Dewi memberi kabar sudah punya laki-laki pilihan lain, di rumahnya.
Akhirnya, setelah saya balik dari mampir di rumahnya Dewi, untuk memastikan kalau Dewi benar-benar sudah tak ingin lagi bersama saya. dan ternya benar, saya pun mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, semoga kamu bahagia dan menjadi keluarga sejahtera, saya pun melanjutkan perjanalan ke Yogyakarta dengan perasaan sedih sedikit berpikir cerdas untuk tidak larut dalam kesedihan itu. Sesampainya di Yogyakarta, saya sendiri, saya tetap melanjutkan aktivitas saya sebagai penulis.
Walau saya gagal membina hubungan saya dengan Dewi, tapi tali silaturrahmi masih tetap saya pelihara dengan baik, kadang Dewi telfon saya, sekedar menanyakan bagaimana kabar.
    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu