Sadarkah Aku

Sadarkah aku
Menjalani hidup yang penuh dosa

Sadarkah aku
Bergaya tanpa makna
Bila tiada kemandirian dalam diri

Sadarkah aku
Kilau keemasan masih jauh
Dari lipatan-lipatan bara yang berasap

Kelembutan batu di jiwamu
Mulai sejuk mencari kepastian
Walau itu masih mengenang di angkasa mimpi


Yogyakarta, 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu