Moralitas Kata Dalam Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Oleh: Matroni el-Moezany*

Kata adalah ladang di mana seseorang dapat berekspresi dan bermain-main dengan bahasa, sedangkan bahasa sendiri adalah hasil dari permainan kata-kata, dan makna adalah sesuatu yang ada di dalam keterdalamnya bahasa dan kata. Bahasa, kata dan makna kebenarannya tidak kalahnya dengan matahari, sebab ketiga itu lebih kuat dari matahari. Sebab matahari masih patuh masa dan waktu, sedangkan bahasa, kata dan makna tidak sama sekali. Jadi siapa, dimana, dan kapan kita bertemu dengan ketiga komponen itu kita akan merasakan kebebasakan yang tersendiri.
Begitu pun dengan Sutardji yang mengatakan bahwa Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Itulah sepotong esai Sutadji (Bandung, 30 Maret 1973) yang mengapresiasi bahwa kata pertama puisi adalah kata itu sendiri. Dalam dialektika peristiwa kata seperti ini yang telah dikembangkan dalam diri wacana saat ia menjadi sangat dominan. Memaknai kata adalah apa yang diinginkan oleh pembicara. Namun memaknai kata juga apa yang dimaksudkan oleh kalimat tersebut. Jadi setiap gerak atau tindakan ini memberi jalan bagi dialektika peristiwa kata. Oleh karena itu, dunia ini adalah kumpulan dan rumpun referensi yang di ungkap oleh setiap jenis teks (bahasa, kata dan makna), deskriptif atau puitis yang kita baca, pahami dan senangi.
Dalam konteks ini, benar apa yang dikatakan oleh Heidegger, dalam analisisnya tentang vestehen di dalam Being and Time bahwa apa yang pertama kali kita pahami dalam sebuah wacana bukanlah orang lain, namun sebuah proyeksi atau anggapan-anggapan yakni outline cara baru untuk keberadaan di dunia ini. Hanya dengan tulisan yang membebaskan teks, tidak hanya pengarang aslinya, namun juga dari sempitnya ladang dan situasi dialogis, yang mengilhami masa depan kata sebagai proyeksi sebuah dunia, jadi bila garapan ladang kata dihasilkan sebagai sebuah peristiwa, maka ia dapat dipahami sebagai makna yang diberikan oleh kata-kata dalam wacana karya.
Dengan demikian, malam yang penuh kegulitaan dan segala gulita dalam aspek linguistik itu tidak akan lepas dari gejolak kata bulan sebagai terangnya kata-kata, baik wacana peristiwa, predikat, dialektika dalam peristiwa dan alunan kata-kata. Walau pun sudah bulan dan bintang ini atau teori-teori yang diberikan oleh para pakar linguistik, mereka tidak lepas dari malam yang terdiri dari beberapa bintang atau hal yang berkaitan dengan perkataan, puisi atau tulisan, yang membahas metafora, baik metafora semantik-semiotik, simbol, eksplanasi-pemaknaan dalam kata, dan dalam malam yang penuh dengan kata-kata lembut.
Dan juga saya sebagai pribadi sepakat dengan Sutardji yang mengatakan bahwa kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Sebab kalau kata tidak dibebeskan ia akan mati dan tak bergerak dalam suatu pembahasan metafor yang harus ada dalam karya puisi, itulah sebabnya Sutardji mengatakan demikian. Tak seorang pun yang bisa mengekang kata, penyair, sastrawan, intelektual sekali pun, mereka akan tetap setia dengan kata-kata. Karena kata-kata adalah kata itu sendiri. Tidak ada moralitas dalam kata-kata. Kata adalah sebuah mesteri sebuah dunia yang penuh dengan tanda tanya besar di semesta ini. Lalu siapa kata itu? Selamat menemukan dan berkenalan dengan yang namanya kata-kata.

*penulis adalah Esais yang aktif dalam Kajian Teologi dan Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu