Kemacetan Tradisi Sastra

Oleh: Matroni el-Moezany*


Suatu hal tidak bisa dihindari atau tidak boleh dipungkiri lagi bahwa kemacetan dan keberhentian tradisi sastra yang bernyawa dalam ruang dan waktu tertentu, dimana dalam ruang dan waktu itu terdapat keberagaman warna-warni sampah. Dalam bentuknya yang paling nyata dan terang, ruang dan waktu terntentu itu adalah masyarakat, sebuah sosial dan euforia sosial-politik rupanya tidak sekedar tampil dalam berbagai bentuk keramaian, hiruk-pikuk, dialog-dioalog, dan politik di layar tv, rasa atau perasaan yang gila, tapi juga menyusup pada lembah sastra dan kesenian kontemporer, bahkan ada yang mempengaruhi cara kita dalam mengekplorasi sebuah karya kesejukan ini (sastra).
Dalam hal ini, sastra bukanlah hal yang bersifat kesepian, otonom, berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang terikat erat dengan kondisi dan situasi di lingkungan masyarakat dimana kita bertempat tinggal dalam suatu tempat. Jika sastra itu bukan bersifat kesepian, otonom, berdiri sendiri berarti bahwa sastra menyiratkan seorang sastrawan pada kenyataanya adalah seorang anggota masyarakat dan sastra juga menampilkan gambaran perjalanan hidup dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial begitulah kata Sapardi pada tahun yang lalu, (1078). Dalam hal ini, hidup dan kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmanusia dan antarperistiwa yang bergejolak dalam batin seseorang, dan ikatan rasan dan perasaan, seperti yang terjadi dalam pergolakan batin para sastrawan dan para penyair. Lalu bagaimana bila terjadi kemaceman tradisi sastra dalam kehidupan kita padahal sastra adalah sebuah ruang terjalinnya hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan masyarakat bahkan manusia dengan Tuhan dan hubungan rasan dengan rasa yang lain.
Walaupun dalam salah satu esainya Trojan Horse: Activists art and Power (1983), Luky R. Lippard mengajukan sebuah senarai argumen tentang strategi yang dilakoni oleh activists (ists). Dinyatakannya bahwa karya-karya yang politis, activists (ists) tidak membuat untuk melakukan perubahan nilai-nilai atau perubahan sosial, apalagi dalam sekejap mata, tetapi menempuh strategi “oposisi” terhadap dominasi dan represi. Tapi, salah satu untuk menanggulangi agar kemacetan tradisi sastra itu tidak terjadi atau tidak bermusuhan adalah penghayatan sastra itu sendiri yang usung oleh Cah Jombang ini Emha Ainun Nadjib, ini sangat cocok dan patut untuk di jadikan sebagai baju sastra dalam kebudayaan dan kehidupan masyarakat tertentu dan memberikan makna atau arti yang dalam dan memberikan tafsir-tafsir terhadap peristiwa dalam kehidupan. Seperti cinta bagi seorang sufi bahwa cinta adalah realitas terdalam dan tertinggi. Diamana dalam hal ini Sastra kata (Umar Kayam 1977) juga ikut memberi sumbangan makanan terhadap garapan ladang kesusastraan yang di dalamnya juga terdapat satu cara manusia untuk menata atau melukis sebuah tirai kehidupan lewat berbagai imaji dengan cara yang dirasakan paling mesra.
Mungkin dalam hal ini sastra-lah yang mempunyai sinar matahari atau andil walaupun tatanan sosial juga demikian, tapi sastra lebih berpengaruh dalam menatap kenyataan masyarakat, sebab sastra adalah suatu yang serius dan filosofis daripada sejarah, karena sastra selalu berpuisi atau berbicara tentang apa yang universal, sedang sejarah apa yang partikular. Lebih jauh Sapardi pernah bersuara bahwa sastra mengandung gagasan yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa-peristiwa sosial tertentu.
Mungkin, dalam gejolak tatanan masyarakat yang tidak tahu atau mereka yang belum tahu apa arti sebenarnya sastra itu? lalu, bagaimana dalam perkembangan yang serba “politik” ini sastra lebih membumi dan selalu menyirami kegersangan politik agar tidak terjadi kekeringan dan kemacetan tradisi sastra dalam rimbah tatanan kehidupan masyarakat? Seperti yang dikhawatirkan oleh Ahmad Sahal terhadap cultural studies (Cultural Studies dan Tersingkirnya Estetika, Bentara, Kompas, 2/6/2000).
Sebagai contoh lain kita bisa melihat dan mengambil buah yang ranum misalnya yang pernah diajukan oleh Agung Kurniawan Oleh-oleh ala Dunia Ketiga yang menyajikan parodi tentang karya-karya kontemporer yang di anggap sibuk menjajakan “sensasi” soal-soal sosial-politik di dalam karya-karya sastra. Dan lebih menarik lagi dalam karya sastra dimana karya-karya itu di pamerkan dan di suguhkan di Jepang yang menampilkan karya-karya dengan berbagai cara dan pendekatan yang menyajikan sosial-politik. Sebab jika sastra kita hadapkan pada politik juga melibatkan sastrawannya maka, bagaimana kita dapat menilai karya-karya dan keberadaan sosial. Jika juga melihat hal yang seperti itu maka apabila sastra dihubungkan dengan politik akan menambah kompleks dalam tatanan kehidupan masyarakat yang tidak akan pernah usang dan usai.
Dalam kaitannya dengan sejumlah pihak yang kekhawatir termasuk Sahal terhadap kecendrungan sastra yang terjebak dalam euforia sosial-politik dan didekati dengan berbagai pendekatan atau penghayatan itu bisa dinikmati, bukan menyalahkan cultural studies (CS) yang sedang menjalankan mesin tugasnya memeriksa sastra atau hal-hal yang lainnya sebagai data-data sosial yang menyimpan beberapa kaki-kaki dalam relasi kekuasaan. Sepertinya CS tidak mampu memberi ruang apresiasi dan pengalaman estetik-puitis-romantis dan sensual yang memang berada di luar jangkauan karakteristiknya, jadi, yang mungkin kita perlukan sekarang adalah pengembangan dan penghayatan sastra semacam apa-apa yang dikembangkan oleh tradisi sastra itu sendiri. Dan itu kita akan melihat dan menatap dengan jelas tanpa tirai jika kita menyadari betapa sungguh sangat berpengaruh peran yang dimainkan oleh sastra itu sendiri.
Maka, tidaklah terlampaui bila kita memberi atau mengadakan perumusan yang tujuan akhirnya adalah pengembangan dan penghayatan sastra di daerah-daerah yang bisa di tembus bagian terpenting dari baju kehidupan dan baju budaya di dalam masyarakat yang selalu bersastra dan nyastra. Sehubungan dengan kemacetan dan kemandekan tradisi sastra, berbagai upaya-usaha penelitian, pengembangan dan penghayatan sastra secara menyeluruh dalam segala aspeknya diharapkan menghasilkan sebuah silau atau akibat yang mengarah ke-positif dalam pengembaraan yang lebih jauh lagi. Tujuan dan keakhiran dari pengembangan, penghayatan dan pengembaraan sastra adalah tercapainya usaha-usaha agar setiap tradisi atau budaya berjalan di atas jembatan tradisi sastra, baik sastra nasionalnya termasuk sastra daerah yang bercorak klasik maupun modern, melalui kontinuitas pengembangan, penghayatan sastra yang berjalan di batin para sastrawan maupun seorang penyair sekalipun. Usaha mengenalkan sastra ini tentunya dimulai dari kecintaan yang paling dasar hingga ketingkat yang lebih tinggi lagi atau ketingkat yang kedua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu