Cinta, Sastra Dan Sufi
Oleh: Matroni el-Moezany *
Dalam tatanan sejarah bahasa, kata, kalimat, dan makna, apa saja atau yang lain apa itu namanya itu semua tidak akan pernah terlepas dari sesuatu yang di sebut cinta sekaligus sastra yang memang bermain di dalamnya untuk bertugas menyuburkan kegersangan cinta yang patah yang penuh kompleksitas budaya. Berbicara tentang sastra, dan sufi dimana cinta merupakan realitas terdalam dan tertingi, sebab cinta laksana lembah-lembah keterasingan yang selalu memanggil-manggil nama sang laskar cinta. Dari pemahaman akan suatu cinta di mana kita butuh matahari pengetahuan untuk menyinari alam-alam yang gelap, agar alam yang gelap itu menjadi terang dalam mengarungi samudera ketakterbatasan itu.
Cinta, sastra dan sufi, tiga hal inilah yang menjalin dan bergumam di berbagai kehidupan. Cinta selalu menjadi esensi-eksistensi jiwa, cinta memberi satu tujuan dan arah yang tenang, sastra memberi kebebasan cinta dan sufi untuk bernafas di cakrawala yang luas dengan jalan spiritual. Apabila bangsa, budaya dan manusia di dunia ini ingin berbunga dan subur secara lembab dengan baik, maka harus mengenali dan memenuhi tiga kebutuhan pokok yang mendasar, cinta, sastra dan sufi. Di mana tiga pokok dasar itu dapat membuat seseorang mencapi kesempurnaan, seperti yang di alami oleh al-Hallaj yang mengatakan "akulah kebenaran".
Berpijak pada bahan yang mendasar ini, Erich Fromm pernah mengatakan tiga tahun yang lalu bahwa cinta adalah sikap, sesuatu yang dapat menentukan pribadi dengan dunia secara keseluruhan, bukan menuju pada objek cinta yang mempunyai suatu tindakan yang aktif bukan perasaan yang pasif itu pun harus berdiri dalam cinta, yang tidak jauh ke dalamnya. Begitu pun Amen Wangsitalaja dalam puisinya: bukankah aku sangat paham akan cinta dan bila kusingkap dan kutampakkan cinta kekasih pun telah menyingkapkan dan menampakkan dirinya sungguh aku hanyalah mencintai cinta. Dari penggalan puisi ini, cinta tidak akan pernah lepas dari aspek sastra dan sufi itu sendiri, sebab seorang sastrawan belum tentu sufi tapi seorang sufi pastilah sastrawan, Karena sastra dan sufi bagai matahari dan sinarnya yang tidak bisa dipisahkan sampai kapan pun.
Hubungan antara sastra dan sufi tidak jarang menimbulkan cinta antara sastrawan dan sufi yang mau menjadi pendukung dan alat penyebar kesuburan dalam kebijakan cinta dan sufi itu sendiri. Dengan memanfaatkan khazanah sastra atau puisi dalam gubahan seorang sufi terkemuka pada abad ketiga belas, Jalaluddin Rumi, sebagai batu pijakan. Dalam sebuah cinta dan sufi, sastra merupakan ramuan dan pencarian dari proses spiritual serta pemahaman praktis, cinta dan sufi inilah yang menjadi “resep” untuk menemukan kedalaman cinta, sastra dan sufi serta keselarasan antara berbagai realitas yang kasat mata atau yang tidak.
Dunia ini memang selalu berubah sejalan dengan perubahan dunia budaya, tetapi akankah kehidupan batin juga ikut berubah? Kearifan Rumi terlalu berharga untuk tidak digunakan dalam upaya berhubungan dengan cinta sastra dan sufi meskipun kita hanya mampu menangkap tirai luas dari samudera kearifan yang ditawarkannya. Walaupun kita tidak suka sastra atau puisi berilah cinta dan sastra atau Rumi kesempatan untuk dijadikan kawan dan penawar "racun", karena cinta atau Rumi bisa dikatakan punyak gagasan yang selalu menjadi kejutan untuk menyuburkan tanah-tahah kering dalam jiwa manusia.
Cinta, sastra dan sufi, ketiga inilah menjalin kisah asmara dalam satu ruang kehidupan, siapa, kapan, dan di mana itulah yang mengisi relung-relung dan memberi macam-macam pada lembah-lembah keterasingan, namun teman setianya tetap tidak berubah yaitu cinta. Cinta yang kita harapkan dalam mengarungi kehidupan dan yang pertama kali kita cari di dunia yang luas ini. Itulah hastrat dan tujuan kehidupan, yang menciptakan samudera yang tak terhigga, di mana jiwa berenang bersama kapal-kapal kecil. Seperti lautan, cinta akan tetap selalu mengasuh dan mendukung, tapi ia menawakan suatu tempat di mana cinta akan membawa kehidupan. Cinta menciptakan lemnah-lembah yang akan di jelajahi oleh sastra. Siapa dan apa yang kita cintai pasti akan menyalurkan benang merah dan sebuah energi sastra yang sangat kuat, mendekati orang ini atau tidak, mengambil jalan ini atau tidak. Dengan bimbingan cinta dan sastra seorang sufi atau kita yang sedang mencari, di mana kita menciptakan lemparan makna dan tujuan, di mana bersantai, bermain, serta bersenang-senang. Melalui hubungan sastra dan cinta kita dapat mengenal orang lain dan diri sendiri dalam cermin cinta dan sastra khsusunya para sufi. Sebab cintalah yang akan membawa pada semua itu.
Sastra adalah pusat jalan atau pembimbing atau alat penguji apa yang kita rasa benar dalam sastra itu sendiri. Sastra adalah alasan kita untuk hadir ke sini dan alasan kita tetap hidup di dunia ini. Sastra memberi kabar tentang cinta, bukan suatu yang diinginkan orang lain, melainkan sebagian dari sisi kehidupan yang paling tersembunyi. Bila kita berada di tengah kesedihan, kebingungan, keputus-asaan cinta dan sastralah yang membawa kita ke sana dan mengetahui diri yang seutuhnya dan jalan sufi petanya. Atau jika kita berada dalam kegembiraan, cinta dan sastralah yang mengangkat kita dengan pengetahuan yang lebih tinggi daripada kehidupan. Jadi, cinta dan sastra intisari esensi-eksistensi kehidupan, landasan diri, walau pun sama sekali tidak yakin siapakah cinta dan sastra itu atau apa yang terbesit dalam jiwa untuk kita pikirkan.
Sufi adalah memberi cinta dan sastra untuk bernafas, seperti udara sufi adalah pemberian bagi diri, setidak-tidaknya mengait jiwa, itu bukan permintaan tapi sebuah jalan, sebab jika demikian orang akan menolak memberikannya. Sastra adalah udara bagi kehidupan, sebab ia memberi ruang yang kita butuhkan untuk mengikuti cinta dan mengejar sastra. Tanpa cinta, sastra kita tercekik, dengan sastra kita tinggal landas, berkarya, bereksperimen, meraba-raba, dan belajar. Sastra mengatakan bahwa apa saja akan mungkin bagi kita berhak untuk menjelajahi dari berbagai kemungkinan itu ke mana pun cinta dan sastra membawa. Kadang-kadang cinta membawa kita jauh dan dikehingan segalanya. Kadang-kadang cinta membuat kita sakit yang mematikan, penceraian, kebangkrutan, atau skandal untuk menunjukkan betapa bebasnya kita lepas dari segala penampilan. Tanpa resiko rugi apa pun. Kita meninggalkan segala suatu kewajiban dan mengejar mimpi. Dengan demikian, sastra merupakan lembah-lembah untuk mencurahkan segala ekspresi dan sampah-sampah yang mengaji tentang isi dunia ini.
Dengan segala hal seperti itu, cinta, sastra dan sufi merupakan kawan yang sejati, yang bersama-sama menciptakan apa yang ada dalam benak, jiwa, hati, dada, perut, atau di mana pun yang yang dapat membuat kita bahagia dan tenang saat bangun di pagi hari. Dengan menyatu atau beriringan dalam singgasana cinta, sastra dan sufi menjadi daya serta energi yang menyusupkan makna ke arah tujuan dalam kehidupan, wakau kahadiran cinta tidak bisa di lihat dengan terang hingga mampu mengingat gejolak yang telah terjadi. Cinta, sastra dan sufi tidak bisa dipisahkan dari ke-ada-an cinta yang paling terdalam dalam diri, mungkin begitulah cara cinta mengalami mereka, ketika kita sedang berlibur di hari-hari tenang. Ketika merasakan ketiganya kita akan merasakan kebahagiaan hidup dengan bahagia bersama-sama. Kita dikelilingi oleh apa dan siapa yang kita cintai, memberikan puisi kita tergerai, dan melakukan apa saja yang kita sukai.
*Penulis adalah pemerhati kebudayaan dan penulis sastra di Yogykarta.
Dalam tatanan sejarah bahasa, kata, kalimat, dan makna, apa saja atau yang lain apa itu namanya itu semua tidak akan pernah terlepas dari sesuatu yang di sebut cinta sekaligus sastra yang memang bermain di dalamnya untuk bertugas menyuburkan kegersangan cinta yang patah yang penuh kompleksitas budaya. Berbicara tentang sastra, dan sufi dimana cinta merupakan realitas terdalam dan tertingi, sebab cinta laksana lembah-lembah keterasingan yang selalu memanggil-manggil nama sang laskar cinta. Dari pemahaman akan suatu cinta di mana kita butuh matahari pengetahuan untuk menyinari alam-alam yang gelap, agar alam yang gelap itu menjadi terang dalam mengarungi samudera ketakterbatasan itu.
Cinta, sastra dan sufi, tiga hal inilah yang menjalin dan bergumam di berbagai kehidupan. Cinta selalu menjadi esensi-eksistensi jiwa, cinta memberi satu tujuan dan arah yang tenang, sastra memberi kebebasan cinta dan sufi untuk bernafas di cakrawala yang luas dengan jalan spiritual. Apabila bangsa, budaya dan manusia di dunia ini ingin berbunga dan subur secara lembab dengan baik, maka harus mengenali dan memenuhi tiga kebutuhan pokok yang mendasar, cinta, sastra dan sufi. Di mana tiga pokok dasar itu dapat membuat seseorang mencapi kesempurnaan, seperti yang di alami oleh al-Hallaj yang mengatakan "akulah kebenaran".
Berpijak pada bahan yang mendasar ini, Erich Fromm pernah mengatakan tiga tahun yang lalu bahwa cinta adalah sikap, sesuatu yang dapat menentukan pribadi dengan dunia secara keseluruhan, bukan menuju pada objek cinta yang mempunyai suatu tindakan yang aktif bukan perasaan yang pasif itu pun harus berdiri dalam cinta, yang tidak jauh ke dalamnya. Begitu pun Amen Wangsitalaja dalam puisinya: bukankah aku sangat paham akan cinta dan bila kusingkap dan kutampakkan cinta kekasih pun telah menyingkapkan dan menampakkan dirinya sungguh aku hanyalah mencintai cinta. Dari penggalan puisi ini, cinta tidak akan pernah lepas dari aspek sastra dan sufi itu sendiri, sebab seorang sastrawan belum tentu sufi tapi seorang sufi pastilah sastrawan, Karena sastra dan sufi bagai matahari dan sinarnya yang tidak bisa dipisahkan sampai kapan pun.
Hubungan antara sastra dan sufi tidak jarang menimbulkan cinta antara sastrawan dan sufi yang mau menjadi pendukung dan alat penyebar kesuburan dalam kebijakan cinta dan sufi itu sendiri. Dengan memanfaatkan khazanah sastra atau puisi dalam gubahan seorang sufi terkemuka pada abad ketiga belas, Jalaluddin Rumi, sebagai batu pijakan. Dalam sebuah cinta dan sufi, sastra merupakan ramuan dan pencarian dari proses spiritual serta pemahaman praktis, cinta dan sufi inilah yang menjadi “resep” untuk menemukan kedalaman cinta, sastra dan sufi serta keselarasan antara berbagai realitas yang kasat mata atau yang tidak.
Dunia ini memang selalu berubah sejalan dengan perubahan dunia budaya, tetapi akankah kehidupan batin juga ikut berubah? Kearifan Rumi terlalu berharga untuk tidak digunakan dalam upaya berhubungan dengan cinta sastra dan sufi meskipun kita hanya mampu menangkap tirai luas dari samudera kearifan yang ditawarkannya. Walaupun kita tidak suka sastra atau puisi berilah cinta dan sastra atau Rumi kesempatan untuk dijadikan kawan dan penawar "racun", karena cinta atau Rumi bisa dikatakan punyak gagasan yang selalu menjadi kejutan untuk menyuburkan tanah-tahah kering dalam jiwa manusia.
Cinta, sastra dan sufi, ketiga inilah menjalin kisah asmara dalam satu ruang kehidupan, siapa, kapan, dan di mana itulah yang mengisi relung-relung dan memberi macam-macam pada lembah-lembah keterasingan, namun teman setianya tetap tidak berubah yaitu cinta. Cinta yang kita harapkan dalam mengarungi kehidupan dan yang pertama kali kita cari di dunia yang luas ini. Itulah hastrat dan tujuan kehidupan, yang menciptakan samudera yang tak terhigga, di mana jiwa berenang bersama kapal-kapal kecil. Seperti lautan, cinta akan tetap selalu mengasuh dan mendukung, tapi ia menawakan suatu tempat di mana cinta akan membawa kehidupan. Cinta menciptakan lemnah-lembah yang akan di jelajahi oleh sastra. Siapa dan apa yang kita cintai pasti akan menyalurkan benang merah dan sebuah energi sastra yang sangat kuat, mendekati orang ini atau tidak, mengambil jalan ini atau tidak. Dengan bimbingan cinta dan sastra seorang sufi atau kita yang sedang mencari, di mana kita menciptakan lemparan makna dan tujuan, di mana bersantai, bermain, serta bersenang-senang. Melalui hubungan sastra dan cinta kita dapat mengenal orang lain dan diri sendiri dalam cermin cinta dan sastra khsusunya para sufi. Sebab cintalah yang akan membawa pada semua itu.
Sastra adalah pusat jalan atau pembimbing atau alat penguji apa yang kita rasa benar dalam sastra itu sendiri. Sastra adalah alasan kita untuk hadir ke sini dan alasan kita tetap hidup di dunia ini. Sastra memberi kabar tentang cinta, bukan suatu yang diinginkan orang lain, melainkan sebagian dari sisi kehidupan yang paling tersembunyi. Bila kita berada di tengah kesedihan, kebingungan, keputus-asaan cinta dan sastralah yang membawa kita ke sana dan mengetahui diri yang seutuhnya dan jalan sufi petanya. Atau jika kita berada dalam kegembiraan, cinta dan sastralah yang mengangkat kita dengan pengetahuan yang lebih tinggi daripada kehidupan. Jadi, cinta dan sastra intisari esensi-eksistensi kehidupan, landasan diri, walau pun sama sekali tidak yakin siapakah cinta dan sastra itu atau apa yang terbesit dalam jiwa untuk kita pikirkan.
Sufi adalah memberi cinta dan sastra untuk bernafas, seperti udara sufi adalah pemberian bagi diri, setidak-tidaknya mengait jiwa, itu bukan permintaan tapi sebuah jalan, sebab jika demikian orang akan menolak memberikannya. Sastra adalah udara bagi kehidupan, sebab ia memberi ruang yang kita butuhkan untuk mengikuti cinta dan mengejar sastra. Tanpa cinta, sastra kita tercekik, dengan sastra kita tinggal landas, berkarya, bereksperimen, meraba-raba, dan belajar. Sastra mengatakan bahwa apa saja akan mungkin bagi kita berhak untuk menjelajahi dari berbagai kemungkinan itu ke mana pun cinta dan sastra membawa. Kadang-kadang cinta membawa kita jauh dan dikehingan segalanya. Kadang-kadang cinta membuat kita sakit yang mematikan, penceraian, kebangkrutan, atau skandal untuk menunjukkan betapa bebasnya kita lepas dari segala penampilan. Tanpa resiko rugi apa pun. Kita meninggalkan segala suatu kewajiban dan mengejar mimpi. Dengan demikian, sastra merupakan lembah-lembah untuk mencurahkan segala ekspresi dan sampah-sampah yang mengaji tentang isi dunia ini.
Dengan segala hal seperti itu, cinta, sastra dan sufi merupakan kawan yang sejati, yang bersama-sama menciptakan apa yang ada dalam benak, jiwa, hati, dada, perut, atau di mana pun yang yang dapat membuat kita bahagia dan tenang saat bangun di pagi hari. Dengan menyatu atau beriringan dalam singgasana cinta, sastra dan sufi menjadi daya serta energi yang menyusupkan makna ke arah tujuan dalam kehidupan, wakau kahadiran cinta tidak bisa di lihat dengan terang hingga mampu mengingat gejolak yang telah terjadi. Cinta, sastra dan sufi tidak bisa dipisahkan dari ke-ada-an cinta yang paling terdalam dalam diri, mungkin begitulah cara cinta mengalami mereka, ketika kita sedang berlibur di hari-hari tenang. Ketika merasakan ketiganya kita akan merasakan kebahagiaan hidup dengan bahagia bersama-sama. Kita dikelilingi oleh apa dan siapa yang kita cintai, memberikan puisi kita tergerai, dan melakukan apa saja yang kita sukai.
*Penulis adalah pemerhati kebudayaan dan penulis sastra di Yogykarta.
Komentar