Ketika Pemimpin Tak Mendengar Aspirasi Rakyat

Oleh: Matroni el-Moezany*

Tradisi atau kebiasaan bangsa kita adalah ketika menjelang pemilihan legislatif para kandidat yang terlihat selalu mendekatkan diri kepada masyarakat, tujuannya hanya agar mereka di kenal dan di anggap peduli kepada rakyat. Ini terlihat dari iklan dan kegiatan yang diadakan para kandidat kita saat ini.

Tapi, ketika mereka sudah menjadi pebajat mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri, tidak lagi mendengar aspirasi rakyat, akibatnya mereka agak sedikit menyesal karena sudah mengamanatkan suaranya kepada si dia. Ini masih di ranah percaya dan tidak percaya, tapi penulis tidak ingin menjelaskan hal itu, tapi penulis ingin lebih spesifik kepada tradisi kita yang selalu terjadi di negeri ini.

Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dan kaya, tapi mengapa kekayaan itu dijadikan alat untuk meraih ketidakadilan, kita sudah banyak menyaksikan koruptor (maling), mereka di bilang maling hanya nyenger lalu dimana janji dan kelembutan jiwa mereka pada saat meminta dan mengemis kepada rakyat, kok hanya di saat ingin naik saja mereka memintah tolong kepada rakya, tapi ketika rakyat dalam kelaparan mereka hanya enak-enak sendiri.

Kita sebagai rakyat hanya bisa bertanya kepada dirinya, karena suara rakyat tidak lagi menjadi prioritas ketika mereka menjadi pemimpin. Wajah dan tradisi Indonesia memang selalu seperti itu, PKS katanya terbukti tidak korupsi, apa rakyat tahu kalau memang benar-benar seperti itu, kalau pun itu benar, saya yakin ketika PKS sudah memiliki kursi kekuasaan pasti kalau punyak kesempatan dia pasti nyuri juga, saya yakin itu, sebab mereka juga manusia.

Dalam hal ini saya tidak mengklaim, tapi ini memang sudah menjadi tradisi dan mendarah daging jadi, sangat sulit untuk di rubah, apalagi ini masalah materi, wong yang namanya manusia butuh makan dan minum, seperti kucing ketika melihat ikan.

Kalau boleh saya ibaratkan Indonesia seperti kucing, apabila ada kesempatan sedikita dia langsung cepat-cepat mengambil, tapi kalau masih ada banyak orang, dia kelihatan lembut-lembut saja, terus kalau sudah demikian keadaannya, kita sebagai rakyat kecil tidak memiliki daya untuk berteriak kalau ada maling di rumah kita sendiri. Sebab semakin kita akan punyak kesempatan untuk berteriak di saat itu juga kita akan di hadapkan dengan kematian. Betapa sangat kejam kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Budaya Yang “Mengenaskan”

Puisi: Sebuah Aktivitas Imajiner

Zapin, Representasi Marwah, Jati Diri, dan Perekat Masyarakat Melayu