Postingan

Dua Perempuan Tanpa Nama

Oleh: Matroni el-Moezany* Padahal Hasan tahu bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang ada tanpa nama. Itulah yang membuat Hasan selalu bertanya siapa perempuan itu? Padahal sudah berulangkali Hasan bertanya. Jawabnya tetap aku tidak memiliki nama, jawab perempuan itu. Bagi Hasan perempuan adalah rasa, makanya banyak orang di dunia ini ingin merasakan apa itu rasa. Sampai saat ini orang mencari dan melahirkan rasa dengan berbagai cara, ada dengan ikatan perkawinan, dengan cara pacaran, dengan cara seks komersial. Awalnya rasa ini memang sangat suci dan bening. Tapi, sampai saat ini orang banyak menggunakan rasa itu dengan seenaknya sendiri. Walau ada perempaun tanpa nama yang datang dari diri Hasan, tapi Hasan tetap akan menjernihkan apa perempuan rasa. Kini, kepercayaan itu sekarang sudah dicemari oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Di dunia kini adalah dunia tanpa nama, Hasan semakin bingung dan gelisah memikirkan sesuatu yang tanpa nama itu. Mengapa dia bilang perempua...

Yogyakarta dan Budaya “Main-Main”

Oleh: Matroni el-Moezany* Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan kota seni memiliki kompleksitas yang luar biasa bagi kita (mahasiswa dan anak didik). Mereka hanya menjadi mahasiswa atau anak didik yang disiplin, patuh pada sistem yang mengungkung dirinya (sami’na waatha’na), sehingga mereka hanya menjadi “kupu-kupu” kampus yaitu “kuliah pulang, kuliah pulang”, mereka belum memiliki daya kritis untuk mengkritik sistem yang mereka pakai. Tidak mengherankan jika kemudian kita sebagai pelajar ketika ada “waktu senggang” hanya di isi dengan “main-main” seperti makrab, rekreasi, pergi mall, dan lain sebagainya. Waktu senggang bagi mereka adalah waktu yang harus di isi dengan berbagai kegiatan main-main keseharian. Tanpa ada upaya untuk mengkritisi waktu senggang itu sendiri sehingga terbuang sia-sia. Sehingga mereka larut dalam keseharian itu. Terpesona dengan keseharian, dan lupa akan dirinya. Ketika waktu senggang hanya jeda bagi para pelajar Yogyakarta, dan banyak mal...

Kota Dalam Mimpi

terlihat begitu indah air berwarna putih dan di atasnya orang-orang menghadap tuhan kunaiki tangga ke lima mencari ketimpangan dalam diri kekurangan dalam ruang lalu kubakar segala keinginan yang paling terhampa agas asap yang mengepul tak usah kuberdebatkan lagi kalau pun itu ada ia hanya darah yang belum terhapus oleh waktu lalu semuanya menjadi menjadi segala hal yang terhantui hingga keperawanan semesta terluka CRCS, 19 Februari 2009

Telanjang Di Atas Piring

O kata jika aku memakaimu bakarlah aku denga api jika aku membacamu tuangkanlah jika aku merengkuhnya jangan tampik aku dari keindahanmu kepak kata terbang mencapai cakrawala kata, kuharuskan wajahnya berpaling di balik tabir walau akhirnya kau hilang tapi, apa yang abadi takkan pupus inilah yang terindah di dunia darah Yogyakarta, 2009

Malam-Pagi

Percakapan diam terulang di sudut malam Kasur sendiri beruang tiap cakap Mabuk kelelapan Tiada mengerti Kapan lelap berakhir Dengan pagi Yogyakarta, 23 April 2009

Engkau Racuni Rasa

Dimanakah engkau tunggui Ketertinggalan, mengurus batu Yogyakarta, 22 April 2009

Suara

Menatap tampak bening bersembunyi Mendengar bergema terang lembab Seperti itu? Suara dulu melangit Sesobek kanvas tertaburi duri Setangkai sesren tak manis Sesuatu bukan kata dan suara diam di batu cair membekukan suara Yogyakarta, 22 April 2009