Postingan

Kemacetan Tradisi Sastra

Oleh: Matroni el-Moezany* Suatu hal tidak bisa dihindari atau tidak boleh dipungkiri lagi bahwa kemacetan dan keberhentian tradisi sastra yang bernyawa dalam ruang dan waktu tertentu, dimana dalam ruang dan waktu itu terdapat keberagaman warna-warni sampah. Dalam bentuknya yang paling nyata dan terang, ruang dan waktu terntentu itu adalah masyarakat, sebuah sosial dan euforia sosial-politik rupanya tidak sekedar tampil dalam berbagai bentuk keramaian, hiruk-pikuk, dialog-dioalog, dan politik di layar tv, rasa atau perasaan yang gila, tapi juga menyusup pada lembah sastra dan kesenian kontemporer, bahkan ada yang mempengaruhi cara kita dalam mengekplorasi sebuah karya kesejukan ini (sastra). Dalam hal ini, sastra bukanlah hal yang bersifat kesepian, otonom, berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang terikat erat dengan kondisi dan situasi di lingkungan masyarakat dimana kita bertempat tinggal dalam suatu tempat. Jika sastra itu bukan bersifat kesepian, otonom, berdiri sendiri berarti bah...

Mungkinkah Sastra Kita Miskin

Oleh: Matroni el-Moezany* Pada suatu hari dimana seorang raja (Soeharto) saat itu berkuasa pada tahun 1996 seorang raja berusaha dengan segala upaya untuk memisahkan berbagai aspek kehidupan yang bersentuhan dengan politik, sosial, dan budaya. Bahkan pada waktu itu sang raja akan memberi hadiah kepada orang yang membawa, membaca, dan mendeklamasikan karya sastra saja harus berurusan dengan aparat keamanan yang menebar dimana-mana dan itu bukan hal yang baru (novelty) bagi kehidupan masyarakat pada masa itu, saking sangat ketatnya sang raja itu bila ada seseorang yang melakukan hal demikian akan mendapat buah karya yaitu penjarah. Akibat represi yang dilakukan oleh sang raja Indonesia ini sangat berimbas pada ranah sastra dan sastrawannya. Akibatnya karya sastra menjauh dari keramaian realitas sosial seperti kesunyian eksistensi, jeritan kerinduan, kegelisahan rohaniah, munculnya sajak-sajak yang sepi, cinta, religi, sastra sufi merupakan sebentuk proses sosial dengan cara yang lain. Se...

Moralitas Kata Dalam Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Oleh: Matroni el-Moezany* Kata adalah ladang di mana seseorang dapat berekspresi dan bermain-main dengan bahasa, sedangkan bahasa sendiri adalah hasil dari permainan kata-kata, dan makna adalah sesuatu yang ada di dalam keterdalamnya bahasa dan kata. Bahasa, kata dan makna kebenarannya tidak kalahnya dengan matahari, sebab ketiga itu lebih kuat dari matahari. Sebab matahari masih patuh masa dan waktu, sedangkan bahasa, kata dan makna tidak sama sekali. Jadi siapa, dimana, dan kapan kita bertemu dengan ketiga komponen itu kita akan merasakan kebebasakan yang tersendiri. Begitu pun dengan Sutardji yang mengatakan bahwa Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam. Dalam kesehari-harian kata cenderung di...

Cinta, Sastra Dan Sufi

Oleh: Matroni el-Moezany * Dalam tatanan sejarah bahasa, kata, kalimat, dan makna, apa saja atau yang lain apa itu namanya itu semua tidak akan pernah terlepas dari sesuatu yang di sebut cinta sekaligus sastra yang memang bermain di dalamnya untuk bertugas menyuburkan kegersangan cinta yang patah yang penuh kompleksitas budaya. Berbicara tentang sastra, dan sufi dimana cinta merupakan realitas terdalam dan tertingi, sebab cinta laksana lembah-lembah keterasingan yang selalu memanggil-manggil nama sang laskar cinta. Dari pemahaman akan suatu cinta di mana kita butuh matahari pengetahuan untuk menyinari alam-alam yang gelap, agar alam yang gelap itu menjadi terang dalam mengarungi samudera ketakterbatasan itu. Cinta, sastra dan sufi, tiga hal inilah yang menjalin dan bergumam di berbagai kehidupan. Cinta selalu menjadi esensi-eksistensi jiwa, cinta memberi satu tujuan dan arah yang tenang, sastra memberi kebebasan cinta dan sufi untuk bernafas di cakrawala yang luas dengan jalan spirit...

Semesta Tanda Yang Lain

kebertalian ini sudah menjadi tanya sebab aku ingin mati ketika aku mengalami kematian Jogja, 2009

Malam Yang Pagi

Malam ini Percakapan diam terulang di sudut malam Kasur sendiri Tak beruang untuk tiap cakap Mabuk oleh kelelapan Tiada yang mengerti Kapan lelap berakhir Dengan pagi Yogyakarta, 23 April 2009

Engkau Racuni Bahasa Rasa

Dimanakah kau tunggui Ketertinggalanmu, mengurus batu Yogyakarta, 22 April 2009