Oleh: Matroni Musèrang* Falsafah hidup orang Madura mencakup konsep penghormatan kepada orang tua, guru, dan pemerintah, serta nilai-nilai kerja keras dan saling tolong-menolong, inilah nilai substansi dari falsafah hidup orang Madura. Makna penghormatan untuk saat ini bukan hormat hanya bermakna fisik, karena memiliki jabatan struktural, akan tetapi penghormatan itu ada lantaran kita memiliki nilai falsafah keseharian yang lahir dari kebudayaan masyarakat Madura, misalnya karakter keras. Pembawaan keras dalam peribahasa ini tidak semata-mata mengacu pada sifat kekerasan fisik, apalagi dengan menggunakan senjata tajam (celurit dan keris). Keris disini penting dipahami sebagai representasi dari prinsip kebenaran dalam konteks keilmuan. Keris yang secara fisik berupa besi berlekuk panjang dan lancip merupakan penggambaran sebuah kebenaran yang hakiki (substansial) yang didalamnya mengandung nilai-nilai kebudayaan. Kebenaran hakiki dan tidak terbantahkan d...
Oleh: Matroni Muserang* Saya hidup dari lingkungan Nahlatul Ulama (NU) yang sejak kecil di didik orang tua untuk selalu dekat dengan tanah. Sejak Mts saya sudah biasa membawa letong ke ladang, orang tua saya petani dan petuak sampai saya lulus S2, karena setelah tahun 2019 orang tua tidak mampu lagi bekerja karena covid. Saat bapak bertani, saya selalu dibawa ke sawah dan ladang sekadar membajak dan menanam padi, jagung dan kacang tanah. Hidup di kampung, yang jauh dari ambisi kekuasaan dan politik itulah yang membawa saya harus belajar lebih serius bahwa ilmu itu untuk membawa manusia pada puncak cahaya, sementara kekuasaan atau jabatan membawa manusia pada puncak kepuasan. Dari sini penting untuk membedakan paradigma kita dalam melihat posisi manusia. Sebagai contoh, viralnya seorang K.H Ahmad Fahrur Rozi (Gus Rozi) sebagai anggota dewan Komisaris PT. Gag Nikel, perusahaan tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Secara pribadi saya tentu hormat kepada id...
Oleh: Matroni Muserang* Akhir tahun 2013 kemaren saya bertamu ke Gamping tepatnya di rumah penyair dan cerpenis Indonesia Mahwi Air Tawar beliau berkata dua hal pada saya pertama puisi terkini seperti pohon yang rapuh, seperti layang-layang, seperti makanan siap saji, seperti hotline berita harian. Kedua barangkali puisi sedang berjalan di alam lain menuju gerbang kehancuran, menuju pintu kema t ian. Pernyataan ini benar-benar menghentak saya untuk berfikir cepat, mengapa bisa demikian? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Bagaimana mencari tempat untuk puisi dan penyair? Apakah ada jaminan bahwa kualitas puisi dan ruang puisi dalam memberikan sumbangsih pemikiran hanya dengan banyaknya buku puisi diterbitkan? Mari kita refleksi bersama demi menjaga keilmuan masa depan sastra? Kalau kita mau belajar dari sastra Arab, Iran, Yunani, Jerman, dan Prancis, kalau di Indonesia kalau kita mau belajar dari angkatan 45, pujangga baru sampai sekarang, pelaku-pelakunya sangat m...
Komentar