Postingan

Menguak Keterpinggiran Sastra Budaya

Oleh: Matroni el-Moezany* Dimana ada sastra di situ ada budaya. Begitu sebaliknya dimana ada budaya di sana ada sastra. Sastra lahir dari realitas kebudayaan. Sementara kebudayaan melingkupi sastra. Sastrawan adalah orang yang membawa budaya. Karena keduanya saling mengisi. (baca Minggu Pagi no 48 TH 63 Minggu IV Februari 2011: Affan Safani Adham: Kenapa Sastra Budaya Terpinggirkan ). Ini selalu menjadi perbincangan yang belum menemukan ujungnya. Sastra menjadi cabang dari budaya, jadi kalau kita berbicara sastra dalam kaitannya dengan budaya, maka kita membutuhkan banyak referensi dan pengalaman, karena ketika sastra yang kita lihat maka tidak terlepas dari proses kreativitas sastrawan itu sendiri. Sulit untuk memetakan sastra yang seperti apa yang dibutuhkan masyarakat. Apakah yang realis atau yang absurd? Karena ketika berbicara masyarakat keberagaman menjadi sebuah keniscayaan. Yang jelas, lahirnya sebuah sastra tidak terlepas dari pengalaman si sastrawan di tengah realitas ob...

Menguak Ketersisihan Seni Tradisional

Oleh: Matroni el-Moezany* Pada tanggal 9 Maret 2011 kompas, menerbitkan bahwa seni tradisional tersisih. Kalau melihat perkembangan dan perubahan zama dan semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan budaya Indonesia yang seharusnya bisa diberdayakan menjadi kekuatan ekonomi justru semakin tersisih. Inilah yang sangat mengkhawatirkan kita karena akan menimbulkan pergeseran nilai dan fungsi kesenian, baik sebagai hiburan, filosofi, religi maupun fungsi sosialnya Semarak Budaya Nusantara (SBN) 2011 yang diadakan di Galeri Nasional Jakarta seharusnya menjadi ajang untuk memberi kabar terhadap departeman kebudayaan dan pariwisata untuk lebih memiliki sikap dan bertanggungjawab. Bagaimanapun juga pemerintah tetap menjadi objek berkembangnya seni tradisi, karena penilaiannya terlalu formal, jadi kalau tidak sesuai dengan format yang ada maka, seni tradisional akan di justifikasi tersisih. Ketika pemerintah tidak perhatian lagi, terhadap seni tradisi, maka masyarakat pun enggan ...

Astaghfirullah, Aku Gagal Lagi

Di tahun dua ribu enam, saya terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Islam di Yogyakarta. Waktu itu, saya masih menjadi mahasiswa yang polos, ngomong sama perempuan saja, gemeteran, dari saking tak biasanya berkata sama perempuan, saya ketemu teman satu kelas, saya tak menyapa, kecuali dia yang menyapa duluan sama saya. Entah karena saya di didik di sekolah pesantren sejak kecil atau memang karakter pribadi saya tak Percaya Diri (PD) sama perempuan atau ada hal lain. Saya juga tidak mengerti. Hal itu terjadi sampai saya menginjak semester tiga. Awal semester empat, ada seorang perempuan yang selalu mendekati saya. Dewi namanya. Tiap hari Dewi pasti ingin bersama saya. Pulang kuliah, yang biasanya Dewi langsung di jemput kakaknya pulang, mulai sejak kenal sama saya, Dewi tidak biasanya. Dewi harus keliling kampus. Katanya pingin jalan-jalan sama saya. Begitulah yang terjadi selama enam semester, saya di belikan makan, di bawain martabak dan susu coklat ke kampus. Padahal saya tidak ...

Benarkah Kritikus Sastra “Mati”?

Oleh: Matroni el-Moezany* Kita dikejutkan kembali dengan “Kritikus Seni Sudah Mati” ini terkait dengan berkembangnya teknologi seperti Blogger, kelompok diskusi pembaca, juri kompetisi sastra seperti Khatulistiwa Literary Award atau Anugerah Pena Kencana (yang sering kali bukan kritikus sastra), penerbit, selebriti yang menulis endorsement atau blurb di sampul buku, pengguna Facebook atau Twitter yang mengetik komentar pendek atau mengeklik tanda jempol (Kompas/9/01/2011). Bahkan dengan berkembangnya teknologi yang kurang kreatif. Kritikus profesional diberhentikan dari media tempat bekerja karena tidak diperlukan lagi: Todd McCarthy (kritikus film) dan David Rooney (kritikus teater) dipecat dari Variety, Raymond Solokov (kritikus restoran) dipensiunkan dari The Wall Street Journal.   Sejak K. Barthes memproklamasikan ”kematian pengarang”, belum ada lagi makna orisinal. Kalaupun ada makna orisinal, makna tersebut selamanya tak terjangkau, tak dapat diringkus oleh kritikus itu ...

Sajak-SAjak: Matroni el-Moezany

Sajak-Sajak: Matroni el-Moezany* MENGURAIMU Adalah sebuah tanya yang tak jelas Harus di jawab apa, siapa, dan bagaimana Selusin masa depan dan setetes resah Adalah lukisan makna Yang dicelupkan satu gelas air jadilah ia percikan Untuk semesta yang tak aku paham Selir manja di leher bambu Melingkari perjalanan Perselisihan menjadi kehidupan Lalu harus bersikap apa Ketika menjadi yang lain? 19-23.11 MERINDUI Banyak lekuk teriris tajam oleh jahatnya kuasa Sementara kelaparan semakin ranum Berbuah di pohon waktu 20-02-2011 Kutulis Sajak Rindu Di lantai dua Aku melihat ke utara Terlihat gunung merapi berwajah hitam pekat Aku menoleh ke selatan Terlihat awan-awan kecil menciumi pepohonan Di atas ubunku Cakrawala terbentang mengitari semesta Kutulis sajak rindu Untuk bangsaku yang resah melawan masa Sedangkan aku masih asyik menikmati kelaparan 24-02-2011 Kutulis Sajak Pinta Seperempat malam Aku duduk sendiri Memikirkan aku yang sedang galau dengan diriku Waktu yang terle...