Ketika Pemimpin Tak Mendengar Aspirasi Rakyat
Oleh: Matroni el-Moezany* Tradisi atau kebiasaan bangsa kita adalah ketika menjelang pemilihan legislatif para kandidat yang terlihat selalu mendekatkan diri kepada masyarakat, tujuannya hanya agar mereka di kenal dan di anggap peduli kepada rakyat. Ini terlihat dari iklan dan kegiatan yang diadakan para kandidat kita saat ini. Tapi, ketika mereka sudah menjadi pebajat mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri, tidak lagi mendengar aspirasi rakyat, akibatnya mereka agak sedikit menyesal karena sudah mengamanatkan suaranya kepada si dia. Ini masih di ranah percaya dan tidak percaya, tapi penulis tidak ingin menjelaskan hal itu, tapi penulis ingin lebih spesifik kepada tradisi kita yang selalu terjadi di negeri ini. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dan kaya, tapi mengapa kekayaan itu dijadikan alat untuk meraih ketidakadilan, kita sudah banyak menyaksikan koruptor (maling), mereka di bilang maling hanya nyenger lalu dimana janji dan kelembutan jiwa mereka pada saat meminta ...