Postingan

Ketika Pemimpin Tak Mendengar Aspirasi Rakyat

Oleh: Matroni el-Moezany* Tradisi atau kebiasaan bangsa kita adalah ketika menjelang pemilihan legislatif para kandidat yang terlihat selalu mendekatkan diri kepada masyarakat, tujuannya hanya agar mereka di kenal dan di anggap peduli kepada rakyat. Ini terlihat dari iklan dan kegiatan yang diadakan para kandidat kita saat ini. Tapi, ketika mereka sudah menjadi pebajat mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri, tidak lagi mendengar aspirasi rakyat, akibatnya mereka agak sedikit menyesal karena sudah mengamanatkan suaranya kepada si dia. Ini masih di ranah percaya dan tidak percaya, tapi penulis tidak ingin menjelaskan hal itu, tapi penulis ingin lebih spesifik kepada tradisi kita yang selalu terjadi di negeri ini. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dan kaya, tapi mengapa kekayaan itu dijadikan alat untuk meraih ketidakadilan, kita sudah banyak menyaksikan koruptor (maling), mereka di bilang maling hanya nyenger lalu dimana janji dan kelembutan jiwa mereka pada saat meminta ...

Maret 03 2009

Kau sempatkan rasamu menjadi pintaku Walau malam membuatmu ngantuk dalam sepi Kuurai sedemikian kecil arti rasamu itu Karena malam itu membantuku merasuk dikedalaman rasamu Sebelumnya kisi-kisi kata sudah terwakili dengan bulan Kuselami pelan-pelan walau keras sebongkah batu aku bekali Dengan bahasa sederhana dalam malam Dan kata-kata sederhana dalam malam Itulah catatan kecil dari sepenggal sejarah Yang kita bagi dalam ruang kata-kata Aku harap itu menjadi lembut dalam mengarungi keabadian Keabadian yang tak terkira Singgahan-singgahan demi singgahan Kini terurai bersama sepinya malam, Bersama garis musik cakrawala Kubaca detik-detik demi detik Hanya untuk menjadi keabadian Kuraba segala bahasa dan kata Agar genangan air tak lagi menjadi banjir untuk kita Sebutir semesta telah aku suguhkan padamu Membiarkan terlepas dalam hatiku Sampai matahari juga tahu bahwa kita memang pasangan huruf-huruf Dalam kitab suci, yang semua dapat...

Kata, Kata

Kubagi semua Pada danau yang bisu

Mereka

Berkata tanpa siapa Berpuisi dengan apa Jogja, 2009

Jari-Jari Malam

kurangkai kata untuk melukiskan air matamu karena gelisah lembut yang kau lengkungkan pada malam hanya sebatas lipatan senja yang belum selesai kau bagi malam telah mengusapmu basahan pipi lembut manis yang bagi kita itu hanya piluan-piluan malam yang berairmata tak lagi kuulang menjadi kata ia sudah kusimpan dalam diri untuk sejarah waktu nanti pelan-pelan aku tidurkan wajahmu dari rengkuhan tangis malam, tapi kau tak bisa mengulang lembutan malam yang begitu berarti untuk kita hingga secara tak sadar kata-kata lahir begitu saja di kertas putih dan basahan tangismu pelan-pelan lagi kuulurkan dengan lembut pada kening malam yang sudah basah mungkin karena hujan atau tangis tadi karena kegersangan sejak lama ada mengurai sejarah kata yang lahir dari gelisah panjang tiba-tiba pelanpelan itu tiada hilang entah karena ada kata yang lebih sempurna untuk menjadi wakil bahwa airmata perlu di urai

Awalnya Bicara Pada Waktu

Oleh: Matroni el-Moezany* Ini mungkin sebuah harapan yang bagi banyak orang tidak masuk akal bahkan itu hanya permainan di atas permainan. Mengapa? Yang kita harapkan menjadi sesuatu yang lain. Entah itu karena kita belum dan menyadari bahwa itu merupakan dialektika kata Hegel. Tapi bagaimana kita menyikapi itu semua? Bahwa kegelisahan akan pikiran itu tidak bisa kita hanya dengan omongan lembut dan manis, tapi bagaimana si gelisah ingin dan mau memperhentika perjalan kegelisahan waktu yang semua berada dalam gelisah itu sendiri. Bahwa kita merasakan itu gelisah atau tidak, dengan melihat sejauh mana kemampuan sensibilitas kita meraba. Sebab tidak mudah merangkai air mata dengan alunan jari-jari malam. Aku sarankan “jangan percaya kepada bangsa yang penuh dengan nuansa politik” karena dia akan menjadi harimau untuk menerkan kita semua dengan kata-kata lembutnya. Coba saja buktikan kalau kau tidak percaya bahwa itu semua benar adanya. Aku berpikir hanya untuk waktu dan waktu itul...

-----Puisiku----

bila lincah malam kian ramping maka siapa pun akan melirik di celah daun biru walau di jalanan kosong begini bertaburan linang di atas pucuk malam aku bingung diri bulan kau simpan di rahasia waktumu ketika seribu tanya bersemayam hanya satu, hadirmu mungkin hanya lewat puisi kurangkai ayat-ayatmu untuk mengatakan kesunyian dan kerinduan karena malam terkungkung oleh mataku