Postingan

Terbangun Tengah Malam Setelah Bermimpi Melihat Kapal

Tahukah engkau sepasang sayap menyepi Merinai simbol perjalanan mimpi sebagai waktu Sebagai pernak-pernik ungkapan bahasa surau Dan pasir mengisi tepian melihat sayap mengalir seperti air Yk, 28 Mei 09

Kekuatan Kata-Kata dalam Puisi

Oleh: Matroni el-Moezany* Salah satu masalah praktis yang diharapi oleh penyair dalam membaca puisi di atas pentas publik adalah bagaimana penyair dapat mengadakan pembacaan di hadapan umum apalagi yang cukup panjang dengan tidak membosankan. Dalam persiapan pembacaan puisi mungkin perlu dicobakan mengadakan gladi resik sebelumnya untuk mencobakan suatu pembacaan yang menarik. Dari sana sudah terlihat bahwa membaca puisi patut dikusai oleh para pembaca atau bahkan oleh setiap penyair yang baik pada umumnya. Biasanya dengan menguasai logika, seorang pembaca sudah dapat mengurutkan pikiran-pikirannya dengan jelas dan runtut, namun hanya dengan mencoba yang akan membuat pikirannya dianggap berharga dan patut didengar atau diresapi. Adapun puisi bertujuan memancing dan menggerakkan reaksi tertentu dalam diri pendengar, jenis bahasa yang digunakan di sini adalah jenis bahasa yang kuat. Dalam puisi mengandaikan penghayatan dan penguasaan suatu masalah atau pengalaman secara intens dana meres...

Degradasi Idealisme Kultural

Oleh: Matroni el-Moezany* Sebuah persoalan dalam bidang budaya yang masih mendesak pemahaman kita ialah mengapa kebudayaan Indonesia sejak 1980-an berada dalam keadaan kurang mengembirakan, budaya kita makin tergeser, tergusur, dan tersingkir dari pusat dan puncak perhatian dan kesibukan kita sehari-hari. Ini memang bukan persoalan baru, tapi memang sudah ramai diperbincangkan pada awal 1980-an, tapi setiap ada yang mempertanyakan apa yang kini harus diperhatikan dalam sebuah kebudayaan Indonesia, saya cendrung menunjuk pada tidak lagi mementingkan kebudayaan sebagai problematika terpenting. Banyak diadakan acara musim temu budaya daerah sebagai penyangga budaya nasional bermunculan diberbagai kota seakan-akan budaya kita pada masa ini menghadapi kemunduran biarpun seorang pakar budaya masih penting, ia tak lagi penting pada 1970-an seorang pakar budaya pada masa pra-Orde Baru mungkin seperti seorang Iwan Fals, Abdurrahman Wahid atau Laksamana Soedomo. Pada 1970-an orang sudah mengeluh...

Mungkinkah

Mungkinkah? Oleh: Lestari Dewi* Pada hari yang lelah, warnet adalah tempat istirahat. Di dunia maya, aku bisa menyapa teman-teman. Cerita nostalgia, kabar bahagia, peristiwa menyedihkan, dan gambaran dunia terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar-demi lembar layar, menyusuri kota demi kota bahkan kadang-kadang kutergerak untuk melihat dunia. Teknologi memang gila. Ruang dan waktu dirangkumnya dalam satu sentuhan jemari saja. Ah, tak heran orang menyebutnya dunia maya. Jejaring ini meleburkan peristiwa dan masa. Detik-detik jam terus berjalan. Tak sadar 4 jam sudah berlalu. Aku agak kesal. Kenapa waktu berjalan sedemikian cepat. Ternyata, aku hanya memandangi computer ini. Ketika aku sadar aku sudah 4 jam, aku kesal. Hah, berapa uang yang harus kukeluarkan untuk membayar internet ini. Sambil menggerutu kecil, kumaki-maki diriku, “dasar tolol, ngapain saja kamu tadi, sudah lama gak dapat apa-apa lagi”. Aku jadi tambah capek. Biasanya habis ngenet aku refres dan pa...

Huruf Malam

Pucuk dari huruf adalah kata Kala suara menyisip dalam telinga Suara serupa rasa Menyentil di tenggorokan Terasa serupa makan rasa Seorang dara Darah yang kemudian Tak menemukan suara keterasingan Kita harus berdarah-darah Orang berdarah-darah 22,09

Hujan, Tak Boleh Pulang

Engkau bilang, karena sepi menyergapmu Takut, selalu menyeramkan Aku pun memaksa mengurai kata lembutmu Untuk diperkenankan pulang, tidur Di sini engkau bisa tidur, ucapmu merayu Setetes hujan di luar jendela Padahal malam belum lengkap Tinggal separuh untuk kita 182009

Summa Summarum

Aku tidak peduli sama sekali Pada pecahan angin merombak pagar Atau/atau kami Baik/maupun kami Yk, 12 Mei 2009